Gerak naik saham SMRA dalam tiga hari sesi perdagangan terakhir terlihat rentan.

Setelah mampu menapak tren penguatan harian dalam waktu cukup panjang, gerak harga saham PT Summarecon Agung Tbk.,  akhirnya mulai berbalik membentuk tren jual jangka  menengah sejak 12 Februari lalu.  Saham yang diperdagangkan dengan kode SMRA tersebut sesungguhnya telah kelelahan menapak kenaikan konsisten yang berlangsung sejak pekan terakhir Desember tahun lalu.

Berkat tren beli jangka menengah yang terbentuk pekan terakhir tahun lalu itu, saham SMRA berhasikl mencetak harga termahalnya di sesi perdagangan 24 Januari klalu ketika ditransaksikan di kisaran Rp1.070 per lembarnya. Usai mencetak harga termahalnya itu, gerak harga SMRA terlihat terkonsolidasi untuk kemudian mengakhiri tren beli di grafik harian pada sesi 5 Februari lalu.

Namun gerak konsolidatif yang terjadi kemudian ternyata cenderung konsisten melemah hingga pada sesi 13 Februari lalu gerak harga saham SMRA beralih ke tren jual jangka menengah yang berlangsung hingga sesi perdagangan sepanjang pekan ini.  Dari sini persoalan menjadi menarik, karena dalam tiga hari sesi perdagangan terakhir harga saham SMRA terlihat mampu membukukan kenaikan signifikan secara beruntun.

Untuk lebih ringkasnya, berikut grafik harian saham SMRA beserta sejumlah indikator teknikalnya:

 Tren jual yang masih berlaku hingga kini terlihat masih cukup solid, dengan ditunjukkan oleh jarak yang terentang antara titik P-Sar dengan garis MA-Signal yang masih renggang. Sementara akibat gerak naik tiga hari sesi perdagangan terakhir telah membuat indikator garis MA-Signal agak mendongak, namun masih diperlukan waktu untuk setidaknya mengakhiri tren jual jangka menengah.

Serangkaian situasi teknikal yang terlihat di atas sesungguhnya masih menunjukkan rentannya gerak naik yang terjadi dalam tiga hari sesi perdagangan terakhir. Terlebih pada indikator ADX, di mana posisi ADX yang berada di kisaran 13 menunjukkan masih belum adanya tren. Akibatnya gerak naik yang terjadi  masih terlalu rapuh untuk segera terhantam tekanan jual yang cukup besar dengan ditunjukkannya posisi titik P-Sar yang masih kukuh di atas candle.

Dengan tren jual yang masih solid, gerak naik yang terjadi dengan demikian  menjadi peluang ideal untuk keluar dari saham ini. Namun demikian investor juga masih perlu mengantisipasi pembalikan tren menuju tren beli jangka menegah. Perhitungan sederhana menunjukkan, saham SMRA akan membentuk tren beli jangka menengah bila mampu bergerak konsisten di atas kisaran Rp930 per lembarnya selama enam hari sesi perdagangan. Jika  hal ini terjadi maka investor perlu bersiap untuk melakukan aksi akumulasi dengan cepat, terlebih bola terjadi gerak pullback.