Eka Tjipta yang meninggal dalam usia 95 tahun itu semasa hidupnya menikahi dua perempuan dan memberinya 15 anak.

Konglomerat terkaya ketiga Indonesia versi majalah Forbes Eka Tjipta Widjaja yang meninggal pada Sabtu 26 Januari lalu, dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Marga Mulya, Karawang, Jawa Barat, pada Sabtu, 2 Februari 2019.

Prosesi pemakaman itu berlangsung khidmat dalam nuansa putih, bukan nuansa hitam seperti kebanyakan acara duka. Warna putih kerap dianggap sebagai lambang kesucian, dan kesederhaan.

Eka Tjipta yang meninggal dalam usia 95 tahun itu semasa hidupnya menikahi dua perempuan dan memberinya 15 anak.

Papa selalu berpesan, seluruh hidupnya pun beliau juga menerapkan prinsip ini, hidup itu harus selalu berhemat, tetapi kalau sedekah harus banyak, kalau hidup sederhana pasti akan cukup."

Saat prosesi pemakaman, putra sulung Eka Tjipta, Teguh G. Widjaja,  mengatakan sang papa selalu berpesan untuk menjadi orang yang sederhana dan selalu bersedekah. Pesan itulah yang dikenangnya sebagai warisan paling berharga dari ayahnya.
 
“Papa selalu berpesan, seluruh hidupnya pun beliau juga menerapkan prinsip ini, hidup itu harus selalu berhemat, tetapi kalau sedekah harus banyak, kalau hidup sederhana pasti akan cukup,” kata Teguh.

Teguh mengatakan, prinsip hidup itulah yang membuat imperium bisnisnya moncer hingga seperti saat ini. Meskipun pendiri Sinar Mas Grup tersebut menghuni deretan papan atas orang terkaya di Indonesia versi Globe Asia 2018 dengan total kekayaan yang mencapai Rp198,8 triliun, Teguh menilai prinsip kehidupan tersebutlah yang menjadi warisan terbaik dari sang ayah.

Teguh mengenang, ayahnya adalah sosok dermawan dan senang membantu hingga usianya menua. Pada 2002, kenang Teguh, sang ayah yang sudah berusia 80 tahun, turun tangan membersihkan sampah sisa banjir yang melanda kawasan Muara Angke, Jakarta Utara.

Teguh juga mengatakan, ayahnya  sempat berpesan untuk hidup saling rukun dengan saudara dan tidak saling cek-cok. Sebab, ada survei yang menyimpulkan sangat sedikit  perusahaan keluarga yang mampu bertahan melewati tiga generasi akibat perselisihan antar keluarga.

“Kami berjanji untuk hidup rukun, mencinta dan cintai, bahu-membahu melanjutkan cita-cita papa, agar Sinarmas tetap bersinar,” papar Teguh.

Sementara itu, salah satu cucu Eka Tjipta Widjaja, Megain Widjaja, mengatakan, warisan terbaik dari kakeknya adalah nama besar yang ditinggalkan, yang menurutnya lebih baik dibandingkan dengan kekayaan.

"Nama besar ini akan menjadi aset terbesar, tetapi disamping itu diikuti dengan sebuah tanggung jawab. Kami berjanji untuk selalu bekerja yang lebih keras, sehingga menjadi pribadi yang lebih baik dan Sinar Mas tetap bersinar," ujar Megain yang juga menjabat sebagai Direktur Indonesia Commodities and Derivatives Exchange (ICDX).

Sinar Mas berawal ketika almarhum Eka Tjipta Widjaja yang ketika itu masih bernama Oei Ek Tjhong, dan baru menjejak usia 15 tahun, berwirausaha menjajakan biskuit dan permen dengan mengendarai sepeda ke penjuru kota Makassar, Sulawesi Selatan, 3 Oktober 1938.

Berkali-kali jatuh bangun dan menekuni berbagai bisnis, Eka Tjipta menuai hasil dari kegigihannya. Bisnisnya meraksasa.   
Pabrik minyak gorengnya menjadi yang terbesar di Indonesia. Pabrik kertasnya terbesar di Asia. SInarmas Grup kini sudah merambah ke segala arah.[]