Pengembangan KEK ini dilakukan dengan menyiapkan kawasan yang memiliki keungulan geoekonomi dan geostrategis untuk menampung kegiatan industri. Di mana saja?

Pemerintah terus mendorong pencapaian pembangunan ekonomi nasional. Yakni dengan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di seluruh Indonesia.

Salah satunya adalah melalui pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), terutama di luar Pulau Jawa. Tujuannya, untuk mengoptimalkan potensi ekonomi dengan daya saing tinggi di wilayah-wilayah itu.

Penetapan KEK ini tidak sembarang. Pengembangan KEK ini dilakukan dengan menyiapkan kawasan yang memiliki keungulan geoekonomi dan geostrategis untuk menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional.

KEK di Indonesia mulai diatur sejak tahun 2009, melalui Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 Tentang Kawasan Ekonomi Khusus. Hal ini merupakan pengembangan dari berbagai jenis kawasan ekonomi di periode-periode sebelumnya.

">">">

Seperti diketahui, pada 1970, dikenal dengan mulai adanya pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Pada 1972, muncul pengembangan Kawasan Berikat. Berlanjut pada 1989 dengan Kawasan Industri, lalu pada 1996, dikembangkan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), dan terakhir, sejak tahun 2009, dimulai pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus.

Kriteria yang harus dipenuhi agar suatu daerah dapat ditetapkan sebagai KEK adalah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah, tidak berpotensi mengganggu kawasan lindung, serta adanya dukungan dari pemerintah provinsi/kabupaten/kota dalam pengelolaan KEK. Yang lebih penting adalah daerah tersebut terletak pada posisi yang strategis atau mempunyai potensi sumber daya unggulan di bidang kelautan dan perikanan, perkebunan, pertambangan, dan pariwisata, serta mempunyai batas yang jelas, baik batas alam maupun batas buatan.

Pada awal pengembangannya, sebanyak 50 daerah menawarkan diri untuk menjadi KEK. Namun, dari jumlah itu, baru 12 daerah yang sesuai dengan kriteria untuk ditetapkan sebagai KEK. 12 Daerah itu adalah KEK Sei Mangkei, KEK Tanjung Lesung, KEK Tanjung Api-Api¸ KEK Morotai, KEK Mandalika, KEK Palu, KEK Bitung, KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK), KEK Tanjung Kelayang, KEK Sorong, KEK Galang Batang, dan KEK Arun-Lhokseumawe.

KEK yang dikembangkan direncanakan terbagi menjadi 2 sektor besar. Pariwisata dan industri.

Untuk mempercepat investasi, pemerintah pun akan memberikan fasilitas wahid agar lebih diminati penanam modal. Fasilitas tersebut terdiri atas fasilitas fiskal, yang berupa perpajakan, kepabeanan dan cukai, pajak daerah dan retribusi daerah; dan fasilitas nonfiskal, yang berupa fasilitas pertanahan, perizinan, keimigrasian, investasi, dan ketenagakerjaan, serta fasilitas dan kemudahan lain yang dapat diberikan pada Zona di dalam KEK, yang akan diatur oleh instansi berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.  

Pemerintah pun menargetkan ada 25 wilayah sebagai KEK. Diperkirakan, nilai investasinya dapat menembus Rp726 triliun. Sedangkan hingga saat ini, sudah ada 12 KEK yang terdaftar. Dengan realisasi komitmen investasi mencapai Rp221 triliun.

Enam KEK yang sedang dalam kajian, antara lain KEK Kuala Tanjung di Sumatera Utara, KEK Pulau Asam Karimun di Kepulauan Riau, KEK Merauke di Papua, KEK Melolo di Nusa Tenggara Timur (NTT), KEK Nongsa di Batam, dan Kawasan Pariwisata Pulau Bangka.

Untuk mempercepat perwujudan KEK di 25 wilayah dan menarik lebih banyak investasi, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 91 Tahun 2017 tentang Kebijakan Percepatan Kemudahan Berusaha. Dengan kebijakan ini, investor yang akan berinvestasi di KEK diberi banyak diberi kemudahan, insentif, serta fasilitas agar mereka dapat segera merealisasikan investasinya.


Peta Sebaran 12 Kawasan Ekonomi Khusus

12 daerah yang sudah menjadi KEK adalah:

1. KEK Sei Mangkei. KEK ini memfokuskan pada industri kelapa sawit dan industri karet. KEK ini juga memiliki kegiatan lain yakni logistik Pariwisata Aneka Industri, seperti elektronika dan pupuk.

2. KEK Tanjung Lesung. KEK ini memfokuskan pada industri pariwisata

3. KEK Tanjung Api-Api. Fokusnya pada industri pengolahan karet, kelapa sawit, petrokimia, dan logistik. Selain itu, kawasan ini juga bakal dikembangkan untuk aneka industri.

4. KEK Morotai. Fokus pada industri pengolahan ikan, pariwisata, dan logistik. Kegiatan lainnya berupa manufaktur dan industri perkapalan.

5. KEK Mandalika. Fokus pada pariwisata.

6. KEK Palu. Fokus pada industri pengolahan sawit dan karet. Selain itu, kegiatan lainnya berupa logistik industri pengolahan kelapa dan industri alat berat.

7. KEK Bitung. Fokus pada industri perikanan dan pengolahan kelapa. Selain itu juga memiliki kegiatan lain untuk industri logistik dan peralatan medis.

8. KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK). Fokus pada industri pengolahan kelapa sawit dan pengolahan kayu. Selain itu juga dipersiapkan untuk logistik dan aneka industri.

9. KEK Tanjung Kelayang. Fokus pada pariwisata.

10. KEK Sorong. Fokus pada industri pengolahan ikan, pariwisata, dan logistik. Selain itu juga untuk manufaktur dan indutri perkapalan.

11. KEK Arun-Lhokseumawe. Fokus pada industri kelapa sawit dan karet. Kegiatan lainnya adalah logistik pariwisata aneka industri antara lain elektronika dan pupuk.

12. KEK Galang Batang. Fokus pada industri pengolahan dan pemurnian bijih bauksit dan industri pengolahan alumina.