Seorang siswa di sebuah sekolah dasar di Yerusalem, Israel, dilaporkan terinfeksi Corona Virus Desease atau COVID-19 yang akhirnya menulari 25 orang guru setempat saat kegiatan belajar mengajar tatap muka kembali digelar.

Ketua Asosiasi Orang Tua Yerusalem, Ari Kaplan, mengatakan pelajar itu juga menulari 150 temannya. 

"Alhasil, jumlah penduduk Yerusalem yang terinfeksi bertambah. Sebab, ratusan siswa yang terjangkit COVID-19 itu juga menulari orangtua, saudara mereka serta teman-teman di rumah," jelas Ari Kaplan seperti dilansir CNN, Senin (10/08/2020), 

Sekolah itu dibuka setelah pemerintah Israel melonggarkan pembatasan sosial. Namun, kini sekolah dasar itu harus ditutup kembali dan dibersihkan dengan disinfektan.

Kebijakan Israel dengan memperketat larangan dan memantau pergerakan penduduk saat penguncian wilayah (lockdown) dengan melibatkan badan intelijen dalam negeri (Shin Bet) dinilai cukup berhasil menanggulangi wabah virus corona.

Akan tetapi, setelah sekolah itu dibuka, menjadi salah satu faktor terjadinya gelombang dua pandemi virus corona di Israel, setelah pelonggaran pembatasan.

"Saya pikir pemerintah Israel terlalu optimis ketika jumlah kasus positif menurun," kata pakar penyakit menular dari Institut Ilmu Pengetahuan Weizmann, Prof. Gabi Barbash.

Prof. Gabi adalah salah satu pakar penyakit menular terkemuka di Israel. Menurut dia keputusan pemerintah setempat melanjutkan kegiatan belajar mengajar di sekolah usai musim panas terlalu dini.

"Saya pikir kita belum siap untuk hal itu. Saya pikir saat ini di Israel ada 1700 sampai 2000 kasus baru positif per hari. Saya pikir agak mustahil melanjutkan kegiatan belajar mengajar pada awal September, jika jumlah kasus tidak menurun," ujar Prof. Gabi.

Pemerintah Israel justru berbeda pendapat dengan Prof. Gabi.

"Kami tetap akan memulai kembali proses belajar mengajar di sekolah dalam 25 hari lagi. Saya ingin menekankan bahwa tidak mungkin semuanya akan berjalan lancar. Akibat pandemi COVID-19 tidak memberikan kelonggaran kegiatan belajar mengajar secara penuh kepada semua orang," kata Menteri Pendidikan Israel, Yoav Galant.

Galant mengatakan para pelajar kelas dua sekolah dasar diwajibkan masuk kelas tanpa kecuali. Sedangkan bagi pelajar kelas tiga dan di atasnya diberlakukan aturan khusus. Nantinya setiap kelas hanya boleh diisi oleh 18 siswa.

Lalu bagi siswa kelas lima, proses pembelajaran akan dibagi dua. Setengah pelajar akan masuk kelas, dan sisanya belajar dari rumah secara daring. Menurut data dari Sekolah Kedokteran Universitas Johns Hopkins, kasus positif COVID-19 di Israel mencapai 83.540 orang. Dari jumlah itu, 606 orang meninggal dan 58.934 pasien sembuh.