Anggota Komisi I DPR Fraksi Partai NasDem Willy Aditya Kementerian Pertahanan yang berencana akan membeli pesawat Eurofighter jenis Thypoon. Menurut Willy Aditya, rencana penambahan alat utama sistem senjata (alutsista) harus disesuaikan dengan sistem pertahanan komprehensif yang menjadi kebijakan umum pertahanan negara.

Lebih jauh Willy Aditya menegaskan, pembelian alutsista yang dilakukan tanpa dasar kebijakan pertahanan justru akan terlihat sebagai belanja serampangan namun hingga saat ini pemerintah belum selesai merevisi kebijakan umum pertahanan. 

"Beli pesawat, tank, senjata serbu itu semua harus ada dasarnya apalagi beli pesawat tempur udara jenis superfighter. Salah-salah kita bisa dilihat sedang mengubah strategi defensif aktif menjadi ovensif. Ini bisa jadi soal pertahanan dan politik luar negeri yang terlihat oleh negara lain," kata Willy Aditya dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (22/07/2020).

Willy Aditya mengkritik adanya kesan tergesa-gesanya pembelanjaan APBN Kemhan karena belanja alutsista apapun sah saja jika didahului dengan kajian komprehensif sistem pertahanan yang akan dibangun. Menurut dia, DPR tentu akan mendukung jika belanja alutsista memang merupakan hal yang mendasar dalam rangka pertahanan negara.

"Belanja alutsista semacam pesawat tempur ini bukan seperti belanja rutin lainnya karena merupakan belanja strategis karenanya harus sangat hati-hati, disesuaikan dengan doktrin pertahanan dan politik luar negeri Indonesia. Tidak bisa hanya dengan alasan peremajaan atau alasan pembinaan trimatra," tandasnya.

Wakil Ketua F-NasDem DPR itu menyoroti rencana pembelian Typhoon yang hampir sejenis dengan Sukhoi-35. Alasannya pembelian jenis pesawat tempur yang serupa namun dengan model yang berbeda akan menjadi tidak efisien dan akan ada membengkakkan anggaran. 

Willy Aditya juga menilai jenis Typhoon yang mau dibeli sebenarnya sejenis dengan Sukhoi 35 yang sudah dimiliki Indonesia. Sistem perawatan, peralatan, suku cadang dan kebutuhan Sukhoi pun sudah disiapkan, lalu kenapa justru beli yang berbeda lagi.

"Kalau beli yang berbeda, maka belanja lainnya untuk perbaikan, perawatan, suku cadang dan lainnyapun akan beda. Dampaknya akan juga berkenaan dengan APBN nantinya," ujarnya.

Menurutnya Menteri Pertahanan Prabowo Subianto harus memikirkan juga hal tersebut karena lebih baik beli dari model yang sama saja. Willy meyakini Prabowo sangat memahami ancaman pertahanan negara khususnya di matra darat namun kelebihan Menhan tersebut harus diperkuat dengan kajian-kajian strategis pertahanan negara yang lebih komprehensif.

"Kalau Amerika punya Network Centric Warfare (NCF) sebagai doktrin perangnya agar dapat menyesuaikan dengan kondisi dan perkembangan teknologi informasi. Lantas bagaimana dengan kita menghadapi perang asimetris, ini yang harus dipikirkan lebih matang selain belanja 'rutin' alutsista," paparnya.