Di Indonesia, PT Virtue Dragon Nickel Industry dipimpin anak muda bernama Andrew Zhu. Di China, sang ayah mertua mendirikan Jiangsu Delong Nickel Industri. Lantas, apa misi Andrew di Indonesia?

Nama PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) tak asing lagi bagi masyarakat Konawe di Sulawesi Tenggara. Inilah perusahaan pertama yang masuk ke Konawe, sebuah kawasan industri baru seluas 5.500 hektare di kaki kanan Pulau Sulawesi. Kawasan ini dikhususkan pada industri feronikel, pengolahan nikel yang produk akhirnya dipakai untuk lapisan baja antikarat atau stainless steel. Sekitar 70 persen konsumsi nikel dunia dipakai di industri baja antikarat, sisanya untuk baterai, eektronik, dan kebutuhan rumah tangga. 

Adalah Andrew Zhu, seorang anak muda berusia 29 tahun yang memimpin tim ke Indonesia pada 2014. Datang dari China, Andrew membawa investasi US$ 1 miliar. Sementara di China, ayah mertuanya bernama Dai Goufang mendirikan pabrik produsen logam bernama Jiangsu Delong Nickel Industri Co.Ltd. Andrew menjabat Presiden Direktur Virtue Dragon Nickel Industries.  

Dalam situs perusahaannya, Jiangsu Delong Nickel Industry menyebutkan mengimpor laterite nickel ore dari Philipina dan Indonesia. Di sana, butiran nikel itu diolah lagi menjadi feronikel cair sebagai pelapis baja antikarat. Didirikan pada 2010, Jiangsu Delong Nickel disebut mempekerjakan 10 ribu karyawan.

Dalam sebuah wawancara dengan Nikkei Asian Review, Andrew Zhu mengaku dirinya datang ke Indonesia dengan tergesa-gesa dan rada ceroboh. 

">

"Kami hanya tidak punya waktu untuk melakukan uji tuntas yang menyeluruh," kata Andrew. 

Ketika Andrew datang ke Indonesia empat tahun lalu, pemerintah baru saja memberlakukan pembatasan ekspor mineral yang belum diolah. Lugasnya: dilarang ekspor mineral mentah sebelum diolah termasuk nikel dan bijih bauksit. Mereka pun diwajibkan mendirikan smelter untuk mengolah bahan mentah menjadi produk lanjutan seperti butiran nikel yang telah dipisahkan dari material lain.  Konsekuensinya: ada pembengkakan anggaran. 

Namun Andrew tak surut. Bijih nikel Indonesia termasuk yang terbaik dunia. Tahap pertama, dengan bantuan pembiayaan dari China First Heavy Inddustry milik negara, Virtue Dragon menginvestasikan $1 miliar untuk membangun smelter nikel, pembangkit listrik, juga pelabuhan jetty di ujung tenggara pulau Sulawesi. 

Itu baru investasi tahap pertama. Hingga 2020, Virtue Dragon merencanakan akan mengucurkan US$ 5 miliar untuk membangun kapasitas tambahan dana pabrik baja stainless steel


 Smelter VDNI

Pada awal-awal pembangunan smelter, perusahaan ini sempat terkendala lahan. Masalahnya lantas ditangani oleh Pokja IV Percepatan Investasi dan bisa diselesaikan. Namun, muncul lagi persoalan lain: mulai dari izin pembuangan limbah, izin mendirikan bangunan, hingga diguncang isu ketenagakerjaan karena dianggap membawa banyak pekerja dari China. Terkait hal itu Zhu berjanji melatih staf lokal dan mengurangi jumlah pekerja dari China secara bertahap. 

Namun, dengan segala masalah yang menghadang, pada 8 September 2017, Virtue Dragon mengangkut 7.733 metrik ton feronikel pertama ke China menggunakan kapal MV Seiyo Sapphire. Meninggalkan Pelabuhan Muara Sampara di Konawe, kapal berlayar menuju Pelabuhan Chenjiagang di China. Yang dituju tentu saja Jiangsu Delong Nickel Industri Co.Ltd, perusahaan yang didirikan ayah mertua Andrew Zhu. 

Dalam perbincangan dengan Nikkei Asian Review, Andrew Zhu sempat menyampaikan keluh kesah soal birokrasi yang dinilainya berbelit dan menantang. Konsep perizinan terpadu yang digembar-gemborkan pemerintah, menurut Andrew tak seindah yang muncul diiklan. 

"BKPM (Badan Investasi Koordinasi Indonesia) tidak memiliki wewenang untuk mengeluarkan beberapa izin penting yang kami butuhkan," katanya. 

"Apa yang mereka lakukan adalah mereka mengumpulkan pihak-pihak yang berkepentingan dan mengadakan pertemuan. Pertemuan itu bermanfaat tetapi mereka tidak serta-merta menyelesaikan masalah Anda. Tapi itu sudah bergerak ke arah yang baik," kata Andrew. 

Di China, perusahaan ayah mertua Andrew harus kejar-kejaran target dengan pesaingnya China Tsingshan Holding Grup. 

"Kami adalah dua pemain terbesar di pasar nikel di Cina," kata Zhu. 

Di China, ayah mertua Andrew yaitu Dai Guofang dikenal sebagai pengusaha yang punya jejak panjang di industri baja. Pada 2004, Dai pernah dipenjara selama lima tahun karena penggelapan pajak dan pengadaan tanah ilegal ketika masih menjabat sebagai kepala eksekutif Tieben Steel. Menurut Zhu, Dai tidak bersalah dan rencana ekspansi ambisiusnya untuk Tieben diganjal "permainan politik."


Dengan segala latar belakang itu, juga tekanan untuk mempercepat proses dari perusahaan induk di China, Andrew harus berurusan dengan pejabat di daerah. Padahal, kata dia, Virtue Dragon telah memperoleh izin secara sah. "Kami mendapat bantuan secara kolektif dari sejumlah lembaga pemerintah pusat, dan menemukan solusi untuk semua masalah yang kami hadapi."

Kini, setelah pengapalan perdana dilakukan. Zhu kian optimis bisnisnya di Indonesia akan berjalan baik. 

November 2018 lalu, dari Konawe, Site Manager Virtue Dragon mengatakan telah merekrut sekitar 6 ribu lebih tenaga kerja lokal untuk mengoperasikan pabrik pengolah nikel. 

"VDNI akan terus ciptakan lowongan pekerjaan hingga 10 ribu orang pada 2019," kata Toni, 11 November 2018. 

Dua bulan sebelumnya, pada September 2018, VDNI mengirim 28 tenaga kerja lokal ke China. Mereka akan dilatih selama setahun di Yancheng Technology Institute. Sebelumnya, pada Mei 2018, ada 46 pekerja lokal belajar ilmu peleburan logam di Yunnan Kunming Metalurgical Collage. 

"Itu bagian dari program alih teknologi kepada tenaga kerja Indonesia," kata Humas DVNI, Arys Nirwana. 

Alih teknologi bagi pekerja lokal memang penting. Tetapi, yang juga tak kalah penting bagi Andrew Zhu adalah membuat bisnis keluarganya bisa tetap berkibar. 

"Jika ingin ekspansi, kita harus melakukannya di Indonesia dan dekat dengan bahan bakunya," kata Andrew.[]