Survei melibat 2.001 konsumen pengguna ojek online di 10 provinsi.

Lembaga Research Institute of Economic Development (RISED) memaparkan temuannya terkait rencana kenaikan tarif ojek online. Hasil survei menemukan sebagian besar pengguna ojek online akan kembali memilih memakai kendaraan pribadi jika kenaikan tarif diberlakukan. Walhasil, kemacetan akan menjadi-jadi. 

Seperti diketahui, Kementerian Perhubungan telah mengumumkan kenaikan tarif ojek online akan diberlakukan mulai Maret 2019. Itu merespon tuntutan para mitra pengemudi yang beberapa kali melakukan aksi demonstrasi karena menganggap tarif yang ditetapkan perusahaan penyedia aplikasi ojek online masih terlalu kecil. 

"Kenaikan tarif ojek online (daring)  mendorong konsumen kembali menggunakan kendaraan pribadi, sehingga meng-disinsentif penggunaan transportasi publik," kata Ketua Tim Peneliti RISED Rumayya Batubara dalam jumpa pers paparan hasil riset di Jakarta, seperti dilansir Antara, Senin, 11 Februari 2019.

Rumayya yang juga Ekonom dari Universitas Airlangga itu juga mengatakan konsumen yang terlibat dalam survei sangat sensitif terhadap segala kemungkinan peningkatan tarif.

">

"Kenaikan tarif ojek online berpotensi menurunkan permintaan konsumen hingga 71,12 persen," ujarnya.

Dari hasil survei, jarak tempuh rata-rata konsumen adalah 8,8 km/hari. 

Dengan jarak itu, apabila terjadi kenaikan tarif dari Rp 2.200/km menjadi Rp 3.100/km (atau sebesar Rp 900/km), maka pengeluaran konsumen bertambah sebesar Rp 7.920/hari. 

"Bertambahnya pengeluaran sebesar itu akan ditolak oleh kelompok konsumen yang tidak mau mengeluarkan biaya tambahan sama sekali, dan yang hanya ingin mengeluarkan biaya tambahan kurang dari Rp 5.000/hari. Total persentasenya mencapai 71,12 persen," jelasnya.

Menurut Rumayya, survei melibat 2.001 konsumen pengguna ojek online di 10 provinsi. Sebanyak 45,83 persen responden menyatakan tarif yang ada sekarang sudah sesuai. Sedangkan 28 persen lainnya mengaku tarif ini sudah mahal dan sangat mahal. 

Terkait rencana kenaikan, 48,13 persen menyatakan bersedia mengeluarkan tambahan biaya kurang dari Rp5.000 per hari. Sedangkan yang sama sekali tidak mau mengeluarkan biaya tambahan sebanyak 23 persen responden. 

Studi juga menemukan 75 persen responden lebih nyaman menggunakan ojek online dibanding moda transportasi lain. 

Selain itu, 83 persen responden mengatakan ojek online lebih unggul karena kemudahan dalam bergerak, waktu yang fleksibel, dan antar jemput hingga ke pintu rumah atau door-to-door service. 

Ada juga temuan bahwa 8,85 persen responden tidak pernah kembali menggunkan kendaraan pribadi setelah memakai jasa ojek online. Sementara 72,52 persen responden masih menggunakan kendaraan pribadi, namun jumlahnya berkurang menjadi hanya 1-10 kali dalam sepekan.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal mewanti-wanti agar pemerintah berhati-hati mengeluarkan aturan terkait ojek online. 

"Studi Bappenas menunjukkan potensial lost atau potensi kerugian dari kemacetan itu mencapai 100 triliun per hari, padahal selama ini kebedaraan ojek online menjadi bagian dari solusi mengurai kemacetan," kata Fithra. 

Selain itu, Fithra juga mengingatkan peningkatan harga akan berdampak terutama kepada masyarakat berpenghasilan rendah yang kerap menjadi pengguna moda ojek online. 

Pembicara lainnya, mantan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Zumrotin K Susilo menjelaskan, tarif memang selalu menjadi pertimbangan penting konsumen dalam menggunakan layanan atau produk.

Hal itu, menurut dia, terlihat dari hasil survei yang dilakukan RISED dimana 64 persen responden mengaku menggunakan aplikasi dari dua perusahaan aplikasi ojek daring. 

"Persentase ini menunjukkan layanan ojol (ojek online) amat sensitif dengan harga yang ditawarkan," kata Zumrotin. 

Ia juga mengingatkan bahwa jika tarif ojek online naik drastis, maka ada kemungkinan konsumen akan kembali beralih ke kendaraan pribadi.[]