Johnson&Johnson sejauh ini telah menghadapi lebih dari 13.000 tuntutan hukum terkait produk bedaknya

Produsen bedak Johnson&Johnson kembali berurusan dengan hukum. Mereka dituntut seorang wanita yang mengaku terkena kanker usai memakai bedak Johnson&Johnson.

Juri Pengadilan California mengabulkan tuntutan wanita tersebut. Juri memerintahkan perusahaan Johnson&Johnson membayar ganti rugi sebesar US$29 juta atau sekira Rp414,2 miliar dan ada kandungan asbes dalam produk bedak Johnson&Johnson.

Itu adalah kekalahan terbaru bagi perusahaan yang selama ini telah banyak menghadapi tuntutan serupa. Johnson&Johnson menyangkal tuduhan bahwa bedaknya menyebabkan kanker, dengan mengatakan banyak penelitian dan tes oleh regulator di seluruh dunia telah menunjukkan bahwa taleknya aman dan bebas asbes.

Perusahaan yang berbasis di New Jersey itu berencana mengajukan banding.

"Kami menghormati proses hukum dan menegaskan kembali bahwa putusan juri bukanlah kesimpulan medis, ilmiah atau peraturan tentang suatu produk," kata perwakilan perusahaan dalam sebuah pernyataan, dilansir dari laman CNBC.

"Kami kecewa dengan putusan dan akan mengajukan banding karena Johnson's Baby Powder tidak mengandung asbes atau menyebabkan kanker," lanjutnya.

Johnson&Johnson sejauh ini telah menghadapi lebih dari 13.000 tuntutan hukum terkait produk bedaknya. Tahun lalu hakim Los Angeles meminta perusahaan membayar ganti rugi sebesar US$21,7 juta (Rp310 miliar) kepada seorang wanita dalam kasus serupa.

Johnson&Johnson juga kehilangan mosi untuk membalikkan putusan juri yang mengharuskan mereka membayar US$ 4 miliar (Rp57 triliun) kepada 22 wanita yang melayangkan tuntutan kepada perusahaan.

Produk bedak Johnson&Johnson kembali diluncurkan untuk menarik minat para ibu, namun diyakini produk tersebut tidak lagi diminati konsumen yang mulai beralih ke produk berbahan dasar alami dari merk-merk baru.