PT Vale Indonesia yang merupakan pemasok 5 persen kebutuhan nikel global akan berakhir kontraknya pada 2025. Seperti apa prospeknya?

Freeport Indonesia Telah kembali ke tangan Indonesia. Namun belakangan ini  produksi atau pendapatan Freeport menurun. Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum Budi Gunadi Sadikin mengatakan produksi Freeport Indonesia kembali stabil pada 2023. Perusahaan pertambangan emas ini diperkirakan akan mencetak laba bersih US$ 2 miliar per tahun setelah 2023.

Induk PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium menyatakan Freeport tidak akan membayar dividen pada 2019 dan 2020.  Hal ini lantaran laba perusahaan pada tahun ini diproyeksikan bakal merosot dibandingkan 2018.

Dalam kondisi begini, tak ada salahnya jika kita mengalihkan pandangan ke PT Vale di Indonesia Tbk.  Beroperasi di Indonesia sejak 1968, Vale menjalankan kegiatan penambangan dan juga pengolahan nikel matte secara terintegrasi di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Lima dekade kemudian, Vale telah menjadi bagian dari rantai pasokan nikel dunia dan produksi nikel matte Vale sudah memasok 5% kebutuhan global.

Hingga saat ini, Vale selalu berupaya untuk memproduksi logam olahan dengan memanfaatkan energi terbarukan. Tiga PLTA yang dibangun dan dioperasikan Perusahaan yaitu PLTA Larona, Balambano, dan Karebbe dengan kapasitas total 365 Megawatt telah memasok 94% kebutuhan listrik di pabrik pengolahan nikel. Selain itu juga mampu menurunkan ketergantungan Perusahaan terhadap bahan bakar fosil dan mereduksi emisi karbon sebesar 500 ribu ton CO2eq per tahun.

Selain untuk kebutuhan operasional, energi listrik yang dihasilkan tiga PLTA tersebut, 10,7 MW di antaranya didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Kabupaten Luwu Timur melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN). Vale juga melanjutkan program penggunaan biodiesel yang merupakan pencampuran bahan bakar diesel dan bahan bakar nabati (BBN) yakni Fatty Acid Methyl Ester (FAME) hingga 20% yang digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan operasional Perusahaan.

Hingga lima dekade dan berikutnya Vale tetap eksis dan bertahan salah satunya karena perusahaan mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) melalui praktik tambang yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup dan sosial. Ini sesuai dengan misi Perusahaan yaitu mengubah sumber daya alam menjadi sumber kemakmuran dan pembangunan berkelanjutan.

Lini produksi Vale  beroperasi dengan energi terbarukan yang dihasilkan oleh tiga pembangkit listrik tenaga air, yang secara keseluruhan menghasilkan 365 mega watt tenaga listrik."

PT Vale Indonesia Tbk merupakan anak perusahaan dari Vale, sebuah perusahaan pertambangan global yang berkantor pusat di Brasil. sebelumnya bernama PT International Nickel Indonesia Tbk. (PT Inco), perusahaan ini mengoperasikan tambang nikel open pit dan pabrik pengolahan di Sorowako, Sulawesi, sejak tahun 1968. Saat ini, Vale  menjadi produsen nikel terbesar di Indonesia dan menyumbang 5% pasokan nikel dunia.

Vale menambang nikel laterit dan mengolahnya menjadi nickel matte, yang dikirim ke konsumen tetap kami di Jepang.Nikel banyak dikombinasikan dengan logam lain untuk membentuk campuran karena fleksibilitas dan ketahanannya terhadap oksidasi dan korosi. Logam ini mampu mempertahankan karakteristiknya bahkan dalam suhu ekstrem. Nikel digunakan dalam berbagai produk, seperti televisi, baterai isi ulang, koin, peralatan makan bahkan gerbong kereta.

Lini produksi Vale  beroperasi dengan energi terbarukan yang dihasilkan oleh tiga pembangkit listrik tenaga air, yang secara keseluruhan menghasilkan 365 mega watt tenaga listrik. Saat ini, tingkat produksi tahunan kami mencapai rata-rata 75.000 metrik ton nickel matte. Dengan investasi lanjutan sebesar AS$2 miliar, Vale menargetkan peningkatan produksi tahunan menjadi 120 ribu metrik ton nikel matte dalam lima tahun ke depan.

PT Vale berkomitmen untuk memberi nilai tambah dan mengembangkan warisan yang positif bagi generasi selanjutnya. Setiap tahunnya, Vale terus meningkatkan standar pengelolaan lingkungan dengan cara mengedepankan inovasi teknologi yang aman, efektif serta ramah lingkungan. Tahun lalu, Vale bahkan sudah menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan (SML) yang mengacu pada standar internasional ISO 14001:2015. Tujuannya adalah memperluas cakupan pengelolaan lingkungan yang diintegrasikan dengan proses bisnis strategis perusahaan di masa depan.

Selain itu, dalam upaya menjaga keberlangsungan bisnis perusahaan, Vale menerapkan prinsip good corporate governance (GCG) atau tata kelola perusahaan yang baik. Mengedepankan keterbukaan dan transparansi, Vale menjunjung etika bisnis dengan cara menghindari risiko korupsi dan suap.

Vale juga menjaga hubungan kerja yang beretika dengan karyawan maupun kontraktor partner. Saat ini, 87% karyawan Vale adalah warga lokal yang seluruhnya terikat pakta integritas. Demikian pula dengan kontraktor yang dijamin terikat dengan regulasi untuk mencegah praktik suap dan konflik kepentingan.

Di area tambang, Vale mengintegrasikan kegiatan pembukaan lahan tambang dengan kegiatan reklamasi dan rehabilitasi. Hingga tahun lalu, total sudah 4.242 hektar lahan purnatambang yang direklamasi. Total akumulasi jumlah pohon yang ditanam di lahan pasca-tambang mencapai lebih dari 1,2 juta batang pohon. 

Untuk mendukung kegiatan rehabilitasi lahan pascatambang, Vale mendirikan kebun bibit modern (nursery) yang telah beroperasi sejak April 2006. Berdiri di area seluas 2,5 hektar di Sorowako, fasilitas tersebut mampu memproduksi rata-rata 700.000 bibit dan merehabilitasi lebih 100 hektar lahan purnatambang setiap tahun. Nursery milik Vale juga memproduksi berbagai jenis tanaman asli setempat dan tanaman endemik yang merupakan bagian dari konservasi keanekaragaman hayati.

Dalam upaya konservasi biodiversitas, Vale telah memiliki rencana pascatambang dan manajemen keanekaragaman hayati untuk wilayah operasi penambangan di blok Sorowako. Sebelum kegiatan penambangan dilakukan, Perusahaan memastikan tidak ada spesies fauna maupun flora dilindungi yang ditemukan di lokasi penambangan.

Tentu saja Vale tidak sendirian. Bersama dengan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) dan Yayasan Burung, Vale menyusun Dokumen Panduan Pengelolaan Biodiversiti Berkelanjutan. Panduan yang dirilis pada 2018 itu merupakan dokumen pertama di bisnis tambang Indonesia untuk kegiatan pelestarian keanekaragaman hayati.

Cara Vale mengolah limbah

Limbah cair atau effluent yang dihasilkan dari kegiatan operasi penambangan dan pengolahan bijih nikel dikelola untuk mengurangi pencemaran badan air. Vale memiliki dua fasilitas pengolahan limbah cair, yaitu Pakalangkai Waste Water Treatment yang merupakan fasilitas dengan 85 kolam pengendapan limbah cair (pond).

Yang kedua adalah Lamella Gravity Settler (LGS) yang terintegrasi dengan 17 kolam pengendapan yang berasal dari aliran Pakalangkai Waste Water Treatment dan berkapasitas 16 juta meter kubik. Penerapan teknologi Lamella Gravity Settler milik Vale adalah yang pertama diterapkan untuk industri pertambangan.

Hasil pengukuran effluent yang bermuara ke Danau Matano dan Danau Mahalona selalu berada jauh di bawah baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah. Badan air danau terlihat jernih meskipun Vale telah beroperasi selama 50 tahun di Sorowako.

Vale juga tak lupa dalam memberdayakan masyarakat sekitar wilayah tambang melalui Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB). Melalui kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, Vale memperkenalkan Para petani mendapat pelatihan dan pendampingan budidaya padi ramah lingkungan dengan System of Rice Intensification (SRI) Organik.

Perlahan, petani yang sudah puluhan tahun terbiasa menggunakan pola konvensional dengan penggunaan bahan kimia secara masif, beralih ke pertanian ramah lingkungan. SRI Organik kini telah dipraktikkan oleh 196 petani di lahan seluas 83,9 hektar di sembilan kecamatan se-Luwu Timur. Petani binaan Vale menghasilkan beras berlabel "Matano Rice" yang sudah mendapat sertifikat organik berskala nasional dari lembaga sertifikasi INOFICE.
 
Seperti halnya Freeport, PT Vale Indonesia tak lama lagi akan jadi incaran divestasi berikutnya. Perusahaan ini akan habis kontraknya pada 2025. Sesuai kontrak karya, Vale wajib menawarkan sebagian sahamnya kepada pemerintah. 

Pada 2014, Vale Indonesia dan pemerintah menandatangani nota kesepahaman. Perusahaan itu wajib mendivestasi saham maksimal 40 persen. Angka itu lebih rendah dari ketentuan UU Nomor 4 Tahun 2009 yang mewajibkan pemegang kontrak karya melepas 51 persen saham setelah kontraknya selesai. 

Sejauh ini, Vale telah menyatakan kesiapan untuk proses divestasi saham. Hanya saja, pemerintah juga harus mengukur kembali kapasitas produksi Vale. Jangan sampai, uang yang dikeluarkan untuk divestasi, justru tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat. Jangan sampai, berharap untung, malah justru buntung![]

">