"Nama saya diucapkan" Comma-la ", seperti tanda baca," tulis Kamala Harris dalam otobiografinya tahun 2018 yang bertajuk, The Truths We Hold.

Senator California itu adalah anak dari ibu yang dilahirkan di India dan ayah kelahiran Jamaika. Ia kemudian menjelaskan arti nama Indianya.

"Artinya 'bunga teratai', yang merupakan simbol penting dalam budaya India. Teratai tumbuh di bawah air, bunganya menjulang di atas permukaan sementara akarnya tertanam kuat di dasar sungai."

Pada awal kehidupannya, Kamala muda dan saudara perempuannya, Maya, dibesarkan di sebuah rumah yang diramaikan oleh musik seniman kulit hitam Amerika.

Ibunya bernyanyi lagu gospel Aretha Franklin, sedangkan ayahnya, pecinta jazz, yang mengajar ekonomi di Universitas Stanford, akan memutar lagu Thelonius Monk dan John Coltrane pada alat pemutar piringan hitam.

Shyamala Gopalan dan Donald Harris berpisah ketika Kamala Harris berusia lima tahun. Dia dibesarkan oleh ibunya -seorang penganut Hindu- yang merupakan seorang peneliti kanker dan aktivis hak-hak sipil.

Kamala, Maya, dan Shyamala dikenal sebagai "Shyamala and the girls".

Ibunya memastikan kedua putrinya mengetahui latar belakang mereka.

"Ibu saya mengerti betul bahwa dia membesarkan dua anak perempuan kulit hitam. Dia tahu bahwa tanah air tempat anak-anaknya tumbuh besar akan melihat Maya dan saya sebagai gadis kulit hitam, dan dia bertekad untuk memastikan kami akan tumbuh menjadi wanita kulit hitam yang percaya diri," tulisnya.

"Harris tumbuh dengan merangkul budaya Indianya, tetapi menjalani kehidupan Afrika-Amerika tetapi menjalani kehidupan Afrika-Amerika dengan bangga," tulis Washington Post tahun lalu.

Ketika dia mencalonkan diri untuk kursi Senat pada tahun 2015, majalah Economist menggambarkannya sebagai "putri seorang peneliti kanker India dan seorang profesor ekonomi Jamaika, dia adalah perempuan pertama, orang Afrika-Amerika dan Asia pertama yang menjadi Jaksa Agung California".

Senator berusia 55 tahun itu mengatakan dia tidak bergulat dengan identitasnya dan menggambarkan dirinya hanya sebagai 'orang Amerika'.

Dalam banyak hal, kata orang-orang yang mengenalnya, Harris berdiri di dua komunitas itu dengan mudah.

Dalam sebuah video yang dibuatnya dengan komedian dan aktris India-Amerika Mindy Kaling, yang diunggah ke halaman Youtube saat pemilihan presiden, keduanya memasak makanan India bersama dan mengobrol tentang latar belakang India selatan mereka.

Kaling mengatakan meskipun tidak semua orang tahu tentang setengah dari latar belakang keluarga Harris, orang India-Amerika lainnya yang dia temui sering mengemukakan fakta tersebut.

"Ini seperti hal yang sangat kami sukai, membuat Anda mencalonkan diri sebagai presiden," kata Kaling.

Kaling bertanya kepada Harris apakah dia dibesarkan dengan makan makanan India Selatan. Harris menyebut nama-nama masakan India yang dibuat di rumahnya: "Nasi yang banyak dan yogurt, kari kentang, dal, banyak dal, idli".

Dia juga mengatakan ketika dia mengunjungi rumah ibunya di India, kakeknya akan meminta roti panggang ala Prancis - yang dibuat dengan telur - ketika neneknya yang vegetarian keluar rumah (di India, telur dianggap non-vegetarian).

Dalam bukunya, dia menulis bahwa dia membuat biryani India - dan spageti Bolognese - di rumah.

(Pada Selasa 11 Agustus 2020, Kaling menyebut pencalonan wakil presiden Harris sebagai "hari yang menyenangkan ... terutama untuk perempuan-perempuan kulit hitam dan India").

Ketika Harris menikah dengan Douglas Emhoff, seorang pengacara, pada tahun 2014, "sesuai dengan warisan India dan Yahudi (kami) masing-masing", dia mengenakan karangan bunga di leher suaminya dan Emhoff menginjak gelas.

Citra publik Harris lebih terkait dengan identitasnya sebagai seorang politisi Afrika-Amerika, terutama dalam percakapan publik seputar ras dan gerakan Black Lives Matter di AS.

Tetapi orang India-Amerika juga melihatnya sebagai salah satu dari mereka, pencalonannya menunjukkan potensi pengakuan yang lebih luas terhadap komunitas India dan Asia Selatan di negara tersebut.

Jelas bahwa almarhum ibunya adalah inspirasi besar bagi Harris. Gopalan lahir di kota Chennai di India selatan, sebagai anak tertua dari empat bersaudara.

Dia lulus dari Universitas Delhi pada usia 19 tahun, dan mendaftar ke program pascasarjana di Berkeley, "universitas yang belum pernah dilihatnya, di negara yang belum pernah dia kunjungi".

Dia meninggalkan India pada 1958 untuk mengejar gelar doktor di bidang nutrisi dan endokrinologi, dan kemudian menjadi peneliti kanker payudara.

"Sulit bagi saya membayangkan betapa sulitnya bagi orangtuanya untuk melepaskan kepergiannya. Perjalanan jet komersial baru saja mulai berkembang secara global. Bukan hal yang mudah untuk tetap berhubungan. Namun, ketika ibu saya meminta izin untuk pindah ke California, kakek nenek saya tidak menghalangi," kata Harris.

Harris menulis bahwa ibunya diharapkan untuk kembali ke rumah setelah menyelesaikan pendidikannya, dan menyetujui perjodohan.

"Tapi takdir punya rencana lain."

Dia bertemu ayah Kamala Harris dan jatuh cinta di Berkeley saat berpartisipasi dalam gerakan hak-hak sipil.

"Pernikahannya - dan keputusannya untuk tinggal di AS - adalah tindakan yang menunjukkan penentuan nasib sendiri dan cinta," tulis Harris.

Gopalan meraih gelar doktornya pada usia 25 tahun 1964, tahun yang sama dengan kelahiran Harris.

Harris menulis bahwa ibunya terus bekerja hingga saat melahirkan dua putrinya - "dalam kasus pertama air ketubannya pecah ketika dia berada di lab; dan yang kedua, saat dia membuat kue strudel apel".

Di India, Gopalan dibesarkan dalam rumah tangga dengan nuansa "aktivisme politik dan kepemimpinan sipil". Neneknya tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah menengah atas, tetapi merupakan pengurus komunitas yang menangani korban kekerasan dalam rumah tangga dan mendidik perempuan tentang kontrasepsi.

Kakeknya, PV Gopalan, adalah seorang diplomat senior di pemerintah India yang tinggal di Zambia setelah kemerdekaan, dan dia membantu menyelesaikan urusan pengungsi. Dalam bukunya, dia tidak banyak bicara tentang perjalanannya ke India.

Tetapi dia menulis bahwa dia dekat dengan saudara laki-laki dan dua saudara perempuan ibunya. Mereka tetap berhubungan melalui panggilan jarak jauh dan surat serta perjalanan berkala.

Ibu Harris meninggal pada 2009, dalam usia 70 tahun.

Aktivis Partai Demokrat AS seperti Shekar Narasimhan mengatakan pencalonannya akan menjadi "seismik" bagi komunitas India-Amerika.

"Dia seorang perempuan, dia birasial, dia akan membantu memenangkan pemilihan untuk Biden, dia menarik berbagai komunitas dan dia benar-benar pintar."

"Bagaimana orang India-Amerika tidak bangga padanya? Ini adalah pertanda bahwa kita sudah dewasa."

Kandidat Wapres Joe Biden yang Paling Diunggulkan

Kamala Harris - Foto: David Paul

Pernah digadang-gadang sebagai bakal calon presiden, Senator California keturunan India-Jamaika ini telah lama dianggap sebagai kandidat yang paling diunggulkan untuk mengisi posisi calon wakil presiden AS.

Mantan Jaksa Agung California ini dikenal sebagai sosok yang gencar menyerukan reformasi kepolisian di tengah protes anti-rasisme.

Berbekal pandangan politik dan pengaruhnya, dia akan mendampingi Joe Biden dalam menghadapi calon petahana Donald Trump pada pemilihan presiden, 3 November mendatang.

Harris dijadwalkan melakukan debat terbuka dengan pasangan Trump, yaitu Mike Pence, yang saat ini masih menjabat sebagai wakil presiden pada 7 Oktober mendatang di Salt Lake City, Utah.

Hanya ada dua perempuan lain yang pernah dinominasikan sebagai calon wakil presiden, yaitu Sarah Palin oleh Partai Republik pada 2008 dan Geraldine Ferraro oleh Partai Demokrat pada 1984. Namun, keduanya tidak ada yang lolos ke Gedung Putih.

Perempuan kulit berwarna tak pernah ditunjuk untuk bersaing menuju Gedung Putih, baik oleh Partai Demokrat maupun Partai Republik.

Biden mengunggah cuitan bahwa ia memberi "kehormatan tertinggi" kepada Harris sebagai pendamping.

Dia menggambarkan Harris sebagai "seorang pejuang untuk orang kecil yang tak pernah takut, dan salah satu pelayan publik terbaik negara ini".

Biden menyatakan bagaimana Harris sudah bekerja dengan almarhum putranya, Beau, ketika Harris menjabat sebagai Jaksa Agung California.

"Saya menyaksikan mereka menghadapi bank-bank besar, mengangkat kaum buruh, serta melindungi perempuan dan anak-anak dari kekerasan," sebut Biden dalam akun Twitternya.

"Saya sangat bangga ketika itu, dan sekarang saya sangat bangga menjadikannya mitra dalam kampanye ini."

Harris kemudian mencuit bahwa Biden "bisa menyatukan rakyat Amerika karena dia menghabiskan hidupnya berjuang untuk kita. Dan sebagai presiden, dia membangun Amerika yang sejalan dengan apa yang ideal bagi kita.

"Saya merasa terhormat bergabung dengannya sebagai nomine partai untuk Wakil Presiden, dan akan melakukan yang diperlukan untuk menjadikannya Presiden kita."

Tim kampanye Biden mengumumkan bahwa Biden dan Harris akan menyampaikan pidato di Wilmington, Delaware, pada Rabu (12/08).

Dalam debat terakhir yang diadakan Partai Demokrat pada Maret lalu, Joe Biden berjanji bahwa jika dia menjadi calon presiden dari partai tersebut, dia akan memilih seorang perempuan sebagai wakilnya.

 

BBC-Indonesia