Pada Oktober 2014, PT Vale dan Pemerintah Indonesia mencapai kesepakatan setelah renegosiasi KK dan berubahnya beberapa ketentuan di dalamnya termasuk pelepasan areal KK menjadi seluas hampir 118.435 hektar.

PT Vale Indonesia yang diperkirakan memiliki cadangan 15% nikel dunia, mempunyai sejarah panjang di Indonesia. PT Vale, mulai dengan ekplorasi di wilayah Sulawesi bagian timur pada 1920-an. Kegiatan eksplorasi, kajian dan pengembangan tersebut terus dilanjutkan pada periode kemerdekaan dan selama masa kepemimpinan Presiden Soekarno.

PT Vale (yang saat itu bernama PT International Nickel Indonesia) didirikan pada Juli 1968. Kemudian di tahun tersebut PT Vale dan Pemerintah Indonesia menandatangani Kontrak Karya (KK) yang merupakan lisensi dari Pemerintah Indonesia untuk melakukan eksplorasi, penambangan dan pengolahan bijih nikel.

Sejak saat itu PT Vale memulai pembangunan smelter Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Melalui Perjanjian Perubahan dan Perpanjangan yang ditandatangani pada bulan Januari 1996, KK tersebut telah diubah dan diperpanjang masa berlakunya hingga 28 Desember 2025.

Pada Oktober 2014, PT Vale dan Pemerintah Indonesia mencapai kesepakatan setelah renegosiasi KK dan berubahnya beberapa ketentuan di dalamnya termasuk pelepasan areal KK menjadi seluas hampir 118.435 hektar.

">">

Ini berarti luasan areal KK telah berkurang hingga hanya 1,8% dari luasan awal yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia pada saat penandatanganan KK tahun 1968 seluas 6,6 juta hektar di bagian timur dan tenggara Sulawesi akibat serangkaian pelepasan areal KK. 

Pemerintah Indonesia dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), perusahaan tambang asal Brasil, telah menyepakati isi Kontrak Karya baru di 2014.

Kontrak baru tersebut ditandatangi oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Tim Ketua Renegosiasi Kontrak sekaligus Plt Menteri ESDM, Chairul Tanjung, dengan Presiden Direktur PT Vale Indonesia Nico Kanter di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/10/2014).

Isi kontrak karya

Pengurangan wilayah Kontrak Karya dari sebelumnya seluas 190.510 hektar menjadi 118.435 hektar. Akhir Kontrak Karya pada 28 Desember 2025.Vale juga akan mempertahankan 25.000 hektar zona bijih yang akan diusulkan perusahaan untuk dieksplotasi. Selain zona bijih tersebut, Vale tetap dapat mempertahankan lahan yang dipergunakan untuk kegiatan operasional dan keperluan lainnya. Luasan lahan hasil rengosiasi ini mencerminkan luasan lahan yang memadai untuk keperluan investasi dan rencana pertumbuhan jangka panjang Vale.

Royalti yang disepakati sebesar 2% dari penjualan (menjadi 3% ketika harga nikel naik) telah sesuai dengan stuktur royalti yang diatur dalam peraturan pemerintah serta merefleksikan evolusi dinamika pasar.

Sementara itu, adalah kewajiban bagi Vale untuk mendivestasikan 20% saham kepada peserta Indonesia (pemerintah atau BUMN dan BUMD). Hal ini sejalan dengan ketentuan pemerintah bagi perusahaan pertambangan dan pengolahan terintegrasi di mana harus mendivestasikan 40% sahamnya kepada peserta Indonesia dan mengakui 20% saham Vale yang saat ini dimiliki oleh pemegang saham publik melalui Bursa Efek Indonesia. Proses divestasi ini akan dilakukan dalam kurun waktu 5 tahun.

Vale dapat mengajukan permohanan kelanjutan operasinya setelah Kontrak Karya berakhir sebanyak dua kali 10 tahun dalam bentuk izin operasi, dan tunduk pada persetujuan pemerintah. Persetujuan pemerintah ini akan mempertimbangkan pemenuhan kewajiban perseroan yang tercantum dalam amandemen Kontrak Karya.

"Vale percaya bahwa dengan amandemen ini maka perseroan berada di posisi yang baik dan tepat untuk berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia dan senantiasa memberikan hasil yang baik bagi para pemegang saham," kata Nico Kanter usai penandatangan kontrak. 

Nikel 18.193 metrik ton

Nico Kanter, CEO dan Presiden Direktur INCO mengatakan, berdasarkan laporan penjualan kuartal III 2018 yang belum diaudit, jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, produksi nikel dalam matte dan pengiriman nikel matte masing-masing sekitar 4% dan 1% lebih rendah. Namun, pendapatan bisa lebih tinggi, karena harga realisasi rata-rata lebih tinggi di kuartal III 2018.  

"Kami akan tetap fokus dalam mengoptimalisasikan kapasitas produksi kami, meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (24/10). 

Dari sisi operasi, produksi di kuartal ketiga tahun 2018 berada di bawah rencana karena ada aktivitas pemeliharaan yang tidak direncanakan untuk mengatasi masalah operasional 

INCO memajukan jadwal pemeliharaan yang sebelumnya direncanakan di kuartal IV 2018 menjadi di kuartal III 2018 dan tidak berharap akan adanya tambahan aktivitas pemeliharaan yang besar hingga akhir tahun.  

Sementara itu, beban pokok pendapatan INCO turun US$ 4,8 juta meskipun harga bahan bakar dan batubara meningkat signifikan. Harga Minyak Bakar Bersulfur Tinggi (HSFO) meningkat sebesar 13%, Minyak Diesel (HSD) 5% sedangkan batubara naik 7% per unit basis di kuartal III 2018 dibandingkan kuartal sebelumnya.  

Bahan bakar merupakan salah satu biaya terbesar INCO. Jika dibandingkan dengan kuartal II 2018, konsumsi HSFO dan diesel di kuartal ketiga lalu meningkat sebesar masing-masing 9% dan 6%, sedangkan konsumsi batubara menurun sebesar 3%. 

Peningkatan dalam konsumsi HSFO dan diesel dan penurunan dalam penggunaan batubara didorong oleh lebih rendahnya tingkat konversi karena pemeliharaan yang tidak direncanakan di coal mill. 

Sementara itu, EBITDA INCO mencapai US$ 69,5 juta, naik dari kuartal II 2018 yang sebesar US$ 66,1 juta. Hal ini terutama disebabkan oleh lebih tingginya rata-rata harga realisasi. 

Kas dan setara kas INCO juga naik sebesar US$ 266,3 juta pada 30 September 2018, dari US$ 185,9 juta pada 30 Juni 2018. Sejauh ini, INCO telah mengeluarkan sekitar US$ 27,7 juta belanja modal di kuartal III 2018, naik dari US$ 13,3 juta kuartal sebelumnya.  

Lalu karena ada aktivitas pemeliharaan yang tidak terencana ini, INCO merevisi target produksi tahun 2018 menjadi 75.000 ton di 2018, turun dari perkiraan 77.000 ton di kuartal kedua tahun ini.  

Di saat yang bersamaan, INCO masih akan tetap fokus pada berbagai inisiatif penghematan biaya untuk mempertahankan daya saing dalam jangka panjang.  []