Barang-barang purbakala itu bernilai jutaan rupiah.

Sebuah situs kuno ditemukan di pinggir Jalan Tol Malang-Pandaan kilometer 35 seksi V, tepatnya di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Situs kuno itu diduga berasal dari masa Pra Majapahit.

Arkeolog Balai Pekestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Jawa Timur Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, berdasarkan temuan awal, baru nampak bagian dinding berupa batu bata yang tersusun menggunakan teknik batu gosok.

"Kalau dari ukuran batanya, terlihat lebih besar dari ukuran yang ada di Trowulan. Ini agak lebih besar, sehingga kemungkinan juga merujuk pada Pra Majapahit," kata Wicaksono dilansir Antara.

Wicaksono menjelaskan, peninggalan struktur batu bata tersebut, masih dalam tahap orientasi. Tahapan tersebut, diperkirakan rampung pada lima hari ke depan. Struktur yang ditemukan tersebut, biasanya dipergunakan pada bangunan seperti saluran air.

Selain temuan di lokasi tersebut, BPCB Trowulan Jawa Timur juga akan melakukan pendataan terhadap temuan-temuan oleh warga sekitar. Nantinya, warga yang menemukan pacahan-pecahan atau mata uang kuno, akan diberikan ganti untung.

"Nanti beberapa temuan dari warga akan dikumpulkan di Balai Desa Sekarpuro, untuk membicarakan masalah ganti untung bagi penemu tersebut. Sehingga sama-sama terbuka," kata Wicaksono.

Tim dari BPCB Trowulan Jawa Timur yang turun di lokasi untuk melakukan penelusuran terdiri dari teknisi pemetaan, juru gambar, tukang gali dan arkeolog, yang akan bekerja hingga Sabtu (16/3).

Penemuan situs kuno ini pun membuat heboh warga sekitar. Warga pun nekat mengambil koin emas dan peralatan rumah tangga dari situs kuno itu.

Sejumlah benda perbukala berupa potongan keramik, potongan gerabah, peralatan kuno yang terbuat dari perunggu, emas dan koin yang merupakan alat tukar, ditemukan di lokasi situs di Sekarpuro.

Para ahli menduga, seluruh benda cagar budaya itu merupakan bekas peninggalan Kerajaan Majapahit.

Menurut Ketua RT 15 RW 8 Dusun Sekaran, Kelurahan Sekarpuro, Muhammad Arifin (44) mengatakan, benda cagar budaya itu ditemukan sejak lima bulan yang lalu.

Saat alat berat pembangunan Tol Pandaan-Malang mulai melakukan pengerukan di lokasi itu, para pekerja jalan tol mendapati ribuan keping koin terbungkus kotak berbahan perunggu.

Setelah itu, warga setempat berbondong-bondong ikut mencari koin di lokasi tersebut. "Pertama yang menemukan pekerja di sana. 40 kilogram koin di dalam kotak," katanya.

Arifin mengakui, emas yang ditemukannya awalnya terpendam di antara tanah yang dikeruk. Ia lalu mengambilnya dan baru diketahui bahwa itu emas. "Yang emas ini awalnya kelihatan sedikit. Terus saya ambil," katanya. Setelah dicek, kadar emasnya sebanyak 90 persen dengan bobot 4,3 gram.

Menurut Arifin, emas itu sudah ditawar Rp4 juta oleh kolektor namun belum ia berikan. "Saya tidak ingin menjualnya," katanya.

Menurut sejumlah warga, tak hanya koin emas dan potongan gerabah dari perunggu, namun emas dengan bentuk delapan penjuru mata angin juga menyita perhatian masyarakat. Selain itu, ada juga warga yang menemukan keris.

Sejatinya, Arifin ingin menyerahkannya kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Namun, dirinya mengajukan syarat ganti rugi yang setimpal dan mengetahui emas itu bakal disimpan di mana.

"Saya mau menyerahkan ke BPCB kalau ada ganti rugi yang sepadan. Kalau mau ditaruh di museum, saya harus tahu museumnya," jelasnya.

Tidak hanya emas, Arifin juga menemukan sekitar 300 keping koin yang terbuat dari kuningan, tembaga dan perunggu. Selain itu, ada potongan gerabah serta bekas perkakas yang terbuat dari perunggu.

Dilansir dari Surya Malang, sejumlah oknum warga menjual koin yang diduga peninggalan Kerajaan Majapahit, seharga Rp100 ribu hingga Rp450 ribu per koin.

Salah satunya U, warga Jalan Melati Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Dirinya mengaku telah menjual koin dan guci yang ia temukan di dalam proyek pembangunan tersebut. "Dua minggu lalu telah saya jual ke kolektor 10 keping koin kuno dan satu buah guci," katanya.

Namun U tak mau membeberkan secara langsung mengenai nominal uang hasil dari penjualan penemuan benda kuno tersebut.