Berdasarkan informasi resmi dari Defense Security Cooperation Agency (DSCA), Senin (6/7/2020), dikutip CNBC Indonesia, Selasa (7/7/2020), Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyetujui penjualan sejumlah alutsista kepada Pemerintah Indonesia melalui kementerian pertahanan di bawah Menhan Prabowo. Nilainya cukup fantastis yakni US$2 miliar atau setara Rp30 triliun (kurs Rp15.000/US$).

Alutsista itu antara lain delapan pesawat angkut militer militer jenis MV-22 Block C Osprey dan peralatan terkait. Pesawat MV-22 Block C Osprey, pesawat yang unik perpaduan antara helikopter dan pesawat terbang baling-baling. "DSCA telah memberi tahu Kongres AS tentang penjualan itu pada hari ini (6 Juni 2020)," tulis DSCA.

Rilis DSCA juga menyebutkan Indonesia juga hendak membeli sejumlah alutsista antara lain 24 AE 1107C Rolls Royce Engine, 20 Sistem Peringatan Rudal AN/ AAR-47, dan 20 Machine Guns GAU-21. Pembelian itu juga meliputi pelatihan personel, peralatan pelatihan, hingga dukungan teknis lainnya.

"Perkiraan total biaya US$2 miliar. Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan mitra regional penting yang merupakan kekuatan bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di wilayah Asia Pasifik," tulis DCSA.
"Penting bagi AS untuk membantu Indonesia dalam mengembangkan dan mempertahankan kemampuan pertahanan yang kuat dan efektif."

Juru Bicara Menteri Pertahanan Dahnil Anzar Simanjuntak sempat ditanya terkait hal tersebut dalam acara peluncuran buku "Ekonomi Pertahanan Menghadapi Perang Generasi Keenam Karya Laksdya TNI Agus Setiadji" yang berlangsung secara virtual, Selasa (7/7/2020). Namun, Dahnil enggan menjawab pertanyaan tersebut.