Ibu Rumah Tangga atau bekennya disebut emak-emak tidak melulu hanya berkecimpung dalam urusan rumah. Tidak diduga, emak-emak ini pandai berinvestasi di pasar modal.

Buktinya dalam data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) hingga 30 Juni 2020 mencatat jumlah ibu rumah tangga yang berinvestasi di pasar modal Tanah Air mencapai 3,47 persen.

Berdasarkan data demografi investor individu tercatat bahwa untuk katagori pekerjaan, ibu rumah tangga menguasai 3,47 persen dengan aset Rp 24,54 triliun di pasar modal.

Sedangkan, pelajar 19,50 persen dengan aset Rp 2,81 triliun, pengusaha 11,16 persen dengan aset Rp 116,73 triliun, pegawai (sawasta, PNS, dan guru) sebesar 53,42 persen dengan aset Rp 132,32 triliun.

Data berdasarkan usia, sebaran investor individu dengan usia 30 tahun kebawah mencapai 45,74 persen dengan total aset Rp 11,67 triliun.

Lalu, usia 31-40 tahun mencapai 24,57 persen dengan aset Rp 32,58 triliun, usia 41-60 tahun mencapai 9,24 persen dengan aset 87,24 triliun, dan 60 tahun keatas mencapai 4,63 persen dengan aset Rp 216,26 triliun.

Adapun menurut jenis kelamin, pria masih mendominasi demografi investor individu dengan 60,20 persen dan perempuan mencapai 39,80 persen.

Yang menarik lagi soal status pendidikan, rupanya status pendidikan pelajar menguasai 39,79 persen dengan aset Rp 80,10 triliun, lalu S1 mencapai 47,21 persen dengan aset Rp 163,43 triliun, lulusan D3 sebesar 7,15 persen dengan aset Rp 16,48 triliun dan S2 hanya 5,85 persen dengan aset 51,01 triliun.

Jika menurut penghasilan investor individu yang membenamkan dananya di pasar modal adalah: Dengan penghasilan di bawah Rp 10 juta ada sekitar 11,60 persen, penghasilan Rp 10 juta sampai Rp 100 juta mencapai 57,88 persen, lalu penghasilan Rp 100 juta sampai Rp 500 juta mencapai 24,13 persen, dan penghasilan di atas Rp 500 juta mencapai 6,38 persen.

Kemudian soal sebaran investor domestik per 30 Juni 2020 dibandingkan dengan akhir 2019. Untuk di Pulau jawa per 30 Juni 2020 sebaran investornya mencapai 71 persen, 42 persen dengan aset Rp. 2.055,45 triliun atau sekitar 95,85 persen. Adapun posisi di akhir 2019 sebaran investor di Pulau Jawa hanya 71,76 persen dengan aset Rp 2.341,34 triliun.