Ketika tentara Jepang masuk, Eka membuka lapak dagang berjualan makanan atau minuman kepada tentara Jepang.

Konglomerat terkaya ketiga Indonesia Eka Tjipta Widjaja  yang punya nama asli Oi Ek Tjhong telah meninggal dunia pada Sabtu malam, 26 Januari 2019 dalam usia 95 tahun.

 Lahir pada 3 Okotber 1923 di Hokian China, Eka Tjipta berangkat ke Indonesia bersama ibunya menyusul sang ayah yang sudah duluan berangkat ke Makasar. Saat itu tahun 1932. Eka masih bocah ingusan berusia 9 tahun.

Saat Eka tiba di Nusantara,  negeri ini masih dalam jajahan Belanda. Ketika Jepang masuk pada 1945,  Eka Tjipta berusia 22 tahun.

Zaman pendudukan Jepang, Eka Tjipta punya pengalaman tak menyenangkan. Ia pernah mendekam di penjara selama dua pekan.

">">

Tamat Sekolah Dasar, Eka tak lagi melanjutkan sekolah karena tak punya biaya. Ia pun melakoni pekerjaan sebagai penjual biskuit dan kembang gula.  Usaha itu terus dilakoni hingga Jepang datang menjajah Indonesia, termasuk Makasar.

Suatu ketika, Eka mengayuh sepedanya ke  Paotere di pinggiran Makasar.  Di sana, ia  melihat raturan tentara Jepang sedang mengawasi tentara Belanda yang ditawan.

Otak bisnisnya berputar. Muncul ide untuk membuka lapak dagang berjualan makanan atau minuman kepada tentara Jepang di sana.

Besoknya, sekitar pukul empat pagi, Eka sudah tiba kembali di pangkalan tentara Jepang itu dengan membawa kopi, gula, kaleng bekas minyak tanah yang diisi air, oven kecil berisi arang untuk membuat air panas, cangkir, sendok dan sebagainya.

Semua peralatan ia pinjam dari ibunya. Ia juga membawa enam ekor ayam milik ayahnya untuk dimasak dan dijual kepada tentara Jepang. Dari teman-temannya, ia meminjam  satu botol wiskey, satu botol brandy dan satu botol anggur. Tentulah para tentara itu butuh minuman, pikirnya.

Saya dituduh memanipulasi barang. Lalu mereka masukkan saya ke penjara Makassar selama dua minggu. Tapi, ya, tak apa-apa." ~ Eka Tjipta Widjaja.

Pukul tujuh pagi ia sudah siap memulai jualan. Namun, hingga dua jam kemudian tak ada satu pun tentara Jepang yang mampir ke tendanya.

Eka pun memutuskan mendekati bos pasukan Jepang dan mentraktirnya makan.dan minum di tenda. Gratis! Pendekatan itu berhasil. Si bos mengizinkan anak buahnya makan di tenda milik Eka.

Eka juga mendapat berkah lain. Ia diperbolehkan membawa pulang  tepung terigu semen, dan gula milik Jepang yang tak lagi dipakai. Ia membayar anak kampung sekitar untuk membantunya mengangkut barang-barang yang sudah dibuang itu.

Di rumah, Eka memilahnya lagi. Ternyata banyak yang masih bisa dipakai. Terigu yang sudah mengeras ditumbuk lagi agar terpecah menjadi serbuk, lalu dijual ke pasar.   Begitu juga dengan semen.

Namun hubungannya dengan tentara Jepang tak selamanya berjalan mulus.

Dalam sebuah wawancara dengan Kontan pada tahun 1996, Eka bercerita dirinya pernah ditahan di penjara Jepang.

Sebenarnya, kata Eka, dirinya tak senang dengan tentara Jepang. Namun karena ia melihat potensi bisnis di sana, maka Eka berpura-pura akrab. Ketidaksenangannya karena ia banyak membaca tentang kekejaman tentara Jepang.

Dari dulu saya memang suka membaca. Saya baca bahwa bangsa kita diperkosa dan dibunuh," tuturnya saat wawancara dengan Tabloid KONTAN kala itu.

Kedekatannya dengan tentara Jepang, kata Eka, membuatnya diminta bekerja untuk Dai Nippon. Namun, Eka menolaknya.

Hingga suatu ketika, tentara Jepang menemukan barang-barang yang  disembunyikan eka di sebuah peti teh di loteng. Di sana ada kemeja, handuk.

"Saya dituduh memanipulasi barang. Lalu mereka masukkan saya ke penjara Makassar selama dua minggu. Tapi, ya, tak apa-apa," katanya.

Ketika masa pendudukan usai, Eka kembali meneruskan berbisnis. Perusahaannya beranak pinak. Hingga akhir hayatnya, lelaki lulusan SD itu tercatat sebagai orang terkaya ketiga Indonesia. []