Sebelum menjalani pemeriksaan di KPK, Sofyan Basir diperiksa Kejaksaan Agung untuk kasus korupsi yang berbeda.

Direktur Utama PLN nonaktif, Sofyan Basir, akhirnya ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi. Tersangka suap proyek PLTU Riau-1 itu ditahan usai menjalani pemeriksaan sekitar empat jam di KPK.

Sebelum menjalani pemeriksaan di KPK, Sofyan Basir diperiksa Kejaksaan Agung untuk kasus korupsi yang berbeda.

Sofyan Basir menyelesaikan pemeriksaan penyidik sekitar pukul 23.30 WIB. Dengan tangan diborgol, Sofyan Basir keluar dengan mengenakan rompi tahanan berwarna oranye dan langsung digiring ke mobil tahanan.

"Nggak usah ya, doain ya, pokoknya ikuti proses," kata Sofyan singkat saat keluar Gedung KPK.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, mantan Dirut BRI itu menjalani masa penahanan pertamanya untuk 20 hari ke depan di Rumah Tahanan (Rutan) belakang Gedung Merah Putih KPK, Jakarta.

"SFB (Sofyan Basir) ditahan 20 hari pertama di Rutan cabang KPK di belakang gedung Merah Putih Kavling K-4," ujar Febri.

Penasihat hukum Sofyan Basir, Soesilo Aribowo menyayangkan langkah penyidik yang menahan Sofyan menjelang Lebaran. Padahal, Soesilo berharap Sofyan ditahan setelah Ramadan.

"Sebenarnya sangat disayangkan ya terjadi penahanan terhadap klien saya di bulan puasa seperti ini. Sebenarnya kami ingin nanti setelah lebaran begitu," kata Soesilo usai mendampingi Sofyan di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta.

Dari awal pemeriksaan Sofyan sebagai tersangka, Soesilo sudah memastikan kliennya akan kooperatif menjalani proses hukum di KPK. Hal ini dibuktikan dengan mencabut gugatan praperadilan terhadap KPK.

"Justru itu kemarin kita berpikir Pak Sofyan cobalah kita ingin fokus pada pokok perkaranya saja, jadi ya itu, tapi sangat sayang ini terjadi penahanan di akhir puasa," kata dia.

Selain itu, Soesilo mengatakan, Sofyan Basir belum berencana mengajukan diri sebagai justice collabolator (JC). Menurutnya, terkait JC itu masih perlu pembahasan terlebih dahulu.

"Untuk JC tentu kita akan berdiskusi matang dengan Pak Sofyan. Bagian-bagiannya mana kita belum tahu, kita belum sampai sana," ujar Soesilo.

Dalam pusaran kasus ini, Sofyan ditetapkan KPK sebagai tersangka. Sofyan diduga membantu mantan anggota DPR Eni Maulani Saragih mendapatkan suap dari pengusaha Johanes Budisutrisno Kotjo. Kotjo merupakan pengusaha yang berniat menggarap proyek PLTU Riau-1, yang meminta bantuan Eni mendekati pihak PLN.

Baik Eni maupun Kotjo pada akhirnya telah divonis bersalah. Di sisi lain, KPK juga menetapkan Idrus Marham sebagai tersangka lantaran diduga membantu Eni serta turut aktif meminta suap ke Kotjo. Saat ini Idrus tengah mengajukan banding atas vonis 3 tahun penjara yang telah dijatuhkan padanya.