Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Adian Napitupilu (AN) menuding Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir sudah membuat gaduh. Akibatnya, masyarakat berpikir bahwa bukan hanya Erick Thohir bikin gaduh, bahkan Kementerian BUMN-lah gaduh. Akibat lain adalah relawan Jokowi menjadi terpecah, antara pendukung Adian Napitulu dan pendukung Erick Thohir.

Hal tersebut diungkap oleh Ketua Umum LBH Phasivic yang juga Penasihat Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan ABRI (FKPPI), R. Mas MH. Agus R., SH., dalam satu tulisan singkat yang berjudul 'Kegaduhan itu Bukan dari Dalam BUMN dan Bukan Ditabuh oleh Menteri BUMN' yang dimuat di suara-merdeka.com, Senin (10/08/2020).

Menurut Agus, ada pendapat, pasti juga ada rangkaian. Ada diskusi, pasti juga ada perdebatan. Dikatakannya, dalam membangun iklim demokrasi perbedaan pendapat adalah satu entitas yang tetap harus dijaga sebagai satu fungsi kontrol.

"Beberapa belas jam yang lalu, tersiar kabar melalui surat kabar online. Pesannya kurang lebih, membingkai narasi atau opini bahwa Erick Thohir selalu gaduh. Bahwa di dalam dan di luar BUMN selalu gaduh dan sangat bermasalah," tulisnya.

Dituliskannya juga tentang sosok Adian Napitupulu yang hanya dia sebut dalam bentuk inisial AN. "Siapa sih yang tidak kenal AN, seorang politisi PDI-P yang punya peran dalam suksesi pemenangan Presiden Joko Widodo, tapi juga ingat di sana ribuan relawan juga ambil andil dalam kemenangan Presiden Jokowi," katanya.

Dalam sebuah berita yang bertajuk 'BUMN yang Gaduh', Luar Dalam Berseteru, AN kembali mengumbar narasi-narasi Sentimen terhadap BUMN. Disebutkan, kali ini pendapat AN, mendapatkan respons dari kalangan para pendukung Jokowi. Bagi kader Pospera dan Pena 98, apa yang menjadi sikap AN adalah sebuah perjuangan.

Kenapa demikian? AN tahu sendiri bekerja dan perjuangan sekarang kelihatan, bukan untuk loyalis misi dan visi Jokowi tapi untuk Pospera dan Pena 98 dan jangan lupa juga untuk partai.

"Tapi banyak yang dari para pendukung Jokowi ini adalah sebuah keniscayaan hanya demi konco dan punakawan yang tidak terpenuhi oleh Menteri BUMN Erick Thohir, menyodorkan nama-nama tidak mendapatkan Kursi BUMN sepenuhnya," katanya.

Agus mengatakan bahwa apa pun, pendapat AN tentang Erick Thohir tetap harus diakui. Dia mencontohkan pendapat AN bahwa resesi-5.32% adalah kegagalan BUMN. Lalu ada juga pendapat AN soal perbedaan data antara Kemen BUMN dan Kemenkeu soal data hutang. 

AN merasa Menteri BUMN Erick Thohir turut memperjuangkan nama-nama relawan yang namanya sudah disodorkan AN kepada Presiden Jokowi. Tak hanya itu, AN juga menyebut perbedaan pendapat antara Presiden Jokowi, Menteri BUMN, dan Dirut Biofarma terkait produksi vaksin.

"Agar kita menjadi pembaca yang bijak, sudah semestinya satu persatu dari pernyataan AN kita pahami secara seksama. Lalu kemudian kita jawab dalam konteks dan data yang benar, agar publik tidak terus terjerumus dalam ketidaktahuan, dan terjadi penggiringan Opini," tulis Agus.

Dipaparkannya, pertama, AN berpendapat bahwa resesi- 5,32 % yang terjadi karena kegagalan BUMN. 

"Pernyataan ini sangat tidak tepat dan sangat tendensius, karena kita tahu saat ini semua negara lagi berjibaku melawan pandemi COVID-19 dan juga resesi ekonomi. Seperti yang dikutip oleh Ekonom Faisal Basri, sangat jelas banyak negara mengalami resesi. Kata Faisal Basri COVID-19 ini masih menyerang banyak negara," urainya.

Kedua, AN berpendapat bahwa data hutang Kementerian BUMN dan Kemenkeu berbeda. 

"Yang ini bukan karena datanya yang berbeda, namun metode dan tahapan restrukturisasi keuangan yang sedang berlangsung di BUMN. Selain itu Kemenkeu mencatat dana pinjaman pihak ke tiga (Nasabah) sebagai hutang. Sedangkan Kementerian BUMN yang dicatat hutang perusahaan BUMN beserta bunganya yang memiliki jatuh tempo di setiap Entitas BUMN. Ini persoalan teknis Keuangan yang mana belum tentu orang awam bisa memahami mekanismenya. Lagi pula AN sendiri juga punya data yang otentik, tapi di sini dirinya berdalih yang punya data itu pemerintah," papar Agus.

Ketiga, AN merasa bahwa Menteri BUMN Erick Thohir tidak memperjuangkan orang-orang yang sudah disodorkan kepada Presiden.

"Untuk hal ini kita harus berpikir positif dan prosedural. Rasanya tidak mungkin Menteri BUMN Erick Thohir bisa membantah rekomendasi dari Bapak Presiden Jokowi," tandasnya.

Agus menyebut, ketika wartawan kembali bertanya kepada AN, sebenarnya ada berapa nama dan siapa saja relawan yang direkomendasikan kepada Bapak Presiden Jokowi? Saat itu, AN malah melipat muka, enggan menjawab dan enggan memberi nama-nama itu ke publik…

"Hayooo bukankah ini sebuah “PARADOKS..?"

Keempat, perbedaan hitungan antara presiden, Menteri BUMN dan Dirut Biofarma soal produksi Vaksin.

"Perlu dipahami. Statemen Presiden Jokowi tentang 100 juta vaksin pertahun, adalah perhitungan produksi dari BUMN saja. Setelah rapat antara Kementerian BUMN dan Biofarma, dihitung kebutuhan untuk vaksin Rakyat Indonesia 250 juta vaksin per tahun. Menteri Erick Thohir menyatakan bahwa tahun ini 2020 pemerintah akan memproduksi 150 juta vaksin. Serta kemudian 250 juta vaksin pada tahun berikutnya 2021, agar seluruh Rakyat indonesia bisa mendapatkan vaksin secara maksimal."

"Nah sedangkan pernyataan Biofarma, menjelaskan bahwa selama ini kepastian Produk Vaksin Biofarma 40 juta per tahun. Tentu setelah dilakukan peningkatan modal, penambahan kapasitas 100 juta vaksin per tahun, karena adanya pandemi COVID-19 sangat dimungkinkan," sambungnya.

Dengan demikian, kata Agus, kita bisa dengan lurus dan logis menilai, bahwa kegaduhan itu bukan dari dalam BUMN dan bukan ditabuh oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Agus mengingatkan tentang karakter Rizal Ramli ketika menjabat menjadi Menteri pada Periode Pertama Presiden Jokowi.

"Orang ini seperti tiada hari tanpa kegaduhan, orang yang selalu ingin menjadi pusat perhatian publik bahkan Presiden dengan cara-cara yang tidak elok dan tidak etis. Orang yang merasa dirinya paling suci, paling benar, paling pro-rakyat seraya membuat kegaduhan di dalam Kabinet. Bahkan dia pernah menantang Wapres JK untuk berdebat secara terbuka terkait satu hal. Lagi-lagi semua dilakukan dengan cara-cara itu yang kurang Elok. Lantas apa hasil dari semua kegaduhan itu?"

Pada akhirnya, tulis Agus lagi, seorang Rizal Ramli hanya menjadi seorang pencibir sana sini yang dikelilingi oleh para pendengkur politik. 

"Harapan kita jangan sampai hal-hal seperti ini terulang lagi untuk yang kesekian kalinya. Karena yang ada visi dan misi presiden menuju Indonesia maju untuk kemajuan bukan untuk kemandekan, apalagi saat ini masa Pandemi COVID-19."

Agus meminta di akhir tulisannya, biarkan Erick Thohir Bekerja, karena Erick Thohir bekerja tanpa ada kepentingan kelompok maupun partai, Erick Thohir bekerja murni karena loyal pada Presiden Jokowi. Tak perlu disangsikan lagi.