Kabar terkini dari perundingan dagang AS-China menyebutkan, pihak Beijing yang menawarkan untuk mengimpor produk asal AS hingg mencapai $ 1 triliun per tahunnya. Upaya itu sekaligus ditujukan untuk memangkas besaran surplus yang diperoleh China dari perdagangannya dengan Amerika Serikat selama ini.

Sesi perdagangan saham akhir pekan ini akhirnya ditutup dengan lonjakan tinggi pada bursa saham Wall Street. Lonjakan tinggi sebelumnya juga dilapoirkan terjai di bursa saham Eropa dan Asia. Pelaku pasar disebutkan semakin optimis dengan jalannya perundingan dagang AS-China, setelah kabar sebelumnya masih menyisakan keraguan akan kebenaran informasi yang tersedia.

Kabar terkini dari perundingan dagang AS-China menyebutkan, pihak Beijing yang menawarkan untuk mengimpor produk asal AS hingg mencapai $ 1 triliun per tahunnya. Upaya itu sekaligus ditujukan untuk memangkas besaran surplus yang diperoleh China dari perdagangannya dengan Amerika Serikat selama ini. Tawaran kompromis  dari Beijing ini mendorong investor kian optimis bahwa Amerika Serikat dan China akan mampu menemukan jalan keluar dari sengketa dagang yang telah berumur lebih dari setengah tahun itu.

Praktis informasi tersebut diambut investor dengan eforia tinggi yang sekaligus menepis  simpang siur kabar sebelumnya yang datang dari Amerika di mana disebutkan akan dilonggarkannya tarif perdagangan oleh AS atas produk China.  Aksi beli investor akhirnya semakin tidak tertahankan hingga mengerek indeks Wall Street kembali ke kenaikan tajam dalam menutup pekan ini.

Indeks DJIA terpantau menanjak tajam 1,38% untuk menutup sesi perdagangan di 24.706,35, sementara indeks S&P 500 melompat tinggi 1,32% untuk berakhir di kisaran 2.670,71 dan indeks Nasdaq yang menguat signfikan 1,03 untuk terhenti di posisi 7.157,23.

Sentimen dari kemajuan perundingan dagang AS-China juga terpantau telah menjalar hingga pasar valuta. Pantauan terkini menyebutkan, pergerakan indeks Dolar AS yang kian menguat dan semakin dekat dengan pembentukan trend penguatan jangka menengah.  Penguatan indeks Dolar AS juga terlihat dari pergerakan nilai tukar mata uang mitra ekonomi utama AS yang terpangkas dalam sesi perdagangan akhir pekan.  Euro, Pound, Yen, serta Dolar Kanada terpantau mengalami pelemahan signifikan.

Pada sisi lainnya, penguatan indeks Dolar AS juga semakin menekan harga emas dunia. Optimisme pelaku pasar pada prospek  ekonomi global kembali merekah hingga mampu menggiring investor keluar dari investasi emas untuk kemudian memerosokkan harga emas lebih dalam. Pada ulasan harga emas yang dimuat bizlaw.id, beberapa jam lalu disebutkan, potensi pembentukan trend melemah harga emas bila mampu konsisten di kisaran harga tertentu. Potensi tersebut kini telah terealisir. Trend pelemahan harga emas di grafik H4 kini telah terbentuk dan kini cukup berpeluang untuk  menyeret grafik harian ke dalam trend penurunan.