Pembangunan sejumlah smelter ditargetkan rampung pada 2021.

PT Antam Tbk menegaskan akan mempercepat program penghiliran mineral dengan pembangunan smelter dan menargetkan seluruh proyek selesai pada 2021.

Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo proyek smelter di Halmahera Timur akan selesai pada Juli mendatang. Smelter itu berkapasitas 13.500 ton nikel dalam feronikel (TNi).

Selain itu, Antam menargetkan bisa menyelesaikan tahap pembiayaan untuk semelter di Tanjung Buli dalam dua bulan ke depan.

"Proyek downstream akhir 2021 sudah selesai. Jadi, 2022 semua ore sudah bisa terserap," katanya, akhir pekan lalu seperti dilaporkan Bisnis.com, Minggu, 3 Februari 2019.

Seperti diketahui, perusahaan pertambangan diwajibkan membangun smelter pengolahan bahan baku mineral. Itu diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Disebutkan, perusahaan pertambangan dilarang mengekspor bahan tambang mentah yang belum diolah mulai Januari 2014. Alasan utama peraturan itu diantaranya karena ekspor bijih mineral yang terus meningkat sejak 2008, namun tidak memicu perkembangan sektor hilir pertambangan.

Selain smelter nikel, Antam juga sedang dalam proses pembangunan smelter bauksit yang dengan produk akhir berupa smelter grade alumina (SGA) di Mempawah bersama PT Inalum (Persero) dan Alumunium Corporation of China Limited (Chalco).

Smelter dengan kapasitas 1 juta ton SGA per tahun itu membutuhkan dana sekitar US$850 juta. Berdasarkan rencana awal, smelter tersebut berkapasitas hingga 2 juta ton SGA per tahun.

Nantinya, SGA yang dihasilkan akan dibeli langsung oleh Inalum. Adapun kebutuhan alumina inalum saat ini masih sekitar 500.000 ton per tahun untuk diolah menjadi 250.000-260.000 ton aluminium per tahun.

Namun, kapasitas produksi Inalum tersebut akan ditingkatkan menjadi 500.000 ton aluminium per tahun, sehingga kebutuhan aluminanya akan sesuai dengan kemampuan produksi smelter alumina tahap 1.

Terkait dengan kinerja Antam di sektor hulu, Arie menargetkan penjualan emas bisa mencapai 30 ton dan produksi nikel dalam bentuk feronikel sebanyak 30.000 TNi.

Sepanjang tahun lalu, penjualan emas antam mencapai 27,9 ton, naik 111% dibandingkan dengan 2017 sebanyak 13,2 ton. Capaian tersebut merupakan yang tertinggi dalam sejarah perusahaan.

Untuk feronikel, produksinya sepanjang tahun lalu mencapai 24.868 TNi. Jumlah tersebut naik 14,27% dari realisasi produksi pada 2017 sebanyak 21.762 TNi.[]