Investigasi dilakukan tim Dinas ESDM Kalimantan Timur bersama inspektur tambang Kementerian ESDM

Korban tewas di kolam bekas tambang Samarinda, Kalimantan Timur terus bertambah. Tercatat, sudah 35 anak yang meninggal dunia di kolam bekas tambang itu.

Kasus terbaru dialami Ahmad Setiawan (10). Bocah kelas IV SD itu ditemukan meninggal di kolam bekas tambang di kampung Pinang, sekitar rumahnya, Sabtu (22/6) sore. Diduga, kolam menganga tanpa plang peringatan itu milik perusahaan tambang PT IBP.

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur menginvestigasi kasus meninggalnya Ahmad Setiawan (10). Namun, Tim ESDM menilai meninggalnya Ahmad, dinilai sebagai kelalaian orangtua dalam mengawasi anaknya.

Investigasi dilakukan tim Dinas ESDM Kalimantan Timur bersama inspektur tambang Kementerian ESDM, mulai Minggu (23/6). Hasil sementara, kolam bekas tambang itu diketahui bekas konsesi PT IBP, di mana izin kontrak Pemegang Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dikeluarkan Kementerian ESDM.

"Diduga milik PT IBP. Soal PKP2B kan kewenangan Kementerian ESDM. Saya laporkan ini, karena kewenangan Kementerian ESDM memberi sanksi," kata Kadis ESDM Provinsi Kalimantan Timur, Wahyu Widhi Heranata, dalam penjelasan dia di kantornya, Jalan MT Haryono, Samarinda, Senin (24/6).

Di sisi lain, dari hasil investigasi sementara tim Dinas ESDM Kalimantan Timur, Wahyu juga telah melaporkan hasilnya kepada Gubernur Kaltim Isran Noor, pagi tadi.

"Kalau bicara siapa salah siapa benar, yang pertama salah orangtuanya, karena harus mengawasi anaknya. Misal saya, sebagai orangtua, saya harus awasi anak saya. Apalagi, anak masih di bawah umur. Yang kedua, baru lingkungan, ada pemerintah ada lingkungan dia (korban bocah Ahmad). Bisa saja (pemerintah salah). Tapi nanti dulu, itu kan (PT IBP) adalah PKP2B," sebut Wahyu.

Disinggung soal penandatanganan pakta integritas 20 Juni 2016 di Balikpapan yang diikuti tidak kurang 100 perusahaan tambang untuk berkomitmen menjaga lubang bekas tambangnya dan pemberian sanksi apabila tidak diindahkan, Wahyu punya jawaban.

"Oh iya, itu harus diikuti. Kalau perlu, tempel di jidat. Soal keseriusan (mematuhi pakta integritas), saya akan evaluasi. Kan saya di sini (menjabat sebagai Kadis ESDM) baru 1 tahun, dan saya mencoba membenahi rumah saya dulu (Dinas ESDM Kalimantan Timur)," kata Wahyu.