Boeing 737 MAX dijual rata-rata seharga US$121,6 juta atau sekitar Rp1,7 triliun per unit (kurs Rp14.000/dollar AS).

Nasib Boeing 737 MAX kini di ujung tanduk. Pascakecelakaan Ethiopian Airlines yang menggunakan pesawat berjenis sama pada Minggu (10/3), kini burung besi dari pabrikan asal Amerika Serikat itu dilarang terbang dan melintasi 55 negara termasuk Negeri Paman Sam.

Ethiopian Airlines jatuh setelah enam menit lepas landas dari Bandara Internasional Bole. Pesawat nahas yang jatuh dekat Bishoftu, sebuah kota yang berjarak 60 km dari tenggara ibu kota Addis Ababa itu menewaskan 149 penumpang dan delapan awaknya.

Kecelakaan Boeing 737 MAX 8 ini merupakan kali kedua setelah Oktober 2018 lalu, maskapai Lion Air juga mengalami hal yang sama. Lion Air jatuh setelah beberapa menit lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta.

Berdasarkan situs statista.com, seri pesawat Boeing 737 merupakan pesawat terlaris buatan pabrikan asal Amerika Serikat itu, 69 persen penjualannya dilepas ke pasar global. Boeing 737 MAX dijual rata-rata seharga US$121,6 juta atau sekitar Rp1,7 triliun per unit (kurs Rp14.000/dollar AS).

Untuk tipe pesawat termahal yang dijual pabrikan asal Negeri Paman Sam itu berjenis Boeing 777-9. Harga jualnya berkisar US$442,2 juta atau sekitar Rp6,19 triliun. Adapun seri termurahnya, yakni Boeing 737-700 dengan harga US$89,1 juta atau setara Rp1,25 triliun.

Spesifikasi

Boeing 737 Max 8 didesain sebagai pesawat yang efisien bahan bakar dan nyaman bagi penumpang dengan suasana kabin yang lebih senyap. Bahan bakar 737 Max juga diklaim lebih hemat 20 persen dibanding generasi 737 saat ini (737 NG).

737 Max akan meningkatkan kemampuan varian B737 Next Generation (NG) dengan daya jelajah terbang 340-570 mil laut lebih jauh, menjadi 3.500 mil laut (6.500 km). Dua hal itu, yakni kenyamanan dan efisiensi, bisa dicapai oleh B737 MAX 8 dengan peningkatan di sektor aerodinamika dan mesin pesawat.

Dari segi aerodinamika, B737 Max 8 mengusung desain winglet terbaru, yang dijuluki Scimitar Winglet. Ujung sayap B737 Max 8 terlihat seperti dibelah menjadi dua, satu menjulur ke atas dan satu ke bawah. Inilah ciri utama varian B737 Max. Winglet di ujung sayap berguna untuk memecah turbulensi udara yang terjadi di ujung sayap saat pesawat berjalan dalam kecepatan tinggi.

Turbulensi yang dihasilkan itu menghasilkan drag (daya hambat). Karena menghambat laju pesawat, mesin membutuhkan tenaga lebih, yang ujung-ujungnya drag ini membuat konsumsi bahan bakar boros.

Dengan winglet tambahan di ujung sayap, turbulensi udara di ujung sayap tadi bisa dipecah. Dalam uji aerodinamika, udara yang menggulung di ujung sayap terlihat menjadi lurus alirannya, meminimalkan drag. Sementara dari segi mesin, B737 Max menggunakan mesin jenis terbaru, CFM LEAP 1B.

Desain mesin ini diklaim lebih senyap dibanding generasi mesin sebelumnya, yakni CFM56. Diameter mesin CFM LEAP-1B juga lebih besar 20 cm, sehinga menurut Boeing, menghasilkan daya dorong lebih besar. Dengan demikian, konsumsi bahan bakar mesin CFM LEAP-1B diklaim 11-12 persen lebih hemat.

Biaya operasionalnya juga diklaim 7 persen lebih hemat dibanding mesin CFM56 yang dipakai varian 737 NG (Next generation). Untuk membuat kabin menjadi lebih senyap, polusi suara (noise) yang dihasilkan oleh mesin CFM LEAP-1B juga sudah diturunkan.

Caranya, Boeing membuat desain penutup mesin bergerigi di bagian belakangnya. Desain bergerigi ini (chevron-fringed) sama dengan yang dimiliki oleh mesin yang dipakai pesawat Boeing lainnya, yakni B787 Dreamliner dan B747-8 Intercontinental. Inilah ciri lain yang membedakan 737 Max dengan 737 NG.

Selain dua di atas, aerodnimaika dan mesin, terdapat juga peningkatan di sektor lain, seperti avionik, kokpit yang lebih ringkas, dan sebagainya. 

Baca juga:
Lagi, Boeing Dituding!