Tren jual jangka menengah nilai tukar Rupiah kini semakin kukuh dengan gerak turun di akhir pekan ini.

Sesi perdagangan akhir pekan ini di pasar valuta menunjukkan kabar muram dari nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar AS. Laporan terkini menyebutkan gerak nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang kembali tergelepar dalam zona merah dengan melemah moderat untuk kembali menembus level psikologisnya di Rp14.300 per Dolar AS.

Titik terlemah Rupiah bahkan terpantau di kisaran Rp14.310 per Dolar dalam mengawali sesi perdagangan pagi ini. Gerak melemah pada sesi akhir pekan ini membawa konsekuensi teknikal yang serius, yaitu kukuhnya tren jual jangka menengah yang telah terbentuk sejak pekan lalu.   Tinjauan teknikal terkini juga menunjukkan, tren jual yang mendera Rupiah masih cukup solid dengan jarak yang terentang antara indikator titik P-Sar dengan garis MA-Signal yang masih merenggang.

Situasi teknikal tersebut masih ditambah lagi dengan pola gerak candle yang kini masih sempurna di atas garis MA-Signal yang sekaligus menunjukkan  masih kukuhnya tekanan jual jangka pendek. Secara  keseluruhan, tren jual jangka menengah yang telah terbentuk akhirnya cukup solid, di mana sekaligus mengindikasikan prospek lebih muram bagi Rupiah untuk melanjutkan gerak melemahnya dalam beberapa hari sesi perdagangan ke depan.

Sementara kabar terkini dari pasar valuta menunjukkan, gerak nilai tukar mata uang Asia yang menguat dalam kisaran yang bervariasi.  Rupiah dengan demikian tercatat sebagai satu-satunya mata uang Asia yang mengalami pelemahan dalam menjalani sesi perdagangan pagi ini.  Pantauan juga menunjukkan, gerak melemah Rupiah kali ini yang hanya ditemani oleh mata uang Ringgit Malaysia yang melemah dalam rentang sangat tipis.

Mata uang Ringgit Malaysia bahkan sangat mungkin untuk beralih ke zona penguatan menyusul sangat tipisnya pelemahan yang mendera.  Sedangkan dua mata uang Asia lain yang akhir-akhir ini sedang mendapatkan sorotan, Peso Filipina dan Rupee India, tercatat mampu bertahan di zona penguatan. Untuk dicatat, dua mata uang tersebut menjadi sorotan pelaku pasar akhir-akhir ini berkat serangkaian langkah kontroversial yang berani  oleh masing-masing negara.

Peso Filipina mendapat sorotan karena sentimen Presiden Duterte yang menunjuk orang dekatnya sebagai Gubernur Bank sentral negeri itu yang dikhawatirkan akan lebih akomodatif dalam mendukung kebijakan ambisi pembangunan dengan memotong suku bunga. Sementara sentimen tak jauh berbeda dengan Rupee India dengan Perdana Menteri India Narendra Modi menunjuk Gubernur Bank sentral India  yang  kemudian secara mengejutkan memangkas suku bunga acuan guna memacu pembangunan sebagaimana diambisikan pemerintahan Narendra Modi.