Warga diminta jual rumah dan asetnya serta membeli pedang seharga Rp1 juta.

Warga Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dihebohkan dengan kabar kiamat sudah dekat. Akibatnya 52 warga desa tersebut berbondong-bondong pindah ke Malang.

Sogi, sang perangkat desa, mengakui warga tak hanya pindah. Tapi juga sampai menjual rumah dan aset berupa ternak yang mereka miliki.

Menurut Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, warga mulai pindah ke Malang setelah ada satu orang yang menyebarkan isu kiamat dari rumah ke rumah. Isu ini beredar sejak dua bulan yang lalu.

Warga juga diminta untuk menjual aset yang mereka miliki untuk bekal di akhirat atau dibawa dan disebarkan di pondok. Warga dibuat percaya bahwa mereka tidak akan terkena kiamat jika bergabung.

"Mereka juga sampaikan kalau masuk ke jemaah ini maka ketika dunia ini kiamat mereka tidak ikut kiamat," kata Ipong.

Tak hanya itu, kata Ipong, penyebar aliran itu juga menyatakan Ramadan yang akan datang akan ada huru-hara atau perang. Untuk itu jamaah diminta membeli pedang kepada kyai seharga Rp 1 juta.

"Bila tidak membeli pedang diminta menyiapkan senjata di rumah. Ini tidak masuk semua," kata Ipong.

Ipong mengatakan pengikut kyai asal Kasembon itu tidak hanya berasal dari Ponorogo saja. Informasinya ada juga yang berasal dari berbagai kabupaten di Jawa Timur.

Namun, Camat Kasembon Kabupaten Malang, Hendra Trijahjono menyatakan hijrahnya warga Ponorogo tersebut bukan karena isu kiamat sudah dekat.

"Memang ada jemaah-jemaah di sana. Itu [berdasarkan] keterangan dari pondok [pesantren], persiapan jelang kegiatan bulan Ramadan. Peningkatan jemaah biasa terjadi setiap tahun jelang bulan Ramadan," kata Hendra.

Para petinggi Musyawarah Pimpinan Kecamatan di Kasembon, katanya, sudah mengklarifikasi langsung kepada Gus Muhammad Romli, pemimpin Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kasembon, Kabupaten Malang, kemarin. Pesantren itulah yang akan didatangi puluhan warga Ponorogo.

Gus Romli, katanya, berdasarkan klarifikasi itu, memang mengakui ada peningkatan jumlah jemaah, tetapi itu berkaitan dengan kegiatan keagamaan menjelang Ramadan, bukan karena fatwa kiamat sudah dekat.

Di pesantren itu kini sudah ada imbauan dan bantahan tentang fatwa kiamat sudah dekat. Menurutnya, Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin, yang di bawah naungan Nahdlatul Ulama, menganut ajaran Islam moderat Ahlusunah wal Jamaah.

"Aktivitas di pondok itu Ahlusunah wal Jamaah, juga ada tarekat-tarekat. Pondok ini mengakui masih di bawah naungan NU. Dan dia (Gus Romli) sosok yang mendukung NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia); Pancasila harga mati, tidak ada paham radikal," ujarnya.

Polres Batu juga membantu meluruskan simpang siur ini. Kapolres Batu, AKBP Budi Hermanto SIK MSi menjelaskan bahwa kabar tersebut adalah hoaks dan menimbulkan ketakutan, serta merugikan pondok pesantren.


Ini Sosok Penyebar Isu Kiamat Sudah Dekat
Sosok penyebar isu fatwa kiamat sudah dekat pun akhirnya terungkap. Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, menjelaskan ajaran ini dibawa oleh warga bernama Katimun setelah selesai menimba ilmu di Malang dua bulan lalu. Katimun sendiri mendatangi rumah-rumah dan memengaruhi warga untuk mengikuti ajaran yang dianutnya.

"Ini memang cukup unik dan banyak tidak masuk akal. Mereka katanya nanti seperti pengikut Nabi Nuh. Barang siapa yang ikut mereka tidak akan diterjang kiamat dan selamat. Karenanya disuruh menjual seluruh hartanya," kata Bupati Ipong.

Ipong juga menyebutkan, selain itu, bulan Ramadan ini akan terjadi perang besar. Untuk itu mereka disuruh untuk membeli pedang kepada kiai itu seharga Rp1 juta.

"Dan diminta mereka mengibarkan bendera tauhid di depan rumahnya. Bahkan ada perintah kalau anaknya ikut rombongan ini sementara bapak tidak ikut maka anaknya berhak mengatakan bapaknya itu kafir," kata Ipong.

Namun, sejak menyatakan pindah ke Malang, warga tak mengetahui persis keberadaan Katimun dan nasib 52 warga Desa Watu Bonang yang sudah pindah ke kota apel tersebut.

Dua tetangganya yang bersebelahan rumah dengan tokoh yang diduga penyebar isu kiamat itu kompak mengaku tidak tahu menahu aktivitas inti pengajian Toriqoh Musa tersebut.

"Rumah saya memang dekat dengan Pak Katimun. Tetapi saya tidak tahu ceritanya seperti itu. Saya sibuk urus anak di rumah," kata Ruminah yang tinggal sebelah timur rumah Katimun.

Ruminah pun mengaku tidak tahu persisnya kapan Katimun meninggalkan rumahnya tersebut. Pasalnya, sebagai tetangga ia tidak pernah dipamiti atau dititipi rumah.


Dampaknya
Dampak isu kiamat sudah dekat ini pun sangat besar. Seorang warga Ponorogo bernama Katiyem menceritakan menantunya meninggalkan putrinya tanpa alasan yang jelas sejak Senin (4/3) pukul 22.00.

Putrinya hanya diberi pesan bahwa suaminya akan menyusul rombongan lain yang sudah lebih dulu berangkat. "Heran juga, baru saja nikah sama anak saya," kata Katiyem.

Katiyem turut bersedih mengingat umur pernikahan anaknya baru delapan bulan dan belum dikaruniai buah hati.

Sang menantu berangkat saat hujan lebat dan hanya membawa pakaian. "Sebenarnya anak saya sudah berusaha mencegah. Tetapi tidak dihiraukan oleh suaminya," ujar Katiyem.

Beruntung, menantunya itu tidak menjual harta sebelum pergi. Berbeda dengan warga lain yang telah berangkat lebih dulu. Tiga keluarga yang telah berangkat satu bulan lalu menjual tanah dan rumah beserta isinya. Hasil penjualan digunakan utuk bekal menuntut ilmu di Malang.

"Alhamdulillah harta benda yang ada di rumah tidak dijual olehnya," ujarnya.

Tak hanya itu, sebanyak 10 siswa SDN 2 Watubonang pun sampai meninggalkan sekolahnya karena ikut orangtuanya ke Malang. Bahkan tiga dari 10 siswa tersebut terancam tidak bisa ikut ujian nasional karena lama tidak masuk sekolah.

"Tidak pamit, tidak minta pindah sekolah juga. Menghilang begitu saja,” kata Taman, salah satu guru SDN 2 Watubonang.

"Ya sangat kami sayangkan. Apalagi mendekati ujian seperti ini," ujarnya.

Dia menjelaskan ke 3 siswa kelas 6 SD yang hijrah ke Malang tetap bisa mengikuti ujian. Dengan syarat mereka kembali ke Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, dalam waktu dekat.


Peringatan MUI
Ketua Majlis Ulama Indonesia Jawa Timur, Abdussomad Buchori mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya akan isu kiamat ini. Terlebih, hingga saat ini perkara kiamat masih di luar nalar manusia.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk selektif dan kritis dalam memilih guru spiritual.

"Jangan (mudah) percaya, itu urusan Allah, enggak ada yang tahu, itu urusan gaib. Memang akhir-akhir ini urusan gempa, tsunami, itu bukan kiamat. Misalnya orang Ponorogo pindah ke Malang menghindari kiamat ya nggak bisa, kiamat kan seluruh dunia," tutur Abdussomad.

Selain itu, ia meminta masyarakat untuk lebih selektif dan kritis saat memilih guru spiritual. Sebab, urusan agama dan keimanan bukanlah hal yang main-main dan lebih baik memperbanyak ibadah.

"Lagi-lagi seperti ini dimantapkan keimanannya, beribadah yang baik. Banyak guru-guru yang bisa dipercaya. Untuk apa percaya kepada hal-hal yang tidak tahu, apalagi terkait akhirat. Akhirat bukan urusan kita," ungkap Abdussomad.

"Supaya tidak gampang menerima doktrin-doktrin, sebab kiamat itu keyakinan dan termasuk rukun iman dan kejadiannya akan menimpa seluruh makhluk," tutupnya.