Program ini juga adalah bagian dari kampanye bahayanya sampah plastik yang sudah merusak lingkungan

Darurat sampah yang dialami bangsa Indonesia saat ini mendapat perhatian lebih dari Menpora Imam Nahrawi. Menteri asal Bangkalan, Madura ini berharap para peserta program Pemuda Peduli Lingkungan Asri dan Bersih (Pepelingasih) menjadi motivator, inisiator, pionir dan penggerak dari pengelolaan sampah menjadi barang yang produktif. 

"Program ini sudah sejak tiga tahun lalu berawal dari keprihatinan untuk menyelamatkan lingkungan dari penumpukan sampah dan ini harus dimulai dari kita semua khususnya pemuda Indonesia secara keseluruhan," kata Menpora usai membuka acara Pembekalan kepada 98 Pemuda Peduli Lingkungan Asri dan Bersih dari 34 Provinsi di Camp Hulu Cai, Bogor, Jawa Barat, Selasa (9/7) malam.

Para pemuda yang menjadi peserta ini menurutnya telah dipantau, mereka telah memiliki ketrampilan dan karya di bidang pengelolaan sampah. "Para pemuda ini kita dorong agar menjadi motivator, inisiator dan bahkan memanfaatkan sampah diolah menjadi hal produktif bahkan menjadi kehidupannya, program ini adalah bentuk partisipasi Kemenpora untuk mendorong pemuda agar menjadikan sampah menjadi hal yang menjadi nilai jual," tambahnya didampingi Deputi Pemberdayaan Pemuda Faisal Abdullah dan Staf Khusus Kerjasama dan Komunikasi Zainul Munasichin.

Menpora berharap para pemuda peserta nantinya dapat langsung terjun ke tengah masyarakat menjadi pionir dan penggerak sadar lingkungan. "Program ini juga adalah bagian dari kampanye bahayanya sampah plastik yang sudah merusak lingkungan, ini harus dilakukan secara terbuka karena keselamatan lingkungan berarti keselamatan masa depan generasi kita," katanya.

Program ini lanjut Menpora membuka peluang agar dapat dikerjasamakan dengan kementerian/lembaga lainnya. "Ini tidak bisa berjalan sendiri harus bekerjasama dengan K/L lain seperti Kementerian Lingkungan Hidup, Barekraf, perbankan atau pengusaha yang bisa mendukung mereka, ini adalah terobosan besar agar para anak muda tidak bergantung menjadi Pegawai Negeri Sipil tapi memanfaatkan kanan-kirinya menjadi hal yang produktif," tutur Menpora.

"Saya berharap tahun-tahun selanjutnya program ini dapat terukur dan langsung dilaksanakan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah agar beradaptasi langsung agar tahu baunya langsung cara memilah sampah kering dan plastik seperti apa," lanjutnya.

Pada acara yang mengangkat tema Aksi Pemuda Mewujudkan Indonesia Bebas Sampah pada 2030 ini turut menghadirkan beberapa narasumber yang kompeten dibidangnya seperti Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK, Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Tokoh Betawi Sungai Pesanggrahan Babeh Idin, Founder Lentera Bumi Nusantara Ricky Elson, Tenaga Ahli Bidang Keamanan Lingkungan Abrar Prasodjo serta Ketua Umum World Clean Up Indonesia Agustina, Founder Salam Kita Ranitya Nurlita, Delegasi Ecosoc Kemenpora 2019 Swietenia dan lainnya.

"Selama tiga hari kedepan para peserta akan mendapatkan berbagai ilmu dan ketrampilan dalam pengelolaan dan pemilihan sampah seperti pemanfaatan limbah kertas menjadi kerajinan yang bernilai tinggi, pembuatan Eco Brick, Nirmala Zero Waste tanpa tempat pembuangan akhir, pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun cuci dan sukses beternak belatung," kata Asdep Peningkatan Kapasitas Pemuda I Gusti Putu Raka Pariana. 

Program Pepelingasih adalah pengembangan dan kelanjutan dari Program Pemuda Peduli Sungai (PPS) dalam Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang pernah dilaksanakan pada 27 Agustus 2016 di Muara Sungai Ciujung Serang, Banten yang diikuti 1500 pemuda setempat. Dengan Program ini Kemenpora juga membantu mewujudkan Nawa Cita Presiden Indonesia dan amanat UU Nomor 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah.