Tren jual saham TINS masih sangat solid.

Panen besar sesungguhnya telah terjadi pada kinerja harga saham PT Timah Tbk., sejak sesi perdagangan awal tahun ini. Dengan membentuk tren penguatan jangka menengah, gerak harga saham yang diperdagangkan dengan kode TINS tersebut akhirnya menjalani rally cukup panjang hingga mencapai harga termahalnya di Rp1.645 per per lembarnya pada sesi perdagangan 26 Februari lalu.

Pola pergerakan harga saham TINS sesungguhnya memperlihatkan tren beli jangka menengah yang telah mencapai puncak kejenuhan pada sesi 7 Februari lalu, namun usai kejenuhan tren beli memuncak, gerak harga secara mengejutkan melonjak kembali akibat sentimen dari harga timah dunia yang masih menguat. Namun gerak naik lanjutan tersebut terliuhat sekedar menjadi masa perpanjangan waktu bagi tren beli saham TINS, di mana usai mencetak harga tertingginya di Rp1.645, gerak harga kemudian berbalik turun curam hingga membentuk tren jual jangka menengah dengan cepat.

Grafik harian berikut akan menggambarkan dengan lebih jelas dan ringkas pola gerak harga saham TINS:  

Secara efektif, tren jual jangka menengah terbentuk pada sesi perdagangan awal pekan ini dengan ditunjukkan oleh garis MA-Signal menembus ke bawah batas teknikal psikologisnya. Gerak harga saham TINS kemudian berlanjut turun, namun dalam dua hari terakhir sesi perdagangan pekan ini harga TINS justru mampu membukukan kenaikan signifikan.  Pertanyaan kini mulai muncul apakah tren jual yang baru saja terbentuk mulai rawan untuk segera berakhir ataukah gerak naik dua hari ini sekedar pullback dini yang jumlahnya tidak terlalu siginifikan.

Namun sebagaimana dimuat dalam ulasan sebelumnya, tren jual yang terbentuk awal pekan ini pada saham TINS sesungguhnya sangat solid.  Hal ini terlihat dari cukup renggangnya jarak yang terentang antara titik P-Sar dengan garis MA-Signal. Kompresi pada dua indikator tersebut hingga kini masih terlalu jauh dan oleh karenanya masih terlalu dini untuk melakukan aksi akumulasi pada saham TINS untuk saat ini.

Untuk mengakhiri tren jual jangka menengah saham TINS, setidaknya masih dibutuhkan kejenuhan tren jual yang memuncak, yang ditunjukkan terjadinya kompresi pada jarak antara dua indikator tersebut. Namun situasi teknikal memperlihatkan masih jauhnya kejenuhan tren jual untuk terbentuk.  Oleh karenanya, gerak naik saham TINS dalam dua hari sesi terakhir sebenarnya masih sangat wajar dalam tinjauan teknikal, dan  bukan sebuah gerak harga yang mengancam tren jual yang sedang berlangsung.