Apakah gelombang kedua pandemi COVID-19 di Indonesia? Presiden Joko Widodo mengingatkan munculnya kemungkinan pandemi itu. Sementara, Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengaku yakin tak akan ada gelombang kedua pandemi COVID-19 di Indonesia.

Menurut Luhut, kondisi saat ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa bulan lalu. Kekhawatirannya sempat muncul saat terjadi lonjakan kasus COVID-19 setelah Hari Raya Idul Fitri pada Mei lalu. Meskipun waktu itu sudah ada larangan mudik, namun masih banyak orang yang melakukan perjalanan.

"Alhamdulillah, saya pikir terkendali. Yang kedua adalah testing kemarin waktu di Bali, ternyata Bali juga tidak kejadian apa-apa. Jadi saya optimis kita tidak ada second wave," kata Luhut saat menghadiri rakernas Apindo secara virtual, Kamis (13/8).

Meski begitu, jika memang ke depannya ada gelombang kedua, Wisma Atlet masih memiliki kapasitas untuk menangani kemungkinan kenaikan kasus virus corona.

Selain itu, ketersedian obat, Alat Pelindung Diri (APD), hingga masker saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan ketika awal pandemi Covid-19 muncul.

"Obat-obat kita jauh lebih bagus dari waktu bulan Maret dan April. Kita APD-nya, maskernya, kemudian obatnya sekarang pengalaman herbal juga mulai berkembang banyak. Saya tidak terlalu khawatir di situ," jelasnya.

Sejauh ini, Luhut menilai tidak ada lonjakan kasus COVID-19 yang mengkhawatirkan. Tak hanya itu, adanya pemanfaatan obat herbal di sejumlah wilayah diyakini turut memperkuat imunitas, sehingga mencegah terjadinya COVID-19.

"Jawa Timur tadinya kita takut tidak terkendali, sekarang sangat bagus keadaannya. Apakah ini Risma punya obat herbal, atau disiplinnya, atau kombinasi keduanya, kita tidak tahu juga. Banyak di Republik ini tidak jelas tiba-tiba jadi baik-baik saja dia. Nah orang-orang bule tidak paham itu," tambahnya.

Gelombang Kedua COVID-19

Presiden Joko Widodo meyakini ekonomi Indonesia akan bangkit pada tahun depan. Namun, Indonesia harus mewaspadai jangan sampai muncul gelombang kedua Covid-19.

Hal tersebut disampaikan Jokowi saat membuka rapat terbatas terkait postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021, dari Istana Bogor, Selasa (28/7/2020).

Jokowi menyebutkan, ekonomi dunia saat ini tengah dilanda ketidakpastian akibat pandemi Covid-19 yang melanda lebih dari 200 negara.

Namun, sejumlah lembaga seperti IMF, Bank Dunia, dan OECD sudah memprediksi ekonomi akan kembali tumbuh tahun depan.

"Bahkan IMF memperkirakan ekonomi dunia akan tumbuh 5,4 persen. Ini sebuah perkiraan yang sangat tinggi menurut saya. Bank Dunia 4,2 persen. OECD 2,8 sampai 5,2 persen," kata Jokowi.

Presiden Jokowi pun optimistis bahwa ekonomi RI akan tumbuh di atas angka tersebut. Sebab, perekonomian Indonesia saat ini juga tidak separah negara-negara lain.

Jokowi menyebut kabar baik ini patut disyukuri. Namun, ia mengingatkan jajarannya agar tetap mewaspadai gelombang kedua Covid-19.

"Kita tetap harus waspada kemungkinan dan antisipasi kita terhadap risiko terjadinya gelombang kedua, second wave, dan masih berlanjutnya sekali lagi ketidakpastian ekonomi global di tahun 2021," kata dia.