Dari merek-merek ternama dunia itulah pundi-pundi uang mengalir ke kantong Mussry

Lama berpisah dengan musisi Ahmad Dhani, pada akhir Oktober 2018, Maia Estianty akhirnya menikah dengan Irwan Mussry, pria tajir yang juga seorang pengusaha sukses. 

Bernama lengkap Irwan Danny Mussry, pria kelahiran 15 November 1962 itu adalah CEO dan Presiden Direktur PT Timerindo Perkasa International atau lebih dikenal dengan nama Time International. Perusahaan ini adalah pemegang merek dan retail jam tangan mewah serta beberapa merek fashion. 

Sebut saja diantaranya seperti Rolex, Chanel, Cartier TAG Heuer, Fendi, Fosil, Berluti, Chopard, dan yang terbaru Breitling.   

Didirikan oleh orang tuanya sejak 1965, Irwan Musry mulai terlibat melanjutkan bisnis itu sejak 1978. Tadinya, perusahaan ini hanya melayani service centre dan grosir jam tangan. 

Pada 1984, terjadi sebuah lompatan baru ditandai dengan bergabungnya merek Gucci untuk pasar Indonesia dalam genggaman mereka. 

Pada 1999, butik jam tangan mewah pertama didirikan di Plaza Senayan Jakarta. 

Untuk memanjakan penggemar jam tangan mewah, Time International juga memiliki majalah sendiri yang diberi nama The Time Place Magazine."

Di tahun 2008, Chanel resmi bergabung dengan perusahaan yang sudah mendirikan empat toko di kawasan Jakarta dan Surabaya. Menyusul di tahun 2012 brand fashion Fendi pun turut berpartisipasi. Mengembangkan bisnis dibidang lain, Irwan pun mencoba merambah dunia kosmetik dengan bekerja sama dengan perusahaan Korea, Laneige.

Pada 2012, butik Rolex dibuka di Plaza Indonesia. Berikutnya, juga dibuka gerai-gerai lain untuk sejumlah merek seperti butik parfum dan kecantikan merek Chanel di Plaza Indonesia. 

Time international juga jadi distributor barang mewah dan high fashion untuk wilayah regional. Saat ini klien mereka adalah Gucci, Burberry, Rolex, Tag Heuer, DKNY, Emporio Armani, Fossil, dan Michael Kors, seperti yang disebutkan di businessoffashion.com. 

Untuk memanjakan penggemar jam tangan mewah, Time International juga memiliki majalah sendiri yang diberi nama The Time Place Magazine. Ini adalah majalah rujukan bagi penggemar jam tangan mewah. 

Saat ini Time International setidaknya sudah punya 100 gerai di seantero Indonesia. Di Medan, misalnya, Irwan membuka gerai INTime di Sun Plaza dan butik Fossil di Centre Point. Di Singapura, ada butik Rolex The Shoppes di Marina Bay. Di Palembang, dibuka butik Fossil di Palembang Icon Mall. 

Di Sulawesi, ada gerai Urban Icon di Makassar dan Manado. Adapun di Banjarmasin, Irwan mendirikan gerai Rip Curl di Duta Mall. 

Saat baru dimulai, hanya 10 karyawan yang bekerja di sana. Kini, ada hampir 1.000 karyawan yang bekerja di bawah naungan Time International yang memiliki moto sebagai 'The Great Place to Work' itu. 

Dari merek-merek ternama dunia itulah pundi-pundi uang mengalir ke kantong Mussry. Kita tahu, brand-brand seperti Cartier, Chanel, Tag Heuer rata-rata dijual berkisar di angka Rp100 juta. Itu belum lagi penjualan tas dan pakaian dari merek seperti Cartier atau Channel yang dibanderol di kisaran Rp150 jutaan. 

Maka tak heran jika kemudian dari bisnis itu Irwan Mussry dikabarkan memiliki jet pribadi dan koleksi mobil mewah mengingat Irwan juga seorang penggemar otomotif. 


Irwan Mussry dan timnya. 

Filosofi Jam Tangan  

"Saya terjun itu bukan karena orang tua saya semata-mata di bisnis jam. Dulu saya ke market beli barang tertentu enggak diservis. Gimana bisa lebih baik diservisnya maka saya dekati merek itu. Saya belajar marketing saat itu, saya dekati sekitar tahun 1970-an," kata Irwan seperti dikutip Jawa Pos saat peluncuran gerai LUMINE di Plaza Indonesia, Jumat, 7 Desember 2018. 

Menurut Irwan, ketika seseorang memakai jam tangan maka harus terlihat lebih rapi. Lantaran kecewa terhadap layanan purna jual, Irwan merasa tak nyaman dengan merek tersebut. 

"Sebab pakai jam tangan itu it's about yourself. Enggak ada artinya jika membeli yang orang lain suka. Belilah yang kamu suka. Jujurlah, yang suka dan tahu itu palsu atau bukan hanya kamu," kata Irwan Mussry.

Bagi Irwan, setiap jam tangan punya nilai cerita atau histori di baliknya.

"Saya ini bukan kolektor. Tetapi karena saya terjun di bidang ini, otomatis secara natural saya mengoleksi. Dan jam bagi saya itu ada story-nya. Misalnya membeli merek A. Jam pertama dulu sekali saya beli merek Casio itu karena ada kebutuhan jam tangan digital untuk rally mobil. Nah itulah story setiap jam tangan," katanya. 

Baginya, menggunakan jam tangan tak harus dilihat dari segi harga dan gengsi. Akan tetapi dia mencocokkannya dengan mood suasana hati hari itu dan kecocokan dengan busana yang dikenakannya.

"Sesuai mood lalu match atau tidak," ujarnya tersenyum.

Ditanya berapa jumlah dan harga termahal, Irwan Mussry enggan mengungkapkan secara detail. Namun dalam 10 tahun terakhir, banyak jam tangan miliknya yang dihibahkan kepada orang lain.

"Jumlahnya lumayan banyak karena puluhan tahun saya jalani bisnis ini otomatis jadi banyak koleksinya. Namun saya belakangan hanya menyimpan yang sekiranya bisa diperlukan untuk generasi selanjutnya saja, sisanya saya hibahkan," katanya tertawa.

Irwan juga seringkali memberikan hadiah jam tangan kepada orang-orang dekatnya pada momen tertentu.

Bagaimana, tertarik mengikuti jejak Irwan Mussry?[]

">">">