Gubernur Ridwan Kamil mengatakan angka kriminalitas di Jawa Barat (Jabar), lebih rendah dibandingkan provinsi lain pada tahun 2022. Menurut Emil -- demikian dia biasa disapa -- hal itu sangat berpengaruh terhadap investasi.

Hal itu disampaikan Emil saat memberi sambutan pada peresmian Gedung Rawat Inap Rumah Sakit Bhayangkara Indramayu, Gedung Dit Samapta, dan Gedung Dit Tahti Polda Jabar, Selasa (28/02/2023). 

Dikatakannya, ada 7.000 kasus kejahatan terjadi di Jabar sepanjang 2022. Dari data yang disampaikan, urutan pertama ditempati Sumatera Utara yang mencapai 36.534, kedua DKI Jakarta 29.103, ketiga Jawa Timur 19.257, keempat Sulawesi Selatan 14.636, kelima Sumatera Selatan 13.037, dan Jabar kesembilan 7.502.

"Tingkat kejahatan di Jawa Barat terhadap 50 juta penduduk, hanya 7 ribuan (kasus kejahatan). Provinsi lain penduduk hanya 10 juta, penduduknya 16 juta, kejahatannya 30 ribu, kita yang 50 juta jiwa ini dijaga rasa aman dan nyaman," kata Emil.

Lebih jauh Emil menuturkan, kasus kejahatan diakuinya masih ada di Jawa Barat, namun angkanya bisa ditekan. 

"Ada (kejahatan), kita bentengi dengan agama dan moral, kejahatan selalu ada tapi jumlahnya ditekan," ujarnya.

Orang nomor satu di Jawa Barat ini menjelaskan, keamanan Jabar berpengaruh pada pertumbuhan investasi. Ia pun tak menyangkal adanya PHK di Jawa Barat, tapi itu tertutup dengan adanya lapangan kerja yang tersedia.

"Investor paling betah di Jawa Barat, 5 tahun berturut-turut investasi tertinggi di Republik ini di Jawa Barat, pecah rekor tahun lalu Rp 175 triliun, Rp 1 triliun sama dengan 1.000 lapangan pekerjaan. Memang ada PHK karena ekonomi global sedang resesi, tapi dikonpensasi dengan banyaknya lowongan pekerjaan," ungkapnya.

Pada tahun 2022, Ridwan Kamil juga menuturkan angka kemiskinan di Jawa Barat turun. Itu jadi catatan positif tersendiri. 

"Turunnya kemiskinan di Tanah Pasundan ini tertinggi, tercepat, terbanyak turunnya, alhamdulillah, ini kerja kita bersama," tuturnya.

Ridwan Kamil juga menurunkan, keamanan harus tetap terjaga karena berpengaruh pada pertumbuhan industri. 

"Industri terbanyak di Indonesia, 60 persennya di Jawa Barat. Satu provinsi memiliki 60 persen seluruh industri di negeri ini. 40 persennya tersebar di 30 sekian provinsi lainnya," pungkas Emil.