Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM menyatakan pandemi COVID-19 berdampak pada pengerjaan proyek pembangkit 35 ribu megawatt (MW). Setidaknya ada tujuh proyek dengan kapasitas 6.510 MW yang diidentifikasi mengalami keterlambatan.

Hal tersebut juga turut berdampak pada kenaikan biaya pokok penyediaan listrik (BPP) dan penurunan keandalan.

Merujuk data Ditjen Ketenagalistrikan, Minggu, 2 Agustus 2020, ketujuh proyek tersebut di antaranya lima proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), satu proyek listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) dan satu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Kelima PLTU tersebut antara lain PLTU Meulaboh 3 dan 4 dengan kapasitas total 400 MW hingga semester I progresnya masih mencapai 22 persen. Progres tersebut bahkan sama seperti akhir Februari, artinya tidak ada penambahan progres dalam pengerjaannya. Proyek ini terkendala dari sisi tenaga kerja dan pengiriman material.

Kemudian PLTU MT Sumsel-8 dengan kapasitas 1.200 MW yang progresnya hingga semester I baru mencapai 39,38 persen. Proyek ini terhambat dari sisi pengiriman material. Selanjutnya PLTU Jawa-1 dengan kapasitas 1.000 MW yang mengalami keterlambatan pengiriman barang membuat progresnya hingga akhir Juni baru mencapai 81,15 persen.

Lalu PLTU Jawa-4 dengan kapasitas 2.000 MW juga mengalami keterlambatan pengiriman material dan tidak dapat memobilisasi engineer. Hal ini membuat progres pengerjaannya hingga Juni mencapai 94,15 persen.

Serta PLTU Kalbar-1 dengan kapasitas 200 MW juga tidak dapat memobilisasi engineer komisioning dan mengalami keterlambatan pengiriman materian sehingga menyebabkan progresnya mandek di angka 96,69 persen, sama seperti progres pada akhir Februari.

Selain itu ada juga PLTGU Jawa-1 dengan kapasitas 1.600 MW mengalami keterlambatan pengiriman material. Progresnya hingga Juni sebesar 82,35 persen. Terakhir yakni PLTA Jatigede dengan kapasitas 110 MW yang juga terhambat oleh mobilisasi pekerja serta pengiriman barang membuat progresnya pada akhir Juni mencapai 81,59 persen.

Ditjen Ketenagalistrikan seperti dikutip medcom.id, juga mengidentifikasi terdapat 55 proyek transmisi dan gardu induk yang ikut terdampak covid-19. Kebanyakan dilaporkan mengalami keterlambatan pengiriman material dan tenaga kerja.

Dari 55 proyek, empat proyek yang mengalami keterlambatan berdampak pada kenaikan BPP dan penurunan keandalan yakni satu proyek transmisi Lontar-Tangerang Baru II dan tiga proyek gardu induk di antaranya GITET 500 kilo volt (kV) Karawang, GITET 275/150 kV Wotu (extention), gardu induk 150 kV Ulee Kareng.

Dirjen Ketenagalistrikan Rida Mulyana mengatakan keterlambatan tersebut terjadi lantaran banyak komponen pembangkit yang harus diimpor kesulitan untuk masuk akibat adanya beberapa pelabuhan atau negara yang melakukan lockdown.

Meski demikian, lanjut Rida, dirinya berharap kondisi akan membaik setelah pembatasan mobilitas mulai dibuka.

“Mudah-mudahan kalau new normal, ada semacam akselerasi di Juli-Agustus, sehingga target bisa tercapai. Tetapi ini juga tergantung kondisi global, karena investasinya banyak dari luar,” pungkas Rida.