Sentimen dari mixednya gerak indeks di bursa saham Asia membuat IHSG sulit mempertahankan gerak positifnya.

Sesi perdagangan  pertengahan pekan ini, Rabu (24/4) di bursa saham Indonesia  akhirnya ditutup dengan gerak indeks harga saham gabungan (IHSG) di zona merah setelah konsisten menapak penurunan di sepanjang sesi perdagangan. Pantauan menunjukkan, gerak konsisten IHSG di zona merah yang berseiring dengan  gerak melemah nilai tukar mata uang Rupiah di pasar valuta.

Sementara pantauan terkini dari jalannya perdagangan di bursa saham utama Asia menunjukkan, gerak indeks yang masih mixed dengan indeks ASX 200 (Austrlia) yang menjadi satu-satunya indeks yang berhasil membukukan lonjakan tajam. Selebihnya bursa Asia tak mampu melanjutkan sentimen positif dari ssi perdagangan di bursa Wall Street. Indeks Nikkei (Jepang)  menutup sesi dengan melemah moderat 0,27% untuk menetap di kisaran  22.200,0, sementara indeks Hang Seng (Hong Kong) terpotong 0,53% untjuk berakhir di posisi 29.805,83, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang terkoreksi tajam 0,88% untuk terhenti di kisaran 2.201,03. Sedangkan indeks ASX 200 terlihat melompat tajam 0,99% untuk menutup sesi di 6.382,1.

Sentifmen yang kurang menguntungkan di bursa  saham Asia nampaknya membuat IHSG kurang percaya diri untuk mempertahankan gerak naik signifikan yang dibukukan pada sesi perdagangan kemarin. IHSG akhirnya menutup sesi hari ini dengan melemah moderat 0,23% untuk terhenti di posisi 6.447,88. Gerak IHSG terlihat konsisten di rentang terbatas di sepanjang sesi perdagangan hari ini.

Dari jalannya sesi perdagangan di Jakarta juga terlihat, gerak saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berdasar nilai perdagangan berada di rentang yang cenderung terbatas.  Saham unggulan seperti  BBRI, TLKM, UNVR, BBTN,  JPFA, WSBP,  HMSP serta CPIN terlihat menuruni tangga koreksi. Sementara sejumlah saham unggulan lain terlihat mampu bertahan positif seperti: PTBA, GGRM, UNTR, serta JSMR.

Gerak melemah IHSG terlihat berseiring dengan laporan dari pasar valuta, di mana nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar AS dilaporkan konsisten menginjak zona pelemahan di sepanjang sesi perdagangan. Pantauan juga menunjukkan, hampir seluruh mata uang Asia yang terjebak di zona merah dalam menjalani sesi perdagangan  kali ini. Mata uang Asia hanya menyisakan Yuan China yang masih mampu bertahan di zona penguatan terbatas.  Hingga sesi perdagangan sore ini, Rupiah tercatat diperdagangkan di kisaran Rp14.100 per Dolar AS atau melemah 0,21%. Sementara pelemahan terdalam mata uang Asia terjadi pada Peso Filipina yang terkoreksi 0,28%.

Sentimen dari semakin menguatnya indeks Dolar AS terlihat menjadi pukulan telak  bagi sejumlah mata uang Asia kali ini. Hal ini juga ditambah dengan gerak harga minyak yang terus melambung hingga sempat menembus level $66-an per barel.