Menurut Bambang, pertumbuhan ekonomi di Sulawesi bisa menjadi contoh pentingnya peningkatan produksi.

KEPALA Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menilai hilirisasi industri di kawasan Indonesia Timur seperti pembangunan smelter pengolahan mineral telah memacu pertumbuhan ekonomi di kawasan itu. 

Menurut Bambang, pertumbuhan ekonomi di Sulawesi bisa menjadi contoh pentingnya peningkatan produksi. Salah satunya adalah adanya Kawasan Industri Morowali yang berdampak besar terhadap peningkatan kapasitas industri. 

Selain itu, dia menyebutkan pembangunan smelter nikel di Sulawesi saat ini pun semakin masif, sehingga industri pengolahan semakin bertumbuh. Pengolahan komoditas kakao  menjadi bubuk cokelat juga bisa menjadi salah satu produk yang unik untuk terus dikembangkan.

Pekan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data perekonomian Sulawesi tumbuh sebesar 6,55 persen melampaui rata-rata nasional sebesar 5,17 persen. Ekonomi Sulawesi menyumbang 6,22 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. 

Sedangkan pulau Kalimantan, meskipun memberi kontribusi 8,2 persen terhadap ekonomi nasional, namun perekonomiannya hanya tumbuh 3,91 persen.

Menurut Bambang, pertumbuhan ekonomi Kalimantan lebih rendah dibanding Sulawesi salah satunya lantaran kawasan itu tidak banyak memiliki industri pengolahan. 

Bambang menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Kalimantan yang lebih rendah dibandingkan dengan Sulawesi salah satunya dikarenakan kawasan tersebut tidak banyak memiliki industri  pengolahan. 

"Fluktuasi harga batu bara, menyulitkan pertumbuhan, sehingga ekonominya jalan di tempat," kata Bambang dalam sebuah diskusi akhir pekan lalu seperti dilansir dari katadata.co.id

Saat ini, kata dia, pemerintah mulai mendorong pembangunan kawasan industri di Kalimantan. 

Berkaca dari pertumbuhan ekonomi Sulawesi, Bambang menilai hilirisasi industri harus dibangun lebih banyak lagi di kawasan timur Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua.

Dengan begitu, kata Bambang, pemerataan pertumbuhan ekonomi bisa diwujudkan. 

Sedangkan untuk Sumatera dan Pulau Jawa, kata Bambang, meskipun masih menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yakni mencapai 80 persen, namun mulai terlihat stagnan. Kalau pun angkanya bergerak, namun tak jauh-jauh amat. 

Menurutnya,  industri manufaktur di Pulau Jawa sudah sangat masif sehingga pertumbuhan ekonominya konsisten lebih tinggi daripada pertumbuhan nasional. Sedangkan Sumatera masih berada di bawah pertumbuhan nasional karena beberapa daerahnya masih terlalu bergantung pada komoditas kelapa sawit.

Data BPS mencatat pertumbuhan ekonomi di Sumatera hanya 4,54%. Sebaliknya, Pulau Jawa mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,72%.

Pulau Jawa saat ini berkontribusi sekitar 58,48% serta Sumatera 21,58% terhadap pertumbuhan ekonomi. "Cerita dari kedua pulau ini sudah bisa menggambarkan fenomena yang sedang terjadi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata Bambang.[] 

Baca juga:
Berkat Infrastruktur, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Timur Lampaui Nasional