Budi Sadikin mendapat pujian usai keberhasilan divestasi Freeport. Inilah cara Budi meraih sukses dalam menapak karirnya.

Pujian itu datang dari Dahlan Iskan. Mantan Menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam sebuah tulisan tak lama setelah holding tambang PT Inalum melunasi divestasi kepemilikan saham 51,2 persen di PT Freeport, Dahlan melontarkan pujian kepada sejumlah orang. Salah satunya adalah Budi Gunadi Sadikin, yang menjabat bos Inalum sejak 2017.

Dahlan bilang, Inalum sekarang ibarat Land Cruiser yang sanggup menanjak tinggi sampang pegunungan Jayawijaya di Papua, dan membeli Freeport di sana. Terbukti, Inalum dipercaya mendapat dana asing USD 4 miliar untuk mencaplok Freeport.

Duet Jonan Ignatius dan Budi Sadikin diyakini Dahlan sebagai kunci sukses divestasi Freeport.  Dahlan menyebut keduanya sebagai “orang pintar”.

“Saya pernah minta maaf kepada Bapak Presiden SBY. Melanggar tata kelola. Mengangkat Budi Sadikin menjadi Dirut Bank Mandiri. Tanpa lapor. Tanpa minta pendapat. Tanpa minta persetujuan. Pun tidak kepada menteri keuangan. Saya tahu itu salah. Dan siap dimarahi,” tulis Dahlan Iskan baru-baru ini.

“Tapi saya takut jabatan Dirut Mandiri jadi barang dagangan. Terutama dagangan politik. Padahal ada anak muda sekali. Hebat sekali. Dari dalam Bank Mandiri pula. Budi Sadikin itu. Maka, saya SK-kan saja. Soal dimarahi itu urusan di kemudian hari. Dipecat sekai pun. Maafkan pak SBY. Saya melanggar. Demi kejayaan Bank Mandiri…,” tambah Dahlan Iskan.

Seperti diketahui, Budi Sadikin ditunjuk  sebagai Direktur Utama Bank Mandiri periode 2013 - 2016.  Usai dilantik, Budi langsung merancang tekad membawa Bank Mandiri menjadi bank terbesar ketiga di Asean dan menjadi salah satu bank terbesar di Asia.

Saat ditunjuk sebagai Dirut Mandiri, pria kelahiran Mei 1964 itu masih berusia 49 tahun.

Kami melihat bahwa beliau memang memiliki kemampuan untuk itu. Memang dilihat Inalum sebagai perusahaan holding." ~ Rini Sumarno

Sebelumnya, Budi Sadikin yang jebolan Fisika Nuklir Institute Teknologi Bandung itu merintis karir di banyak tempat. Ia pernah bekerja sebagai staf teknologi informasi di IBM Asia Pasifik yang bermarkas di Tokyo, Jepang.

Dari Jepang, ia pulang ke Indonesia dan bekerja di IBM Indonesia dengan jabatan terakhir sebagai System Integration and Professional Services Manager hingga 1994.

 Jejak karirnya di dunia perbankan dimulai saat ia pindah ke Bank Bali yang kemudian menjadi Bank Permata. Di sana, jabatan yang pernah diembannya antara lain General Manager Banking, Chief General Manager wilayah Jakarta, dan Chiegf General Manager bidang sumberdaya manusia.

Pada 1999, Budi pindah ke ABN Amro Bank Indonesia. Ia pernah menjabat  sebagai Direktur Consumer Banking hingga 2004.

Dari sana, Budi pindah lagi ke Bank Danamon dan menjabat Executive Vice President Consumer Banking dan Direktur di Adira Quantum Multi Finance.

Pada 2006, Budi berlabuh di Bank Mandiri. Sebelum menjadi Direktur Utama Bank Mandiri pada 2013, jabatannya adalah Direktur Mikro dan Retail Banking.

Setelah tak lagi menjabat Direktur Bank Mandiri, Budi menjadi staf khusus Menteri BUMN Rini Sumarno.

Ketika Budi Sadikin dilantik sebagai Dirut Inalum pada September 2017, Rini Sumarno mengatakan Budi adalah pilihannya.

“Ya memang sengaja disiapkan untuk memimpin Inalum,” kata Rini saat itu.

Dalam bahasa Rini, Budi adalah seorang capable  untuk posisi tersebut. Apalagi, selama menjadi staf khusus Menteri BUMN, Budi memang ditugaskan untuk mempersiapkan holding BUMN pertambangan dan eksekusi 51 persen saham Freeport.  

“Kami melihat bahwa beliau memang memiliki kemampuan untuk itu. Memang dilihat Inalum sebagai perusahaan holding,” kata Rini.

Tampaknya, Rini  tak salah pilih. Pada Agustus lalu, Budi mendapat menghargaan CEO Visioner BUMN terbaik dalam Anugerah BUMN ke-7. Inalum yang dipimpinnya juga mendapat penghargaan terbaik I dalam katagori Strategi Pertumbuhan Terbaik BUMN.

Tanri Abeng yang didaulat sebagai Ketua Dewan Juri mengatakan,”Saya yakin CEO yang terpilih adalah materi seorang menteri.”
 

Kunci Sukses

Jalan sukses yang direngkuh Budi Gunadi Sadikin tentu tak datang begitu saja. Apa rahasia dibalik kesuksesannya?

Dalam sebuah pelatihan wirausaha yang disponsori Bank Mandiri, Budi Sadikin pernah mengungkapkan empat hal yang diyakininya sebagai jalan menuju kesuksesan.

Kunci sukses pertama yang diyakini Budi adalah sering bertemu dan mengobrol dengan orang sukses.   Dia punya pengalaman pribadi tentang ini.

Ketika masih di Bank ABN Amro, Budi mewakili ABN Amro di Ikatan Bankir Indonesia (IBI). Ini adalah asosiasi tempat berhimpunnya para bankir Indonesia. Di sana, ini berkenalan dengan banyak orang baru. Salah satunya adalah Robby Djohan, bankir senior yang juga mantan Dirut Bank Mandiri.

Pak Robby bilang, nanti kamu jadi orang sukses, karena saya lihat kamu jalannya cepat, pasti kerjanya juga cepat." ~ Budi G. Sadikin

Budi bercerita, dirinya pernah diundang makan siang oleh Robby. Dalam kesempatan itu, Robby mengucapkan sesuatu yang tak disangka-sangka oleh Budi.

“Pak Robby bilang, nanti kamu jadi orang sukses, karena saya lihat kamu jalannya cepat, pasti kerjanya juga cepat,” kata Budi menirukan ucapakan Robby.

Dari hubungan dekat dengan Robby Djohan, Budi berkenalan dengan Agus Marto yang kelak mengajaknya bergabung ke Bank Mandiri hingga menjadi pucuk pimpinan di bank itu.  

Kunci sukses kedua, menurut Budi, pilihlah orang-orang hebat di dalam tim. Tentang ini, Budi teringat pengalamannya saat bekerja di IBM Asia Pasifik di Tokyo. Di sana, kata dia, setiap ada pegawai yang berprestasi diberi apresiasi sehingga bisa memacu kinerja pegawai lain. Seorang pemimpin bisa berhasil karena bisa memimpin orang-orang hebat, bukan dirinya yang hebat.

Ketiga, perbanyak dan jaga silaturahmi dengan orang lain. Silaturahmi dan networking, menurut Budi, membuka kesempatan mendapat peluang baru. Jadi, kata Budi, binalah jaringan, dan jaga silaturahmi walau hanya sebentar.

Keempat, Budi percaya kesempatan yang ada sebanding dengan amal seseorang. Budi sendiri sudah sejak lama menjadi orang tua asuh dan mentor untuk siswa yang tidak mampu.

Kini, setelah menanjak di pegunungan Jayawijaya dan mencaplok Freeport, meminjam istilah Dahlan Iskan, publik menunggu kemana lagikah Land Cruiser yang disupiri Budi Sadikin menanjak? []

">">