Tragedi Minamata membuka mata dunia mengenai bahaya merkuri untuk kesehatan dan lingkungan hidup.

PENGGUNAAN merkuri dalam pertambangan emas tradisional telah dilarang sejak beberapa tahun lalu, ketika Pemerintah Indonesia besama 120 negara lain meratifikasi Konvensi Minamata mengenai Merkuri pada 10 Oktober 2013.  Namun, hingga kini penggunaan merkuri sebagai bahan kimia pemisah bijih emas dari bebatuan, masih tetap berlangsung. 

Beberapa tahun lalu, Aceh pernah dihebohkan dengan kelahiran bayi yang cacat akibat sang ibu terpapar merkuri dari air sungai di Krueng Sabee, Aceh Jaya. Para penambang emas di Aceh Jaya dan Geumpang yang mulai beroperasi sejak 2007 dilaporkan membuang sisa limbah merkuri ke sungai. Ikan-ikan juga ditemukan mati terapung saat itu. 

Konvensi Minamata lahir dipicu tragedi kemanusiaan akibat pencemaran merkuri di Teluk Minamata, Jepang pada akhir 1950-an.  Tragedi Minamata membuka mata dunia mengenai bahaya merkuri untuk kesehatan dan lingkungan hidup.

Pada tahun 1972, perwakilan dari Konferensi Stockholm mengenai Lingkungan Manusia menyaksikan seorang siswa Jepang, Shinobu Sakamoto, cacat akibat keracunan metilmerkuri sejak dalam kandungan. 

Konvensi Minamata adalah pakta internasional yang didesain untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan dari emisi dan pelepasan antropogenik merkuri dan senyawa merkuri.

Penandatanganan Konvensi Minamata ini dilakukan dalam suatu konferensi diplomatik untuk merkuri yang dipimpin oleh Menteri Lingkungan Hidup Jepang, Nobuteru Ishihara. Delegasi Indonesia dipimpin langsung Menteri Lingkungan Hidup.

Konvensi Minamata mengatur tentang perdagangan produk merkuri dan prosesnya, pertambangan emas skala kecil, pengelolaan limbah merkuri, pendanaan penanggulangan dampak pencemaran merkuri, serta transfer teknologi.

Indonesia telah melahirkan  Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pengesahan Konvensi Minamata Mengenai Merkuri yang diteken Presiden Jokowi

Bagi para penambang emas skala kecil, konvensi tersebut melindungi kesehatan para penambang emas dengan mendorong kerja sama antarnegara untuk mencegah penyelundupan merkuri. Di lain pihak, konvensi tersebut juga mendorong kerja sama antarnegara untuk membantu mereka beralih ke bahan dan teknologi yang lebih aman.

Penyakit minamata akibat keracunan merkuri menyerang sistem saraf; tidak hanya menyebabkan penderitaan dan kematian korban, tetapi juga mewariskan dampak kepada anak-anak yang dilahirkan dalam keadaan cacat. 

Oleh karena itulah, Indonesia harus segera mengurangi, bahkan menghilangkan penggunaan merkuri pada kegiatan industri, termasuk yang digunakan pada pertambangan emas skala kecil.

Setelah Konvensi Minamata ditandatangani, akan dilakukan "entry into force" pada 2017. Artinya, konvensi itu wajib diadopsi dalam sistem hukum negara yang menandatanganinya. Indonesia telah melahirkan  Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pengesahan Konvensi Minamata Mengenai Merkuri yang diteken Presiden Jokowi. 


Bijih emas yang telah dipisahkan dari material bebatuan

Isi Undang-undang Merkuri 

Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, merkuri sebagian besar digunakan pada pertambangan emas skala kecil, yang diidentifikasi pada sejumlah 850 kawasan yang tersebar di 197 kota/kabupaten di 32 provinsi, dengan jumlah penambang lebih dari 250 ribu orang. 

UU Merkuri berisi 35 pasal, dan 5 lampiran, yang memuat 4 (empat) bagian utama, yaitu: 
1. Pengaturan operasional, memuat kewajiban mengurangi emisi dan lepasan Merkuri dan senyawa Merkuri antropogenik ke media lingkungan.
2. Dukungan bagi negara pihak dalam sumber pendanaan, peningkatan kapasitas, bantuan teknis dan alih teknologi, pelaksanaan dan komite pematuhan.
3. Informasi dan peningkatan kesadaran termasuk aksi mengurangi dampak merkuri.
4. Pengaturan administrasi lainnya.

Pada lampiran Undang-Undang dijelaskan tentang batasan penggunaan Merkuri, sebagai berikut:
1. Penghapusan penggunaan Merkuri pada Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK); 
2. Dihapuskan bertahap sampai 2018 pada proses asetaldehid; 
3. Dihapuskan bertahap sampai 2020 penggunaan Merkuri pada baterai, termometer dan tensimeter;
4. Dihapuskan bertahap hingga 2025 pada produksi klor-alkali; serta 
5. Penggunaan Merkuri yang masih diperbolehkan dalam jumlah tertentu, untuk perlindungan sipil dan militer, penelitian, kalibrasi instrumen, standar referensi, switch dan relay, lampu fluoresen katoda dingin (CCFL), lampu fluoresen katoda eksternal (EEFL), perangkat pengukur, produk untuk praktik tradisional atau religius; dan vaksin yang mengandung thiomersal sebagai bahan pengawet.


Mengapa Merkuri Berbahaya? 

Merkuri saat ini masih digunakan oleh berbagai industri, seperti lampu, alat ukur seperti termometer, pertambangan emas skala kecil, dan amalgam tambal gigi. Di Indonesia merkuri banyak digunakan para penambang emas kecil di Sumatera dan Kalimantan, sampai merusak kesehatan mereka. Merkuri yang diselundupkan dari luar negeri tersebut, digunakan untuk memisahkan emas dari bahan-bahan lainnya.

Merkuri atau sering disebut air raksa adalah unsur kimia dengan simbol Hg atau Hiodragyrum. Dalam penambangan emas tradisional, endapan Hg ini disaring menggunakan kain untuk mendapatkan kandungan emas. Endapan yang tersaring kemudian diremas-remas dengan tangan. Air sisa-sisa penambangan yang mengandung Hg dibiarkan mengalir ke sungai. Padahal, sungai adalah sumber kehidupan, juga sumber air untuk mengairi lahan pertanian.

Merkuri dapat terakumulasi di lingkungan dan dapat meracuni hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme. Acidic permukaan air dapat mengandung signifikan jumlah raksa. Bila nilai pH adalah antara lima dan tujuh, konsentrasi raksa di dalam air akan meningkat karena mobilisasi raksa dari dalam tanah.

Setelah mencapai permukaan air atau tanah dan bersenyawa dengan karbon, raksa membentuk senyawa Hg organik oleh mikroorganisme (bakteri) di air dan tanah. Senyawa Hg organik yang paling umum adalah methyl mercury, suatu zat yang dapat diserap oleh sebagian besar organisme dengan cepat dan diketahui berpotensi menyebabkan toksisitas terhadap sistem saraf pusat.

Bila mikroorganisme (bakteri) itu kemudian termakan oleh ikan, ikan tersebut cenderung memiliki konsentrasi merkuri yang tinggi. Ikan adalah organisme yang menyerap jumlah besar methyl raksa dari permukaan air setiap hari. Akibatnya, methyl raksa menumpuk di dalam rantai makanan yang merupakan bagian dari ikan. Efeknya adalah kerusakan ginjal, gangguan perut, intestines kerusakan, kegagalan reproduksi DNA, dan perubahan.


Wujud merkuri 

Bagi manusia, pengaruh buruk merkuri di dalam tubuh adalah menghambat kerja enzim dan kemampuannya untuk berikatan dengan grup yang mengandung sulfur di dalam molekul enzim dan dinding sel.

Kerusakan tubuh yang disebabkan oleh merkuri biasanya bersifat permanen, dan sampai saat ini belum dapat disembuhkan.

Penting untuk diketahui, air raksa sangat beracun bagi manusia. Hanya sekitar 0,01 mg dalam tubuh manusia dapat menyebabkan kematian. Air raksa yang sudah masuk ke dalam tubuh manusia tidak dapat dibawa keluar.

Kontaminasi dapat melalui inhalasi, proses menelan atau penyerapan melalui kulit. Dari tiga proses tersebut, inhalasi dari raksa uap adalah yang paling berbahaya. Jangka pendek terpapar raksa uap dapat menghasilkan lemah, panas dingin, mual, muntah, diare,  dan gejala lain dalam waktu beberapa jam. Jangka panjang terkena uap raksa menghasilkan getaran, lekas marah, insomnia, kebingungan, keluar air liur berlebihan, iritasi paru-paru, iritasi mata, reaksi alergi, dari kulit rashes, nyeri, sakit kepala, dan lainnya.

Merkuri memiliki sejumlah efek yang sangat merugikan pada manusia, di antaranya sebagai berikut:

1. Keracunan oleh merkuri non-organik terutama mengakibatkan terganggunya fungsi ginjal dan hati.

2. Mengganggu sistem enzim dan mekanisme sintetik apabila berupa ikatan dengan kelompok sulfur di dalam protein dan enzim.

3. Merkuri (Hg) organik dari jenis methyl mercury dapat memasuki plasenta dan merusak janin pada wanita hamil sehingga menyebabkan cacat bawaan, kerusakan DNA, dan kromosom, mengganggu saluran darah ke otak serta menyebabkan kerusakan otak.

Karena bahayanya proses raksa bagi kesehatan dan lingkungan yang serius, larangan penggunaannya semakin ketat. Pada 1988, diperkirakan 24 juta lb/yr dari raksa yang dilepaskan ke udara, tanah, dan air di seluruh dunia sebagai hasil aktivitas manusia. Ini termasuk raksa yang dilepaskan oleh pertambangan raksa dan perbaikan berbagai operasi manufaktur, dengan pembakaran batu bara, dan sumber lainnya.

Pada 1980-an, dengan meningkatnya pemahaman dan kesadaran akan dampak penggunaan air raksa yang lebih banyak membahayakan kesehatan dan lingkungan daripada manfaat, penggunaannya mulai menurun drastis.

Pada 1992, raksa yang digunakan dalam baterai telah menurun menjadi kurang dari 5% dibandingkan dengan tahun 1988, dan secara keseluruhan digunakan dalam perangkat listrik dan cahaya bulbs telah turun 50% pada periode yang sama. Penggunaan raksa produksi cat, fungisida, dan pestisida telah dilarang di Amerika Serikat, dan penggunaannya dalam pengerjaan dan proses produksi kaca secara sukarela telah dihentikan.

Di seluruh dunia, produksi raksa hanya dibatasi untuk beberapa negara dengan undang-undang lingkungan hidup. Di Spanyol, semua pertambangan merkuri telah dihentikan. Spanyol pernah menjadi produsen merkuri terbesar di dunia sampai 1989.

Di Amerika Serikat, raksa pertambangan juga telah dihentikan meskipun dalam jumlah kecil. Cina, Rusia (dulu dikenal dengan USSR), Meksiko, dan Indonesia merupakan produsen terbesar raksa pada 1992.

Di Amerika Serikat, Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) telah melarang penggunaan raksa untuk banyak aplikasi.

Merkuri masih sebuah komponen penting di banyak produk dan proses walaupun penggunaannya diharapkan terus menurun. Untuk itu, penanganan yang tepat dan daur ulang raksa diharapkan signifikan mengurangi pelepasan raksa ke lingkungan sehingga mengurangi bahaya kesehatan.

Belajar dari tragedi di Minamata, saatnya bangsa Indonesia menaruh perhatian serius terhadap penggunaan merkuri di Indonesia.[]

Lihat juga:
UU Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pengesahan Konvensi Minamata Mengenai Merkuri