Di Amerika kini muncul desakan untuk memasukkan kratom sebagai narkoba.

Daun tanaman kratom asal Kalimantan kini menjadi kontroversi di Amerika Serikat setelah Otoritas kesehatan di Amerika Serikat - pasar ekspor utama kratom - telah mengaitkan konsumsi pabrik dan turunannya dengan puluhan kematian, memperingatkan bahwa hal itu dapat memperburuk epidemi opioid mematikan yang mencengkeram negara-negara bagian di sana.

Senyawa yang ditemukan di kratom adalah opioid, yang mengekspos pengguna pada risiko kecanduan dan kematian yang sama dengan opiat terlarang, menurut Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat.

Itu sebabnya, di Amerika kini muncul desakan untuk memasukkan kratom sebagai narkoba.

Menurut Asosiasi Kratom Amerika, ada lima juta orang Amerika menggunakan obat itu dan jumlahnya terus bertambah, seperti dilansir kantor berita AFP.

Di Indonesia, Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat adalah penghasil utama kratom yang dikirim ke Amerika. Di sana, daun kratom kini memjadi primadona baru setelah harga karet turun. Banyak petani yang dulunya menanam sawit dan karet, telah beralih ke tanaman kratom.

Nilai ekonomisnya memang menggiurkan. Menurut laporan AFP, di pasar global, kratom diharga 30 USD per kilogramnya. Ini setara dengan Rp420 ribu dengan kurs Rp14.000/USD.

Dalam sebulan, dari Kalimantan Barat saja sekitar 400 ton daun kratom kering dikirim keluar negeri setiap bulan. Nilainya sekitar 10  juta USD.

Kantor pos pusat di Pontianak menjadi pos perdagangan utama kratom. "Sekitar 90% dari pengiriman kami dari provinsi Kalimantan Barat adalah kratom yang dijual ke AS," kata kepala kantor pos Zaenal Hamid.
 


Petani Kratom | Foto: Tribun Pontianak

Manfaat Kratom

Dikenal juga sebagai daun purik, kratom adalh bagian dari keluarga kopi. Daun ini telah digunakan selama berabad-abad di Asia Tenggara untuk pereda sakit dan sedikit perangsangan.

Kratom atau daun purik (Mitragyna speciosa Korth) merupakan tanaman tropis yang yang berasal dari Asia Tenggara (Thailand, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filiphina) dan Papua Pugini.

Tanaman ini sering digunakan sebagai tanaman obat herbal untuk mengobati beberapa penyakit seperti diare, pereda nyeri, batuk, darah tinggi, dan lemah syahwat," paparnya.

Sebagian orang mengunyahnya. Sebagian lain menjadikannya seperti bubuk, dan diseduh seperti orang minum teh.

Kratom dapat membuat seseorang merasa memiliki lebih banyak energi, lebih waspada, dan lebih bahagia.

Bahan aktif utama kratom adalah alkaloid mitraginin dan 7-hydroxymitragynine yang telah terbukti dapat memberikan efek analgesik, anti-inflamasi, atau pelemas otot; sehingga kratom sering digunakan untuk meredakan gejala fibromyalgia. Fibromyalgia adalah intoleransi terhadap stres dan rasa sakit yang biasanya ditandai dengan nyeri pada tubuh, sulit tidur, dan kelelahan.


Daun kratom yang telah diolah menjadi bubuk kering | AFP

Ketidakpastian Regulasi

Munculnya kontroversi kratom di Amerika membuat para petani kratom di Kalimantan kini merasa was-was.

Ketua Asosiasi Kratom Borneo, Suheri, mengakui belum adanya aturan yang jelas soal kratom menjadi tantangan tersendiri. Padahal, kratom memberi pengaruh besar bagi perekonomian masyarakat di sana.

"Tantangan terbesar selain tidak bisa ngirim dalam jumlah besar. Pengusaha krotom juga masih abu-abu di hadapan hukum. Tidak ada larangan, hukum Indonesia belum ada pengatur regulasi kratom. Jika di kenakan pajak, pajak apa. Permenkes nomor 12 tahun 2009 mencantumkan bahwa kratom salah satu jenis narkotika. Alhamdulillah dengan keluarnya Permenkes nomor 2 tahun 2017 didalamnya kratom sudah tidak termasuk jenis yang dilarang. Kita selangkah lebih lega, tetapi kita masih mengejar status hukum yang jelas. Nomor 13 tahun 2014 tidak termasuk dalam daftar golongan narkotika,” kata Suhaeri seperti dikutip Tribun Pontianak.

"Kalau memang sudah dilarang, tentunya sudah ada undang-undang yang melarang terkait menanam dan menjual daun kraton . Tapi hingga sekarang belum ada yang mengatur seperti itu," ~ Wakapolres Kapuas Hulu Kompol Alber Manurung

Menurut Suheri, asosiasi telah melakukan berbagai upaya, agar kratom diatur dengan jelas dalam undang-undang.

"Tidak dilarang oleh satu pun undang-undang, sekarang yang kami usahakan adalah titik terang posisi kami. Kami juga ingin meminta penjelasan dokumen ekspor yang harus kami penuhi, karena kami tidak melakukam hanya satu ekspedisi sehingga dokumen yang digunakan berbeda," tambahnya.

Hal yang sama juga dirasakan sejumlah petani kratom.

“Hingga saat ini, aturan mengelola daun kratom tersebut belum ada kejelasan dari Pemerintah. Apakah akan dilarang ataupun dilegalkan, sehingga membuat masyarakat masih ragu-ragu," kata Jamil,  Putussibau Selatan, Jamli, seperti dilansir Tribun Pontianak, Kamis, 7 Februari 2019.

Menurut Jamli, ketika hukum daun kratom sudah jelas legal, membuat masyarakat tidak ragu-ragu lagi untuk terus menanam dan menjual daun tersebut.

"Begitu juga kalau sudah dilarang secara resmi, masyarakat tentunya tak akan menanam lagi dan menjual," ungkapnya.

Menyikapi keraguan dari masyarakat Kapuas Hulu terhadap hukum menanam dan menjual daun kratom, Wakapolres Kapuas Hulu Kompol Alber Manurung menyatakan hingga saat ini belum ada kejelasan resmi apakah sudah dilarang atau belum.

"Kalau memang sudah dilarang, tentunya sudah ada undang-undang yang melarang terkait menanam dan menjual daun kraton . Tapi hingga sekarang belum ada yang mengatur seperti itu," ujar Alber.

Menurutnya, sejauh belum ada larangan resmi dari pemerintah, tidak ada persoalan bagi masyarakat yang ingin menanam dan menjual daun kratom tersebut. []

">">