Hadirnya smelter nikel di sana membuat Morosi menjadi kota dagang. Pertumbuhan ekonomi masyarakat mulai berubah.

Wajah Kery Saiful Konggoasa tampak sumringah. Ia baru saja pulang dari Jakarta. Konawe, kabupaten yang dipimpinnya di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara akhirnya mendapat restu dari Presden Joko Widodo sebagai kawasan industri. 

"Alhamdulillah, perjuangan kita disetujui pemerintah pusat. Ini langkah maju untuk Konawe lebih baik," kata Kery Saiful kepada wartawan Juli 2017. 

Konawe sebenarnya sudah ditetapkan sebagai salah satu kawasan industri sejak 2016. Namun, rumitnya urusan perizinan antar lembaga membuat tahapannya sempat molor. Urusan itu pula yang sempat menjadi penghalang di awal-awal PT Virtue Dragon Nickel Industri (VDNI) masuk ke sana. Anak perusahaan pabrik baja kedua terbesar di China itu yakni Jiangsu Delong Nickel Industry Co.Ltd sempat mengalami kendala. 

Contoh kasusnya misalnya soal luas lahan. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang Nomor 5 Tahun 2015 mengatur bahwa izin lokasi peruntukan lahan kawasan industri maksimal seluas 400 hektare. Sedangkan rencana luas lahan Kawasan Indstri Konawe seluas 5.500 hektare. Akibatnya, Virtue Dragon yang telah membeli 500 hektare belum mendapat legalitas dari kantor wilayah BPN Sulawesi Tenggara. Itu terjadi pada 2016. 

Maka wajar saja, Bupati Kerry sumringah ketika mendapatkan kepastikan izin status Konawe sebagai kawasan industri. Sebagai kawasan industri, Konawe difokuskan untuk industri smelter feronikel, pengolahan baja antikarat atau stainless steel dan produk turunannya. Ini dilakukan setelah pemerintah melarang ekspor mineral bahan mentah pada 2014. 

Sebagai pengelola kawasan industri itu, ditunjuk perusahaan daerah Konawe dan PT Virtue Dragon Nickel Industri, menggantikan PT Konawe Putra Propertindo. 

PT Virtue Dragon sendiri mengelola 2.200 hektare lahan hingga 2020. Saat ini, perusahaan asal China itu baru menggunakan sekitar 500 hektare. 

Dalam perencanaan Virtue Dragon, selain membangun smelter pengolahan feronikel, perusahaan juga akan membangun pabrik baja. 

Pada Mei 2018 lalu, manajemen Virtue Dragon mengatakan setidaknya akan ada enam perusahaan di bawah VDNI Group yang akan beroperasi di sana di lahan seluas 2.200 hektare. 

Yang pertama adalah PT Virtue Dragon Nickel Nickel yang telah beroperasi dengan target produksi tahunan 600 ribu metrik ton. 

Kedua adalah PT Osidian Stainless Steel (OSS) yang mengolah feronikel (campuran nikel dan besi) menjadi nikel murni. Nantinya, perusahaan ini direncanakan memproduksi produk jadi berupa baja antikarat atau stainless steel. 

"Nantinya bahan baku feronikel yang dihasilkan di VDNI akan dipakai oleh OSS untuk diolah jadi bahan Stainless. Nanti kita tunggu respon investor lainnya lagi untuk masuk dan mendirikan perusahaan turunan lainnya. Misalnya pabrik pengolahan panci dan lain sebagainya, yang merupakan turunan dari bahan baku stainless. Jadi ini akan berkesinambungan nantinya,” kata Burhan, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pusat Terpadu Satu Pintu Konawe. 

Ketiga adalah PT. Emeral Ferrocomium Industry yang telah mengantongi izin dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk pembangunan industri skala menengah dan besar. 

Keempat, PT Galangan Cinta Bahari. Perusahaan ini merupakan perusahaan galangan kapal yang salah satu fungsinya adalah sebagai tempat memperbaiki kapal-kapal yang rusak. Perusahaan ini akan menempati area seluas 20 hektar.

Kelima, perusahaan Gas Plant yang akan menempati area seluas 20 Ha.

Terakhir, PT Muara Sampara yang telah beroperasi dan mengurusi aktivitas bongkar muat di pelabuhan jeti kawasan industri itu.


Jety milik Virtue Dragon Nickel Industri di Konawe | Dok. VDNI

Pemerintah pusat sendiri mengucurkan dana Rp8 triliun untuk membangun infrastruktur pendukung seperti jalan dan lainnya. 

Perubahan status Konawe menjadi Kawasan Industri dirasakan benar oleh warga yang mendiami Kecamatan Morosi, tempat Virtue Dragon Nikel beroperasi. Meskipun sempat berselisih dengan perusahaan, warga di sana kini merasakan dampak kehadiran perusahaan. 

Di Desa Puurui,  misalnya. Desa ini tadinya adalah pemukiman terpencil yang dikelilingi rawa dan hutan. Namun sejak pabrik PT VDNI beroperasi sejak 2015, wajah desa ini langsung berubah total. Sejak itu, sejumlah pekerja dari luar desa, kecamatan berdatangan. Bahkan, pekerja dari Tiongkok juga banyak terlihat.

Hadirnya smelter nikel di sana membuat Morosi menjadi kota dagang. Pertumbuhan ekonomi masyarakat mulai berubah. Sejumlah warga yang dulunya bekerja sebagai petani tambak, kini banyak yang membuka warung di sekitar pabrik. 

Asni, warga Desa Puurui, Kecamatan Morosi, turut merasakan keberuntungan itu. Walaupun hanya jualan makanan, dia mengaku mampu meraup Rp2 juta perhari. 

"Itu pun kalau banyak orang Cina datang makan," kata Asni seperti dikutip beritagar.id

Mia, 28 tahun, juga merasakan hal yang sama. Warga Kendari yang sehari-hari datang berjualan telur dan kebutuhan dapur lainnya, sangat merasakan dampak pertumbuhan ekonomi di sekitar pabrik smelter. Dengan menggunakan mobil pikap, dalam sehari dia mampu meraup Rp3 juta.

"Biasanya banyak orang Cina belanja. Kadang ada juga dari warga sini," katanya.

Bupati Konawe, Kery Syaiful Konggoasa menyebut, dulunya Morosi ibarat daerah kumuh. Tak ada orang yang mau tinggal di situ. Namun sejak hadirnya pabrik smelter itu, pikiran masyarakat berubah drastis. Mereka sudah enggan lagi meninggalkan kampung itu dan memilih membangun usaha.

"Banyak warga dari luar ingin sekali tinggal di Morosi sekarang. Karena banyak uang yang beredar di sana," kata Kerry. 

Di PT VDNI saat ini ada 2.300 orang. Dari jumlah itu sekitar 80 persen adalah warga Konawe. "Saya yakin, Konawe ini bisa menjadi masa depan Indonesia nantinya," katanya.

Sejak awal datangnya investasi ini, masyarakat sekitar Morosi mendapatkan untung banyak. Satu hektare lahan yang dibebaskan dihargai Rp70 juta.

Pihak PT VDNI telah membebaskan 2.200 hektare sebagai area pabrik. Bila dikalkulasi, total investasi hanya untuk pembelian tanah kurang lebih Rp1,5 triliun.

Kery mengklaim, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Konawe meningkat sekitar 6,9 persen. Angka itu hanya kalah dari Provinsi Sulawesi Selatan di peringkat pertama dengan pertumbuhan ekonomi di 7,4 persen.

"Perputaran uang di Konawe Rp6 triliun dalam setahun. Banyak uang yang beredar di Konawe, apalagi di Morosi," kata Kerry, sumringah.[]