Eka Tjipta Widjaja pernah menjual biskuit, kembang gula, hingga menjadi pembuat kuburan orang kaya.

Konglomerat pemilik Sinar Mas Group (sekarang menjadi Sinarmas) telah meninggal dunia pada Sabtu malam, 26 Januari 2019 dalam usia 95 tahun. Sebelum sampai pada posisi orang terkaya ketiga Indonesia 2018 versi majalah Fotbes, lelaki yang hanya tamatan sekolah dasar itu berkali-kali jatuh bangun di dunia bisnis. Sempat sukses, lalu bangkrut, dan bangkit lagi dengan bisnis yang kian menggurita.  

Mulai berbisnis sejak usia 15 tahun, Eka Tjipta adalah sosok yang ulet, tekun, dan tak gampang menyerah sejak usia belia.

Lahir pada 3 Okotber 1923 di Hokian China, Eka Tjipta berangkat ke Indonesia bersama ibunya menyusul sang ayah yang sudah duluan berangkat ke Makasar dan membuka toko kecil di sana. Saat itu tahun 1932. Eka masih bocah ingusan berusia 9 tahun.

Dalam sebuah obituari , Eka Tjipta masih ingat benar detail peristiwa ketika dirinya masih dibekap kemiskinan. Saat berlayar ke Nusantara, ia bersama ibunya harus berlayar tujuh hari tujuh malam. Untuk biaya berangkat, sang ibu harus berutang kepada rentenir sebesar 150 dolar. Itu pun mereka menempati tempat terburuk di kapal, di bawah kelas dek.

">">">">">

Tiba di Makassar, Eka membantu ayahnya berjualan. Utang kepada rentenir yang dipakai untuk berangkat ke Makassar baru terbayarkan dua tahun kemudian.

Sembari membantu ayahnya, Eka kecil mulai sekolah, namun ia menolak duduk di kelas satu. Setamat sekolah dasar, Eka Tjipta tak bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya lantaran ayahnya tak punya uang. Saat itu, sang ayah terlibat utang pada rentenir dan tak mampu membayar bunga yang sangat tinggi.

Untuk membantu ekonomi keluarga, Eka menjajakan biskuit dan kembang gula. Usahanya berkembang. ia mulai bisa membeli becak.  Namun, usahanya hancur karena perang setelah Jepang masuk ke Nusantara.  Uang yang didapat dari menjajakan biskuit dan kembang gula ludes unutk biaya menyambung hidup.

Suatu ketika, Eka mengayuh sepedanya ke  Paotere di pinggiran Makasar.  Di sana, ia  melihat raturan tentara Jepang sedang mengawasi tentara Belanda yang ditawan.

Otak bisnisnya berputar. Muncul ide untuk membuka lapak dagang berjualan makanan atau minuman kepada tentara Jepang di sana.

Besoknya, sekitar pukul empat pagi, Eka sudah tiba kembali di pangkalan tentara Jepang itu dengan membawa kopi, gula, kaleng bekas minyak tanah yang diisi air, oven kecil berisi arang untuk membuat air panas, cangkir, sendok dan sebagainya.

Semua peralatan ia pinjam dari ibunya. Ia juga membawa enam ekor ayam milik ayahnya untuk dimasak dan dijual kepada tentara Jepang. Dari teman-temannya, ia meminjam  satu botol wiskey, satu botol brandy dan satu botol anggur. Tentulah para tentara itu butuh minuman, pikirnya.

Pukul tujuh pagi ia sudah siap memulai jualan. Namun, hingga dua jam kemudian tak ada satu pun tentara Jepang yang mampir ke tendanya.

Eka pun memutuskan mendekati bos pasukan Jepang dan mentraktirnya makan.dan minum di tenda. Gratis! Pendekatan itu berhasil. Si bos mengizinkan anak buahnya makan di tenda milik Eka.

Eka juga mendapat berkah lain. Ia diperbolehkan membawa pulang  tepung terigu semen, dan gula milik Jepang yang tak lagi dipakai. Ia membayar anak kampung sekitar untuk membantunya mengangkut barang-barang yang sudah dibuang itu.

Dari pembuat kuburan orang kaya, Eka beralih ke pedagang kopra. Ia berlayar ke sejumlah daerah di sekitar Makassar untuk mendapatkan kopra dengan harga murah

Di rumah, Eka memilahnya lagi. Ternyata banyak yang masih bisa dipakai. Terigu yang sudah mengeras ditumbuk lagi agar terpecah menjadi serbuk, lalu dijual ke pasar.   Begitu juga dengan semen.

Suatu ketika, ada kontraktor hendak membeli semen dari Eka. Semen itu hendak dipakai untuk membuat kuburan orang kaya.  Mengetahui hal itu, Eka menolak menjual semennya. Lebih baik, ia sendiri yang terjun ke bidang itu, pikirnya.

Maka Eka pun memulai usaha baru sebagai pembuat kuburan orang kaya. Ia membayar tukang Rp.15 per hari ditambah 20 persen saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam kuburan mewah. Ia mulai dengan Rp. 3.500 per kuburan, dan yang terakhir membayar Rp. 6.000. Namun, usaha itu terpaksa harus berhenti lantaran kehabisan stok semen dan besi.

Dari pembuat kuburan orang kaya, Eka beralih ke pedagang kopra. Ia berlayar ke sejumlah daerah di sekitar Makassar untuk mendapatkan kopra dengan harga murah.  Usaha itu memberi keuntungan besar baginya. Namun, cobaan kembali menghadang lantaran Jepang membuat aturan monopoli  jual beli minyak hanya boleh lewat Mitsubishi. Celakanya, Mitsubishi membeli Rp1,8 per kaleng, sementara harga pasaran Rp 6.  Eka pun hampir bangkrut dibuatnya.
 
Sempat beralih berdagang gula, ia pun kembali merugi lantaran harga gula jatuh.  Eka harus menjual mobil jip, dua sedan serta menjual perhiasan keluarga termasuk cincin kimpoi untuk menutup utang dagang.Tapi Eka bangkit lagi, Kali ini beralih ke usaha leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Semacam palugada, apa lu perlu gua ada.  Usaha ini pun tak bertahan lama karena situasi perang yang menyebabkan ketidakpastian harga.

Saat usianya 37 tahun, Eka Tjipta pindah ke Surabaya. Dia mencoba bisnis kebun kopi dan kebun karet di daerah Jember.
Eka mendirikan CV Sinar Mas dan mulai berbisnis membuat bubur kertas dari sisa-sisa pengolahan karet.

Seiring perkembangan bisnisnya, Eka mendirikan PT Tjiwi Kimia pada 1978. Perusahaan yang bergerak di bidang chemical  menjadi tambang uang baru baginya. Belakangan, Tjiwi Kimia menjadi pabrik kertas dan masih bertahan hingga sekarang.

Pada 1980-1981 ia membeli perkebunan kelapa sawit seluas 10 ribu hektar di Riau, mesin serta pabrik berkapasitas 60 ribu ton. Perkebunan dan pabrik teh seluas 1.000 hektar berkapasitas 20 ribu ton dibelinya pula.

Tahun 1982, ia membeli Bank Internasional Indonesia. Awalnya BII hanya dua cabang dengan aset Rp. 13 milyar. Setelah dipegang dua belas tahun, BII  memiliki 40 cabang dan cabang pembantu, dengan aset Rp. 9,2 trilyun.

PT Indah Kiat juga dibeli. Produksi awal (1984) hanya 50.000 ton per tahun. Sepuluh tahun kemudian produksi Indah Kiat menjadi 700.000 ton pulp per tahun, dan 650.000 ton kertas per tahun.

Belum cukup, Eka merambah bisnis real estate. ITC Mangga Dua adalah salah satu karyanya.

“Saya sungguh menyadari, saya bisa seperti sekarang karena Tuhan Maha Baik. Saya sangat percaya Tuhan, dan selalu ingin menjadi hamba Nya yang baik,” kata Eka suatu ketika.

Ada sebuah pesan Eka Tjipta yang diingat oleh anak buahnya di Sinarmas,"Jujurlah menjaga kredibilitas, tanggung jawab, baik terhadap keluarga, pekerjaan, maupun sosial."

Kini, lelaki yang pontang-panting membesarkan bisnisnya hingga menjadi orang ketiga terkaya Indonesia itu telah tiada.

RIP, Pak Eka.[]
(Dari berbagai sumber).