tiadanya situasi kompresi yang meyakinkan, membuat sulit memperkirakan puncak kejenuhan tren.

Sempat dirumorkan akan dibeli oleh tokoh pengusaha yang sedang sangat  terkenal Eric Thohir, gerak harga saham perusahaan PT Visi Media Asia Tbk menguat konsisten sejak pertengahan Desember lalu.  Bahkan di pekan ketiga Desember tahun lalu, saham yang diperdagangkan dengan kode VIVA itu mampu membentuk tren penguatan jangka menengah yang berlangsung hingga sesi perdagangan hari ini.

Hanya saja, gerak naik harga saham VIVA terkesan  mulai terhenti dengan titik tertinggi di kisaran Rp.195 per lembarnya yang dicetak pada sesi akhir Januari lalu dan pagi ini untuk kemudian melemah hingga ditutup di kisaran Rp. 175 pada sesi perdagangan pagi ini. Tentu saja masih wajar gerak naik yang dibukukan hingga sejauh ini. Akan tetapi barangkali menjadi menarik untuk melihat pola pergerakan harga VIVA dari tinjauan teknikalnya, terutama pada dua pekan sesi perdagangan terakhir.

Grafik harian berikut menyajikan serangkaian indikator teknikal yang mungkin bisa dijadikan wawasan baru bagi investor yang hendak memasuki VIVA:

Tren penguatan yang sedang berlangsung, secara keseluruhan masih cukup solid, di mana jarak yang terentang antara indikator garis MA-Signal dengan batas teknikal psikologisnya  masih belum terlalu rapat.  Sedangkan posisi titik P-Sar yang terlihat beralih di atas candle dalam sepekan terakhir kini telah kembali di bawah candle. Peralihan posisi titik P-Sar ini sekedar menandakan mulai terbatasnya daya dorong untuk melakukan gerak naik lebih lanjut. Berdasar grafik di atas, tren penguatan secara teoritis akan berakhir bila saham VIVA bergerak konsisten di bawah kisaran Rp. 168 selama 6 hari sesi perdagangan. VIVA akan memasuki fase konsolidasi, namun masih belum terjadi pembalikan tren.  

Sementara pada indikator lainnya, ADX yang kini terlihat masih solid di kisaran 33, menunjukkan bahwa tren penguatan juga masih cukup oke. Hanya saja, kelemahan indikator ADX memang tidak mampu untuk mendeteksi dengan baik mulai rapuhnya sebuah tren.  Tren penguatan telah menemui kejenuhan? Dengan pola yang terlihat pada grafik di atas, kejenuhan memang tinggal menunggu waktu saja. Namun tiadanya situasi kompresi yang meyakinkan, membuat sulit memperkirakan puncak kejenuhan.

Tinjauan teknikal secara keseluruhan, kini akhirnya menyimpulkan saham VIVA  yang masih cukup aman dalam batas tertentu untuk dilakukan aksi akumulasi. Namun ada satu hal yang perlu ditekankan, bila mencapai titik kritis tertentu maka saham VIVA berpeluang untuk melakukan gerak balik yang menyakitkan bagi investor yang telah terlanjur masuk dan menderita floating loss. Untuk sekedar antisipasi,  pelaku pasar kini perlu memberikan perhatian bila saham VIVA menembus harga Rp. 156 per lembarnya. Bila VIVA mampu bergerak konsisten di bawah kisaran tersebut dalam 6 hari sesi perdagangan, maka tren pelemahan jangka menengah  telah terbentuk.

Tekanan jual akan semakin menggelora saat itu, investor mesti bersiap untjk hal yang yang sangat perlu dihindari ini.