Keuntungan yang didapat dari reksadana ini tidak lagi dipotong pajak karena sudah langsung dihitung dari NAB-nya.

Masih banyak orang yang bingung mau diapakan uang yang dimilikinya. Apakah ditabung, investasi, atau diputar untuk membuka usaha.

Jika tertarik untuk jalur investasi, namun tidak memiliki uang yang banyak, reksadana bisa menjadi jawabannya.

Dikutip dari bareksa, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Produk investasi reksadana sangat cocok bagi para investor yang memiliki banyak keterbatasan, seperti waktu terbatas, dana terbatas, informasi terbatas, dan pengetahuan investasi yang terbatas.

Di samping itu, instrumen ini juga mampu mengurangi risiko investasi karena disebarkan pada berbagai produk investasi. Tetapi bukan berarti reksadana bebas risiko. Untuk itu, investor tetap perlu mempelajari berbagai risiko produk ini.

Mekanisme Transaksi

Pada dasarnya, transaksi di reksadana sangat mudah. Kita cukup mencari produk reksadana yang sesuai, pilih manajer investasinya, baca prospektusnya, lalu lakukan pembelian (subscription) dan transfer dananya.

Selain itu, kita juga bisa membeli langsung melalui manajer investasi atau membelinya lewat agen penjual reksadana (APERD) yang ditunjuk, salah satunya Bareksa. Kita datang ke penjual reksadana, membuka rekening reksadana, mengisi formulir, menyiapkan fotokopi identitas, dan tentu saja menyiapkan dana yang hendak diinvestasikan untuk membeli unit reksadana.

Sebagai buktinya kepemilikan unit reksadana tersebut, kita akan mendapat sertifikat reksadana sejumlah unit yang kita beli. Unit penyertaan reksadana ada dua jenis. Pertama, unit penyertaan reksadana yang bisa dijual kembali kepada manajer investasi disebut reksadana terbuka (open end). Sebagian reksadana yang ada di Tanah air berbentuk reksadana terbuka. Kebalikannya adalah reksadana tertutup (close end), yakni reksadana yang hanya bisa dijual kepada investor lain melalui pasar sekunder.

Manajer investasi merupakan elemen penting dalam transaksi reksadana. Sebab, ketika kita membeli unit penyertaan reksadana, maka kita mempercayakan pengelolaan dana tersebut kepada mereka.

Adapun yang dimaksud dengan pengelolaan dana adalah manajer investasi akan melakukan transaksi jual beli saham di bursa, dan hasil dari pengelolaan mereka akan tercermin dalam harga unit penyertaan yang biasa dikenal dengan istilah NAV/NAB (Net Asset Value/Nilai Aktiva Bersih).

Pada reksadana, manajer investasi mengelola dana-dana yang ditempatkannya pada sebuah surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan menerima dividen atau bunga yang dibukukan ke dalam NAB reksadana tersebut.

NAB merupakan salah satu tolok ukur dalam memantau hasil dari suatu reksadana. NAB per saham/unit penyertaan adalah harga dari portofolio suatu reksadana setelah dikurangi biaya operasional kemudian dibagi jumlah saham/unit penyertaan yang telah beredar (dimiliki investor) pada saat tersebut.

Satuan reksadana dihitung berdasarkan unit penyertaan (UP) dan NAB. Sebagai contoh, hari ini reksadana X harga NAB-nya Rp1.300. Kita berencana membeli 1.000 UP, maka kita membutuhkan dana Rp1,3 juta (plus komisi/fee).

Seandainya akhir tahun nanti harga NAB-nya Rp1.500 dan kita hendak mencairkan reksadana kita, maka keuntungan kita sebesar Rp200 ribu (minus komisi/fee). Sebaliknya, andaikan harga NAB-nya turun menjadi Rp1.000, maka kerugian kita menjadi Rp300 ribu (plus komisi/fee).

Keuntungan yang didapat dari reksadana ini tidak lagi dipotong pajak karena sudah langsung dihitung dari NAB-nya.

Tertarik untuk mencoba mulai investasi di reksadana?

">">