Doni menjadi jenderal bintang tiga pertama yang menjadi Kepala BNPB.

Letjen Doni Monardo resmi dilantik sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Doni dilantik langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Prosesi pelantikan berlangsung sejak pukul 09.05 WIB di Istana Negara, Jakarta, Rabu (9/1/2019). Doni tampak mengenakan setelan jas warna hitam dan peci warna hitam.

Meski sempat tertunda, mantan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu dilantik dengan Surat Keputusan Presiden No 5/P Tahun 2019 tentang Pengangkatan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Doni menjadi jenderal bintang tiga pertama yang menjadi Kepala BNPB. Sebab Kepala BNPB sebelumnya yakni Lakasama Muda (Purn) Willem Rampangilei dan Syamsul Maarif berpangkat jenderal bintang dua atau Mayor Jenderal (Mayjen) saat menjadi Kepala BNPB.

Usai pelantikan, Jokowi lantas memberikan ucapan selamat. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang hadir turut serta di belakang Jokowi untuk memberikan ucapan selamat kepada Doni.

Letjen Doni Monardo lahir di Cimahi, Jawa Barat, 10 Mei 1963. Namun orang tuanya berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat. Istrinya yakni Santi Ariviani berasal dari Solok Sumatera Barat. Doni adalah menantu Kolonel (Purn) Taufik Marta yang pernah menjadi Bupati Pasaman Sumbar dua periode selama tahun 1990 hingga tahun 2000

Doni adalah putra dari pasangan asal Nagari Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Ayahnya seorang tentara bernama Letkol Nasrul Saad, sedangkan ibunya bernama Roeslina.

Setamat SMA, Doni kemudian melanjutkan pendidikan ke AKABRI dan lulus tahun 1985. Menjalankan karir sebagai tentara, Doni lama bertugas di Komando Pasukan Khusus atau Kopassus. Terhitung dari tahun 1986 sampai tahun 1998. Selama di Kopassus, Doni pernah ditugaskan ke Timor Timur hingga Aceh.

Usai ditugaskan di Kopassus Ia kemudian ditugaskan di Batalyon Raider di Bali pada tahun 1999 sampai 2001. Tak butuh waktu lama, Doni langsung ditarik ditugaskan menjadi Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) hingga tahun 2004.

Doni ditugaskan menjadi Komandan Paspampres (Danpaspampres) dengan pangkat Mayor Jenderal masa jabatan 15 Juni 2012 hingga 5 September 2014. Kariernya moncer, tanggal 5 September 2014 Doni menjadi Komandan Jenderal Kopassus menggantikan Mayjen TNI Agus Sutomo. Ia menjabat sampai 25 Juli 2015.

Pada 2011, nama Doni Monardo melambung usai keberhasilannya saat ikut dalam Operasi Pembebasan Sandera MV Sinar Kudus. Dalam Operasi Pembebasan Sandera MV Sinar Kudus, Letjen Doni Monardo merupakan satu diantara anggota Satgas Merah Putih yang berhasil membebaskan penyanderaan oleh perompak Somalia.

Ketika dibajak, MV Sinar Kudus berada di Perairan Somalia tepatnya di sekitar 350 mil laut tenggara Oman. Kapal tersebut bermuatan ferro nikel yang berlayar dari Sulawesi menuju Rotterdam Belanda.

Atas keberhasilannya ini, membuat Doni Monardo saat itu mendapat kenaikan pangkat menjadi Brigadir Jenderal.

Selesai masa tugasnya di Kopassus, Doni langsung ditunjuk menjadi Panglima Komando Daerah Militer XVI/Pattimura dari 25 Juli 2015 hingga 27 Oktober 2017. Pria kelahiran Cimahi ini kemudian ditunjuk menjadi Panglima Komando Daerah (Pangdam) Militer III/Siliwangi hingga Maret 2018.

Saat itu, Doni ikut terlibat dalam program pembersihan Sungai Citarum, Jawa Barat. Doni menilai persoalan klasik di Citarum berkaitan dengan ketahanan nasional. Program andalannya kala itu bertajuk 'Citarum Harum'.

Menurut dia, air Citarum dikonsumsi 80 persen warga DKI Jakarta dan penduduk di sekitar aliran sungai.

Citarum juga menjadi sumber irigasi 420 ribu hektare sawah di Jawa Barat. Sungai sepanjang 269 kilometer itu juga menjadi pemasok listrik sebanyak 1.888 megawatt untuk Jawa dan Bali.

Doni lalu menjabat Sekretaris Jenderal (Sesjen) Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas). Keputusan tersebut tertuang dalam Keppres nomor 24/TPA tahun 2018 tentang Pengangkatan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya di Lingkungan Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional.