langkah terbaik adalah menunggu hingga pola kejenuhan terbentuk di time frame H4.

Pergerakan harga saham perusahaan yang bergerak di perawatan pesawat, PT. Garuda Maintenance Facility Aero Asia terlihat menarik sejak  sesi perdagangan awal tahun ini. Gerak naik harga saham yang diperdagangakan dengan kode GMFI ini terbilang konsisten sejak awal tahun untuk kemudian mampu  membentuk tren penguatan jangka menengah pada sesi perdagangan 14 Januari lalu.

Gerak naik kemudian berlanjut hingga mencapai puncaknya pada sesi perdagangan akhir  pekan lalu di kisaran Rp.296 per lembarnya. Usai titik terkuat tercetak, gerak harga kemudian menurun secara tajam dalam tiga hari sesi secara beruntun termasuk pada sesi perdagangan pagi ini. Penurunan dari titik tertinggi hingga harga terendah pagi ini (Rp.254 per lembar) telah mencapai 14,19%.

Pertanyaan menjadi menarik, dengan tren penguatan yang relatif masih berlaku dan gerak turun yang cukup curam apakah aksi akumulasi kini telah tiba saatnya? Untuk memberikan penjelsan teknikalnya, berikut kembali disajikan grafik harian (D1) GMFI:

Grafik di atas sesungguhnya telah memberikan petunjuk bahwa masa jual telah tiba saat sesi perdagangan berlangsung Rabu dan Kamis pekan lalu. Hal itu ditandai dengan kompresi yang telah memuncak pada periode tersebut. Jarak yang terentang antara garis MA-Signal dengan titik P-Sar terlihat telah terlalu dekat atau kompresi yang terjadi telah memuncak dan hanya sekedar waktu untuk mengalihkan posisi titik P-Sar ke atas candle. Kejenuhan tren penguatan yang terbentuk pertengahan bulan lalu dengan demikian telah sangat matang.

Situasi demikian merupakan posisi yang cukup ideal untuk keluar dari pasar, dan penurunan yang terjadi dalam tiga hari sesi perdagangan terakhir, sedikit banyak akibat dari ulah dari kejenuhan tren yang telah memuncak. Konsekuensinya, penurunan curam yang mendera dalam tiga hari terakhir bukanlah petunjuk penting dalam menakar datangnya momentum untuk melakukan aksi akumulasi. 

Untuk menentukan momentum yang telpat dalam melakukan aksi akumulasi, situasi demikian memerlukan pemeriksaan dalam time frame yang lebih pendek. Grafik di atas, bila dirinci dengan time frame H4 masih belum mampu membentuk tren pelemahan, namun pada time frame H1 sudah pasti telah terjadi tren pelemahan. Persoalannya, dengan sei perdagangan yang berlangsung hanya 8 jam sehari, penggunaan analisa dengan time frame H1 menjadi berisiko tidak valid. Terlebih dengan volume transaksi yang relatif sangat terbatas, analisis pada time frame H1 cukup berbahaya.

Oleh karenanya, langkah terbaik adalah menunggu hingga pola kejenuhan terbentuk di time frame H4. Untuk grafik harian di atas, momentum untuk melakukan aksi akumulasi masih akan cenderung  menjadi aksi spekulasi. Hal ini setidaknya berdasar pada sejumlah hal: Pertama, gerak naik konsisten yang telah berlangsung selama lebih dari sebulan. Pola gerak demikian juga membawa konsekuensi terjadinya pembalikan tren di masa berikutnya, hingga aksi beli di level sekarang, saat telah menurun 14,19%, tidak mampu menggaransi gerak harga berbalik naik.

Kedua, Gerak turun curam yang cepat biasanya mengindikasikan potensi teknikal yang terpendam namun sulit untuk diukur secara akurat kisaran pastinya. Batas bawah semakin sulit diperkirakan, hingga akhirnya investor akan terjebak ketika harga benar-benar melanjutkan gerak turun sampai membentuk pembalikan tren.

Menghadapi pola gerak saham sejenis GMFI ini, sangat perlu berhati-hati menimbang seluruh aspek teknikal. Analisis berdasar kinerja fundamental barangkali akan lebih tepat, sekalipun  hal itu akan membutuhkan waktu lebih lama. Ulasan teknikal ini sekedar membatasi kapasitas serta batas-batas analisis teknikal dan tidak perlu memaksakan diri pada situasi yang tidak memungkinkan untuk dianalisis.