Guyana, negara yang berada di Amerika Selatan memang kecil dengan luas wilayah 214.969 km² dengan jumlah penduduk 800 ribu saja berdasarkan data World Bank. Meski demikian, jangan dianggap remeh, karena negara dengan dominasi warna bendera hijau, kuning, dan merah ini adalah sebuah negara penghasil minyak.

Bahkan, selama pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19, pertumbuhan ekonomi negara Gunaya meningkat 14 kali lebih cepat dibanding China pada 2020, negara yang disebut memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia, menurut data Dana Moneter Internasional (IMF).

Kini, Guyana punya pemimpin baru. Dialah Mohamed Irfaan Ali yang dilantik, Minggu (03/08/2020) lalu setelah ditetapkan sebagai pemenang pemilu yang disengketakan pada tanggal 2 Maret lalu, menyusul penghitungan kembali.

Hasil penghitungan yang dikeluarkan Juni lalu menunjukkan Irfaan Ali, anggota partai oposisi, Partai Rakyat Progresif, menang dalam pemilu awal. Dan bulan lalu Washington mendesak presiden David Granger untuk mundur.

Hasil akhir muncul, beberapa bulan setelah konsorsium yang dipimpin oleh Exxon Mobil Corp mulai memproduksi minyak di lepas pantai Guyana, negara miskin dengan penduduk sekitar 800.000, menjadi engara baru penghasil minyak.

Perkembangan ini dapat meningkatkan pertumbuhan pertanian dan tidak tergantung pada hasil tambang. Pertumbuhan ekonomi negara Amerika Selatan ini akan meningkat 14 kali lebih cepat dari China pada 2020, negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia, menurut data Dana Moneter Internasional (IMF).

Ini berarti Irfaan Ali akan memimpin negara yang perekonomiannya tumbuh 14 kali lebih tinggi dari China tahun ini. Politisi berusia 40 tahun ini dilahirkan dari keluarga Muslim berdarah India.

Bank Dunia pada Juli lalu -- dengan memperhatikan dampak COVID-19 -- juga menempatkan Guyana sebagai negara yang paling tinggi pertumbuhannya.

Pemilu Maret lalu hasilnya sangat ketat dan dua partai yang terlibat saling mengajukan klaim menang dan saling menuduh kecurangan.

Irfaan Ali lahir di Leonora, kota di salah satu pulau yang membentuk Guyana. Ia meraih gelar doktor dalam perencanaan kota dan menjadi anggota kongres dari 2006 sampai 2015.

Saat menjadi menteri perumahan, Irfaan Ali menerapkan strategi yang belum pernah diambil sebelumya, dengan penyebaran merata rumah bagi orang dari semua tingkatan sosial dan geografi.

Ia menjadi anggota partai selama lebih dari 20 tahun dan memimpin salah satu komisi yang sangat penting yaitu pertanggungjawaban publik. Ia juga pernah bekerja sebagai koordinator Bank Pembangunan Karibia.

Dalam kampanye pemilihan presiden, Irfaan Ali mengangkat program untuk sektor ekonomi yang paling tertinggal serta memberdayakan komunitas bisnis. Di antara kebijakan yang diambil adalah menghapus pertambahan pajak di sektor kunci seperti listrik, air dan fasilitas kesehatan.

Guyana menemukan cadangan minyak lima tahun lalu dan produksi serta ekpor minyak mentah dimulai tahun ini. Walaupun cadangan minyak yang ada tidak sebesar produsen terbesar minyak dunia, apa yang diperoleh cukup untuk mengangkat perekonomian ke tingkatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah negara itu.

"Produksi minyak akan menjadi antara 700.000 sampai satu juta barel per hari," kata Marcelo de Assis, pakar di perusahaan konsultasi minyak Wood Mackenzie, kepada BBC Mundo, Januari lalu.

Jumlah ini serupa dengan produsen minyak menengah seperti Colombia. Namun, bila dibandingkan dengan jumlah penduduk, dampak yang dihasilkan lebih besar terhadap Guyana, karena penduduk Colombia, 50 kali lebih sedikit.

Laporan yang disusun oleh CNBC, media di Amerika, menyebutkan Guyana dapat menjadi negara yang memproduksi minyak terbesar dunia bila dibandingkan produksi per barel dan per individu.