Saat fit and proper test di DPR Perry menceritakan dia adalah orang desa dan berasal dari keluarga petani. Inilah rekam jejak karirnya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Dolar AS kian dekat ke bawah Rp 14.000. Pada Jumat (11/1/2018) pukul 13:00 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.015. Rupiah menguat 0,25% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga nilai tukar rupiah menjelang 2019. Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menuturkan lembaganya menyiapkan tiga strategi intervensi agar pergerakan kurs dapat stabil. Pertama melalui intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), pasar valuta asing (valas), hingga melalui mekanisme baru Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).

"Kami akan terus berada di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik," ujarnya, kepada Tempo, Jumat 7 Desember 2018.

Dody menjelaskan bank sentral berkomitmen untuk semakin memperkaya instrumen lindung nilai (hedging) dengan harga yang lebih murah, seperti swap hedging.

"Dan dengan diluncurkannya DNDF juga akan memperluas opsi pelaku pasar untuk mengelola kebutuhan valas-nya," katanya.

Lelang transaksi DNDF untuk pertama kali telah dibuka pada pertengahan November lalu, yang ditargetkan dapat meraup transaksi hingga US$ 100 juta. Dengan transaksi ini diharapkan rupiah dapat menguat, dan investor juga perbankan dapat terlindungi dari risiko nilai tukar.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, BI akan fokus pada kebijakan untuk menjaga stabilitas pada 2019. Khususnya pengendalian inflasi sesuai sasaran, yakni 3,5+1% dan menjaga nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya.

Hal ini mengingat tekanan ekonomi global di tahun depan masih akan terus berlanjut. Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) masih akan melakukan pengetatan moneter hingga 3 kali di 2019. Kondisi ini juga diikuti dengan normalisasi kebijakan moneter di Uni Eropa dan sejumlah negara maju lainnya. Dan ini tak lepas dari tangan dingin Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Perry Warjiyo Pria kelahiran Sukoharjo, 25 Februari 1959 si anak petani dilantik oleh Ketua Mahkamah Agung Muhammad Hatta Ali sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI). Dia bertugas sebagai pimpinan BI periode 2018-2023 menggantikan Agus D.W Martowardojo yang masa jabatannya habis tepat pada 24 Mei 2018.

Perry telah menjalani rangkaian uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR RI pada Rabu pagi 28 Maret lalu. Kemudian sore harinya anggota komisi memutuskan secara mufakat Perry sebagai Gubernur BI.

Lalu enam hari kemudian, sidang paripurna DPR pada Selasa 3 April 2018 menetapkan Perry sebagai Gubernur BI. DPR meminta Perry untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional dalam menghadapi gejolak ekonomi global.

Mengutip laman resmi bi.go.id Perry sebelumnya adalah Deputi Gubernur. Ia diangkat sebagai Deputi berdasarkan keputusan Presiden 28/P tahun 2013 dan secara resmi memulai jabatannya sejak 15 April 2013 untuk masa jabatan 2013-2018.
Sebelumnya Perry menduduki posisi Asisten Gubernur untuk perumusan kebijakan moneter, makroprudensial dan internasional di BI. Perry juga pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI.

Pada 2009 Perry pernah menduduki posisi Direktur Eksekutif di International Monetary Fund, mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam South East Asia Voting Group.

Karir Perry di BI dimulai sejak 1984 khususnya area riset ekonomi dan kebijakan moneter, isu-isu internasional, transformasi organisasi dan strategi kebijakan moneter, pendidikan dan riset kebanksentralan, pengelolaan devisa dan utang luar negeri, serta kepala Biro Gubernur.

Selain menjadi anggota Dewan Gubernur, Perry juga menjadi dosen Pasca Sarjana di Universitas Indonesia bidang Ekonomi Moneter dan Ekonomi, di samping itu dia juga sebagai dosen tamu di sejumlah universitas di Indonesia.

Perry mengantongi gelar Master dan PhD bidang Moneter dan Keuangan Internasional diperoleh Iowa State University, AS, masing-masing pada 1989 dan 1991. Perry telah menulis dan mempublikasikan sejumlah buku, jurnal dan makalah di bidang ekonomi, moneter dan isu internasional.

Saat fit and proper test di DPR Perry menceritakan dia adalah orang desa dan berasal dari keluarga petani. Ia juga menceritakan pernah beberapa kali duduk di kursi ruang rapat Komisi XI untuk pemilihan.

"Saya adalah orang desa, berasal dari keluarga petani. Lima tahun lalu, saya duduk di sini untuk pemilihan Deputi Gubernur BI, tiga kali saya tidak berhasil, tapi akhirnya kami belajar komunikasi politik yang baik. Alhamdulillah saya menjalankan mandat dan proaktif dorong pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Perry dikutip dari detikFinance 3 April 2018.

Dia menambahkan, sudah 34 tahun di BI banyak yang sudah dilakukan olehnya untuk Indonesia.

"Begitu banyak yang sudah dibaktikan tak hanya untuk ekonomi nasional tapi juga untuk internasional. Sejak saat itu ini jadi bekal kami untuk mengabdi, jika ini jadi amanah (Gubernur BI) saya akan tunaikan secara amanah dan berdedikasi tidak hanya untuk BI tapi juga untuk Indonesia dan kita bersama," ucap Perry.

Pria kelahiran Sukoharjo, 25 Februari 1959 ini menamatkan pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1982. Kemudian, Perry mendapatkan gelar Master dan Ph.D Ekonomi Moneter dan Internasional dari Iowa State University, Amerika Serikat pada tahun 1989 dan 1991.

Sambil menyelesaikan kuliah S2 dan S3, Perry bekerja di Bank Indonesia terhitung sejak 1984. Berbagai jabatan strategis diemban olehnya terutama di bidang riset ekonomi dan kebijakan moneter, transformasi organisasi dan strategi kebijakan moneter, pendidikan dan riset kebanksentralan, pengelolaan devisa dan utang luar negeri, serta kepala Biro Gubernur.

Lalu, saat usianya 39 tahun Perry yang mengaku anak petani miskin ini menduduki posisi Kepala Biro Gubernur Bank Indonesia. Selang 3 tahun Perry menjadi Project Leader Unit Khusus Program Transformasi (UKPT).

Kariernya terus menanjak. Pada tahun 2003, Perry mengemban tugas baru sebagai Direktur Pusat Pendidikan dan Studi Kebangsentralan. 

Kecemerlangan Perry terbukti dengan terpilihnya dirinya sebagai Direktur Eksekutif di International Monetary Fund, mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam South-East Asia Voting Group selama 2 tahun hingga 2009.

Pria yang berprofesi sebagai dosen Pasca Sarjana bidang Ekonomi Moneter dan Ekonomi Keuangan Internasional di Universitas Indonesia ini kembali ke tanah air dan berkarier di Bank Indonesia sebagai Asisten Gubernur Bank Indonesia yang bertugas untuk perumusan kebijakan moneter, makroprudensial dan internasional di Bank Indonesia.

Kariernya terus meroket. Pada tahun 2018, Presiden Joko Widodo memilih Perry sebagai calon tunggal gubernur Bank Indonesia. Jokowi mengajukan nama Perry ke DPR RI.   Pilihan Jokowi ini terhadap lulusa UGM ini karena memiliki rekam jejak yang bisa dipertanggungjawabkan. Perry telah membuktikan kemampuannya selama 34 tahun di dunia perbankan. []