Pesawat Dacota bekas maskapai Belanda menjadi pesawat pertama Garuda Indonesia.

Garuda Indonesia adalah maskapai penerbangan nasional yang memiliki sejarah panjang. Bahkan, kehadirannya sudah ada sejak zaman penjajahan Hindia Belanda.

Cikal bakal Garuda Indonesia ini berawal sejak 24 Oktober 1928. Saat itu, pemerintah kolonial Hindia Belanda mendirikan Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM). Perusahaan penerbangan ini berdiri atas kerjasama pemerintah kolonial dengan maskapai penerbangan Amesterdam Nederlansch Indische Luchtvaart Maatshapij (NILM).

Penerbangan perdana KNILM dilakukan di Bandara Tjililitan (kini dikenal sebagai Bandara Halim Perdana Kusumah) pada 1928. Rute pertama yang ditempuh adalah Batavia-Bandung dan Batavia-Surabaya pulang pergi.

KNILM kemudian bubar saat Belanda mengalami kekalahan dari Jepang pada Perang Dunia kedua pada 1942.

">

Selepas Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Belanda kembali datang ke Tanah Air. Mereka datang dengan membonceng tentara sekutu. Mereka pun kemudian menghidupkan kembali KNILM. Namun kali ini mereka mengusung nama baru, KLM Interinsulair Bedrijf (KLM-IIB).

Maskapai ini bernaung di bawah maskapai penerbangan Kerajaan Belanda yakni KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij). Saat itu, KLM-IIB sempat melayani penerbangan sipil ke beberapa wilayah Indonesia dan luar negeri seperti Singapura, Penang (Malaysia), dan Manila (Filipina).

Seiring waktu, hubungan Indonesia dan Belanda terus memanas kala itu. Serentetan agresi militer dilakukan Belanda terhadap Indonesia.

Selama masa agresi militer itu, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) berinisiatif meminjamkan pesawatnya untuk penerbangan sipil. Sejarah penerbangan sipil pertama terjadi pada 26 Januari 1949, AURI meminjamkan pesawat yang dinamai "Indonesian Airways" kepada pemerintah Burma.

Berdasarkan hasil KMB, maka Belanda wajib menyerahkan seluruh kekayaan pemerintah Hindia Belanda kepada pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) termasuk maskapai KLM-IIB.

Sementara seluruh pesawat "Indonesian Airways" pun kemudian dikembalikan kepada AURI sesuai dengan fungsi semula.


Asal Mula Nama Garuda
Asal muasal nama Garuda tercetus tiga hari sebelum perundingan KMB digelar. Pada 25 Desember 1949, perwakilan KLM menemui Presiden Soekarno di Yogyakarta untuk menyerahkan KLM-IIB kepada pemerintah Indonesia.

Saat serah terima itu, Dr. Konijnenburg bertanya kepada Soekarno, apa nama pesawat baru yang akan membawanya nanti dari Yogyakarta ke Jakarta?

Sukarno menjawab, "Akulah Garuda, burung milik Wisnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi di atas kepulauanmu."

Atas dasar itu, Dr. Konijnenburg langsung menginstruksikan agar pesawat-pesawat KLM yang akan dihibahkan dicat ulang dengan tulisan Garuda Indonesia. Sejak itulah, RI memiliki maskapai penerbangan nasional bernama Garuda Indonesia Airways (GIA) yang terus eksis dari rezim ke rezim hingga kini.

Kemudian sehari setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia (RI) oleh Belanda, pada 28 Desember 1949, dua buah pesawat Dakota (DC-3) berangkat dari bandar udara Kemayoran, Jakarta menuju Yogyakarta. Pesawat itu menjemput Presiden Soekarno untuk dibawa kembali ke Jakarta yang sekaligus menandai perpindahan kembali Ibukota RI ke Jakarta. Sejak saat itulah GIA terus berkembang hingga dikenal sekarang sebagai Garuda Indonesia.

Setahun kemudian, di tahun 1950, Garuda Indonesia menjadi perusahaan negara. Pada periode tersebut, Garuda Indonesia mengoperasikan armada dengan jumlah pesawat sebanyak 38 buah yang terdiri dari 22 DC-3, 8 Catalina kapal terbang, and 8 Convair 240.

Armada Garuda Indonesia terus bertambah dan akhirnya berhasil melaksanakan penerbangan pertama kali ke Mekah membawa jemaah haji dari Indonesia pada tahun 1956. Tahun 1965, penerbangan pertama kali ke negara-negara di Eropa dilakukan dengan Amsterdam sebagai tujuan terakhir.


Go Public
Garuda Indonesia berkembang cukup pesat. Sepanjang tahun 1980-an, Garuda Indonesia melakukan revitalisasi dan restrukturisasi berskala besar untuk operasi dan armadanya. Hal ini mendorong perusahaan untuk mengembangkan program pelatihan yang komprehensif untuk awak kabin dan awak darat Garuda Indonesia dan mendirikan fasilitas pelatihan khusus di Jakarta Barat dengan nama Garuda Indonesia Training Center.

Seiring dengan upaya pengembangan usaha, di awal tahun 2005, Garuda Indonesia memiliki tim manajemen baru, yang kemudian membuat perencanaan baru bagi masa depan Perusahaan. Manajemen baru Garuda Indonesia melakukan evaluasi ulang dan restrukturisasi Perusahaan secara menyeluruh dengan tujuan meningkatkan efisiensi kegiatan operasional, membangun kembali kekuatan keuangan yang mencakup keberhasilan Perusahaan dalam menyelesaikan restrukturisasi utang, menambah tingkat kesadaran para karyawan dalam memahami pelanggan, dan yang terpenting memperbarui dan membangkitkan semangat karyawan Garuda Indonesia.

Setelah proses restrukturisasi selesai, Perusahaan mengantarkan Garuda Indonesia siap untuk mencatatkan sahamnya ke publik pada 11 Februari 2011. Perusahaan resmi menjadi perusahaan publik setelah penawaran umum perdana atas 6.335.738.000 saham Perusahaan kepada masyarakat.

Saham tersebut telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 11 Februari 2011 dengan kode GIAA. Salah satu tonggak sejarah penting ini dilakukan setelah Perusahaan menyelesaikan transformasi bisnisnya melalu kerja keras serta dedikasi berbagai pihak.

Berbagai pengembangan dilakukan. Seperti menjadi sponsor dalam pagelaran SEA Games 2011 yang digelar di Jakarta dan Palembang. Kemudian pada tahun 2012, Garuda Indonesia juga menjalin kerjasama dengan salah satu klub sepak bola Inggris, Liverpool FC sebagai Partner Resmi Liverpool FC dan Partner Maskapai Penerbangan Global Resmi Liverpool FC.

Garuda pun sukses meraih sejumlah penghargaan sebagai maskapai bintang lima terbaik. Berbagai pengakuan dan apresiasi berskala internasional, diantaranya pencapaian ‘The World’s Best Cabin Crew” selama empat tahun berturut-turut, dari tahun 2014 hingga 2017; "The World's Most Loved Airline 2016" dan “The World’s Best Economy Class 2013” dari Skytrax, lembaga pemeringkat penerbangan independen berbasis di London.


Citilink dan Sriwijaya Air
Perkembangan Garuda Indonesia pun cukup pesat. Mereka kemudian mendirikan anak perusahaan yang dinamakan PT Citilink Indonesia.

PT Citilink Indonesia (“Citilink” atau “Perusahaan”) merupakan sebuah upaya ekspansi oleh PT Garuda Indonesia agar bisa bersaing lebih agresif dalam penerbangan di segmen budget traveller.

Dikutip dari laman Citilink, perusahaan ini didirikan berdasarkan Akta Notaris Natakusumah No. 01 tanggal 6 Januari 2009, berkedudukan di Sidoarjo, Jawa Timur, dengan pengesahan dari Menkhumham No. AHU-14555.AH.01.01 Tahun 2009 tanggal 22 April 2009.

Dengan pengesahan tersebut, kepemilikan saham Citilink Indonesia saat didirikan adalah 67 persen milik PT Garuda Indonesia (Persero),tbk. (“Garuda”) dan 33 persen milik PT Aerowisata (“Aerowisata”).

Sebelumnya penerbangan yang dimiliki oleh Garuda Indonesia ini dikelola oleh SBU Citilink Indonesia yang beroperasi dengan AOC dari Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan Garuda Indonesia sejak Mei 2011.  

Selanjutnya sesuai dengan Akta No. 23 tanggal 13 Januari 2012 mengenai perubahan setoran permodalan, dan Akta No. 91 tanggal 10 Agustus 2012 mengenai penyertaan tambahan modal berupa pesawat terbang, maka kepemilikan saham Citilink adalah 94,3% milik Garuda Indonesia dan 5,7% milik Aerowisata.

Hingga saat ini Citilink Indonesia telah menjadi maskapai LCC yang berkembang dengan pesat di Indonesia sejak pesawat A320 hadir sebagai salah satu armada yang dimiliki perusahaan.

Tak puas dengan memiliki Citilink, Garuda kembali menambah armadanya melalui Sriwijaya Air. Garuda Indonesia melalui Citilink, mengambil-alih pengelolaan operasional Sriwijaya Air dan NAM Air.

Hal ini direalisasikan dalam bentuk serja sama operasi (KSO) yang dilakukan oleh PT Citilink Indonesia dengan PT Sriwijaya Air dan PT NAM Air. KSO tersebut telah ditandatangani pada tanggal 9 November 2018.

Berdasarkan KSO ini, keseluruhan operasional Sriwijaya Group termasuk finansial akan berada di bawah pengelolaan Garuda. 
(Dari berbagai sumber)