Seorang oknum mengaku pengacara resmi dilaporkan YS ke Polda Metro Jaya pada Rabu (5/8/2020) atas dugaan pemerasan. Oknum berinisial MA tersebut diduga melanggar Pasal 368 KUHP yakni memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. 

Selain MA, dua pihak lain yakni C dan WES juga ikut dilaporkan oleh YS. Ketiga terlapor diduga berkolaborasi untuk melakukan pemerasan. Disebutkan, YS dan MA tidak saling mengenal tetapi YS saling mengenal dengan C dan WES.

Adapun cerita pemerasan itu, sesuai LP/4600/VIII/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ, adalah ketika MA yang mengaku sebagai pengacara, berusaha meminta ‘uang damai’ sebesar Rp 1,5 miliar kepada YS dalam perkara dugaan penyalahgunaan narkoba oleh tiga orang kolega YS. 

Sebelumnya, tiga orang rekan YS masing-masing I, J, dan A ditangkap aparat Polda Metro Jaya di tiga tempat berbeda di Jakarta pada Kamis (30/7/2020).

Berniat ingin membantu ketiga koleganya, YS kemudian mendatangi Polda Metro Jaya pada Jumat (31/7/2020). Saat itulah MA muncul dan mengaku bisa membebaskan ketiga rekan YS dengan syarat menyiapkan uang tebusan sebesar Rp 1,5 miliar.

Karena terus didesak MA dan merasa kasihan dengan ketiga rekannya, YS kemudian mentransfer uang sebesar Rp 5 juta ke rekening bank atas nama MA pada 3 Agustus 2020. Namun MA terus mendesak agar uang sebesar Rp 1,5 miliar tetap disiapkan. Belakangan, tarif uang damai itu perlahan turun menjadi Rp 750 juta, dan turun kembali menjadi Rp 600 juta.

Anehnya, salah seorang rekan YS yakni A yang sebelumnya telah ditahan selama 5 hari akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti menyimpan dan/atau menggunakan narkoba. Hal inilah yang semakin menimbulkan kecurigaan YS kepada MA.

YS berharap agar perkara ini diletakkan sebagaimana mestinya. Jika koleganya memang terbukti menyalahgunakan narkoba, YS mempersilakan agar diproses sesuai hukum yang berlaku.