Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Letnan Jenderal TNI Doni Monardo tampaknya sudah mulai tak sabar menghadapi pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 yang seolah tak habis-habis.

Kali ini Doni Monardo menyebut, virus mematikan yang pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, China itu sebagai malaikat pencabut nyawa. Peringatan ini khususnya untuk mereka yang masuk kelompok rentan dan memiliki penyakit penyerta.

“COVID-19 ini adalah malaikat pencabut nyawa, bagi mereka yang rentan dari segi usia dan memiliki komorbiditas,” kata Doni saat kunjungan kerja ke Ambon, Maluku seperti disampaikan dalam keterangan resminya, Senin, (06/07/2020). 

Merujuk data yang dimilikinya, Doni Monardo mengatakan, rata-rata penularan COVID-19 terjadi di tengah masyarakat berasal dari mereka yang positif, namun tak memiliki gejala. Maka itu, ia meminta agar seluruh masyarakat tak menganggap remeh virus tersebut.

“Di Ambon sudah ada 17 warga yang meninggal akibat tertular dari Orang Tanpa Gejala (OTG),” lanjut eks Komandan Jenderal Kopassus itu. 

Doni juga mengajak agar masyarakat bersungguh-sungguh melakukan upaya pencegahan agar selalu menerapkan protokol kesehatan. Penerapan ini mulai dari menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun dan air, serta menggunakan masker.

Selain itu, Doni juga mengingatkan pentingnya menjaga imunitas tubuh dengan mengkonsumsi makanan yang sehat, bergizi dan rutin melakukan olahraga. Hal itu menjadi penting, sebab benteng pertahanan yang pertama adalah masyarakat itu sendiri.

“Dokter dan perawat adalah benteng terakhir, benteng pertama adalah masyarakat,” katanya. 

Doni Monardo juga meminta agar media massa, sebagai bagian dari komponen pentaheliks penanggulangan bencana alam dan non-alam dapat lebih masif dalam memberikan pengetahuan serta edukasi kepada masyarakat. Sebab, Doni menilai sebanyak 63 persen keberhasilan edukasi masyarakat justru ditentukan oleh media massa.

Selain itu, Doni yang merupakan Kepala Badan Nasional Penaggulan Bencana (BNPB) itu menitipkan pesan kepada bupati dan wali kota se-Provinsi Maluku. Pesan itu menyangkut upaya pencegahan dan penanganan COVID-19 dapat dilakukan melalui sosialisasi kepada masyarakat dengan pendekatan berbasis kerarifan lokal.

Terkait itu, Doni memberikan gambaran peran antropolog, sosiolog serta tokoh-tokoh adat dan agama dapat menjadi solusi untuk menyampaikan pesan mengenai COVID-19. Dengan demikian, masyarakat tak mendapatkan informasi keliru.

“Harus berbasis kearifan lokal. Libatkan antropolog dan sosiolog sebagai solusi. Jangan sampai masyarakat mendapat informasi yang keliru,” katanya. 

Dalam kesempatan kunjungan ke Ambon, Gugus Tugas Nasional juga memberikan bantuan untuk penguatan percepatan penanganan COVID-19 di Provinsi Maluku. Penyerahan tersebut dilakukan secara simbolis oleh Doni Monardo kepada Gubernur Maluku, Murad Ismail.

Pun, sejumlah bantuan tersebut mencakup monitor pasien 1 unit, ventilator 3 set, humidifier 2 unit, masker non inflasif 2 unit, rapid test antigen (SD biosensor) 1000 pcs, reagen PCR 4.800 tes, RNA 4.800 tes dan VTM + Swab 4.800 test.

Kemudian alat rapid test sebanyak 1000, masker KN 95 1000 lembar, masker bedah 210.000 lembar dan masker kain 45.000 lembar.