Dibalik kehebohan maskapai dengan pramugari berbikini, ternyata ada sentuhan seorang wanita di belakangnya. Beginilah Nguyen Thi Phuong Thao memulai maskapai itu

Kabar bakal beroperasinya maskapai Vietnam VietJet Air di Indonesia pada Mei 2019 disambut dengan rasa penasaran oleh sebagian masyarakat Indonesia. Kata kunci "Vietjet Air" mendadak nangkring sebagai salah satu topik paling dicari di Google Trends Indonesia. 

Maklum, maskapai ini pernah bikin heboh dengan atraksi pramugarinya yang hanya mengenakan bikini di atas pesawat. Walhasil, nama Vietjet Air menjadi buah bibir. Tak hanya di negaranya, tapi juga jadi perbincangan di antara sesama pebisnis maskapai penerbangan. 

Bagaimana tidak, maskapai yang dirintis sejak 2007 dan memulai penerbangan pada 2011 itu adalah maskapai swasta pertama di Vietnam dan menguasai 43 persen penerbangan domestik. Angka yang membuatnya mengalahkan Vietnam Airlines milik negara. 

Siapakah dibalik kehebohan itu? Ternyata, ada sentuhan seorang perempuan di sana. Namanya Nguyen Thi Phuong Thao. Pada 2017, majalah Forbes menempatkannya sebagai salah satu dari 100 wanita berpengaruh dunia. 

">

Ia tercatat sebagai salah satu orang terkaya dunia dengan taksiran kekayaan sekitar US$ 2,3 miliar atau setara Rp32,7 triliun. Itu membuatya menjadi satu-satunya miliarder wanita di Asia Tenggara dan orang terkaya kedua di Vietnam. 

Lahir pada 1970, Nguyen tak punya latar belakang pendidikan di dunia penerbangan. Ia belajar ekonomi dan keuangan di Rusia (saat masih bernama Uni Soviet) pada 1980-an. Sambil kuliah, ia juga berdagang hingga ke wilayah Eropa timur sejak 1988. 

Ketika reformasi melanda Uni Soviet, Nguyen melihat peluang bisnis dari kemiskinan yang merajalela dan orang-orang menghadapi kemiskinan. Nguyen pun mulai mengimpor barang-barang dari Asia ke Soviet. Uang untuk modal diperoleh dari teman dan kerabat dekatnya. 

Nguyen seolah punya kemampuan membaca trend sebelum terjadi. Dan, itulah yang dipercaya sebagai faktor terbesar yang membuatnya sukses di dunia penerbangan."

Lulus dari universitas di Moskow, Nguyen kembali ke Vietnam dengan membawa uang US$ 1 juta yang diperoleh dari aktivitas perdagangannya. Uang itulah yang dipakai untuk memulai bisnis baru di Vietnam. Ia masuk ke sejumlah bisnis seperti layanan keuangan, real estate hingga pembangkit listrik. 

Nguyen mulai tertarik pada industri penerbangan sejak 2001, enam tahun sebelum pemerintah Vietnam memulainya. 

Nguyen seolah punya kemampuan membaca trend sebelum terjadi. Dan, itulah yang dipercaya sebagai faktor terbesar yang membuatnya sukses di dunia penerbangan. 

Meskipun Vietnam tertinggal dari Malaysia dalam hal pembangunan ekonomi, tetapi Nguyen meyakini satu hal: negaranya adalah pasar besar bagi penerbangan murah. Pemikiran itu bersandar pada kenyataan dengan populasi penduduk sebesar 90 juta, namun sistem transportasi di sana belum berkembang. 

Sebelum menceburkan diri ke dunia penerbangan, Nguyen menyimpan keyakinan bahwa suatu ketika deregulasi pasti akan mampir ke industri penerbangan domestik. Dengan keyakinan itu, Nguyen mulai mempelajari seluk beluk bisnis penerbangan berbiaya murah seperti yang diterapkan Southwest, Ryan Air, dan AirAsia. Sembari itu, ia juga mendekati pemerintah untuk memulai pembicaraan tentang deregulasi di bisnis penerbangan Vietnam. 

Pada 2007, ia mendapatkan lisensinya. Namun, target beroperasi harus ditunda lantaran harga minyak pesawat (avtur) sedang tinggi-tingginya. 

Tiga tahun berselang, pada 2010, ia sempat menandatangani kerjasama patungan dengan AirAsia, namun belakangan dibatalkan. 

Setahun kemudian, Nguyen nekat memulainya sendiri. Bersama sang suami, mereka menguasai saham mayoritas Vietjet lewat perusahaan mereka, Sovico Holdings, sebuah perusahaan multi-industri yang memiliki lebih dari 25.000 staf. Sovico Holdings memiliki dan mengembangkan real estat besar di seluruh negeri, seperti Furama Resort, Aryana, Ana Mandara, Teluk An Lam Ninh Van (Nha Trang), Kota Naga (Saigon Selatan) dan Splendora (Hanoi).

Sejak itu, laju VietJet tak terhentikan. Dalam dua tahun, perusahaannya sudah meraup laba. Hingga 2017 lalu, Vietjet mengoperasikan 45 unit pesawat dan melayani 300 penerbangan per hari.   

Pada tahun yang sama, VietJet memesan lebih dari 200 unit pesawat dari Airbus dan Boeing dengan nilai transaksi hampir US$ 23 miliar. 

Pada Februari 2017, VietJet Air go public dan mencatatkan diri di bursa saham Vietnam. Saat ini, valuasi sahamnya telah melonjak hampir 50 persen sejak hari pertama IPO. Kapitalisasi pasar maskapai saat ini mencapai lebih dari 3 miliar USD. Berkat ini, Nguyen terdaftar dalam 100 wanita bisnis paling berpengaruh di Forbes pada tahun 2017. Asetnya saat ini adalah USD3,5 miliar serta dua perusahaan yang terdaftar di HOSE, Vietjet Air dan HDBank. Pada tahun 2018, Vietjet memulai sekitar 100 rute baru domestik dan internasional.


Kru pesawat Vietjet Air

Strategi Bikini 

Dalam sebuah wawancara dengan Nikkei, Nguyen tak menampik bahwa dirinya menjalankan strategi penggunaan bikini oleh pramugari di atas sebagai sebagai salah satu strategi bisnis. Sebagai strategi, taktik itu berhasil. Video dan gambar pramugari berbikini di dalam pesawat langsung viral. Bahkan, pada Januari 2018 lalu, pramugari berbikini menyambut tim sepakbola Korea Selatan usia 23 tahun dalam penerbangan dari Hanoi ke China. 

Kehebohan pun merebak kemana-mana. Korea Times menyebut tim sepakbola Korea Selatan dibuat malu gara-gara kelakuan kru Vietjet. 

Insiden itu membuat pihak berwenang di sana menghukum maskapai karena melanggar peraturan penerbangan. 

Bagaimana reaksi Nguyen? 

"Itu perayaan dadakan, kami meminta maaf atas ketidaknyaman itu," kata Nguyen seolah sudah tahu bagaimana menangani kontroversi itu. 

Kasus itu tak pelak menimbulkan kritik tajam. Nguyen dinaggap mengeksploitasi tubuh wanita untuk tujuan komersial. 

Saya ingin melihat Vietnam menjadi negara di mana perempuan dapat bekerja lebih dan memainkan peran lebih besar."

Namun, di balik itu, Vietjet Air justru punya mengutamakan perempuan dalam manajemen perusahaan.  Untuk pengawas pramugari, misalnya, 70 persennya adalah perempuan. 

"Saya ingin melihat Vietnam menjadi negara di mana perempuan dapat bekerja lebih dan memainkan peran lebih besar," kata Nguyen yang mengelola bisnisnya sambil membesarkan dua anak, dimana terkadang ia harus membawa anak-anaknya ikut serta dalam perjalanan bisnis. 

Untuk VietJet, Nguyen tak puas hanya dengan menjadi pemain di Vietnam. Ia ingin maskapainya terbang lintas negara. 

"VietJet ingin menjadi maskapai internasional, tidak hanya lokal," kata Nguyen.[]