Setelah berbulan-bulan menjalani karantina akibat pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19, dorongan untuk menikmati udara luar dan bersosialisasi seperti sebelum wabah menerjang, seolah sulit dihindari. Terlebih saat memasuki musim panas -- khususnya di negara dengan empat musim -- hasrat untuk pergi ke area publik seperti shopping mall, ke pantai, hingga sekedar untuk mencukur rambut di barber shop sudah sangat sulit untuk dibendung.

Akan tetapi, mengingat kasus COVID-19 yang terus meningkat di banyak negara, semua seolah tidak ada lagi yang aman untuk dilakukan. One big warning atau satu peringatan besar bagi diri Anda sendiri adalah usia, kondisi kesehatan, kemungkinan virus akan menginfeksi, hingga pencegahan yang bisa Anda lakukan untuk melindungi diri sendiri adalah hal penting yang harus dipertimbangkan ketika Anda akan memulai aktivitas apa pun.

Jadi, pelajari terlebih dahulu undang-undang atau peraturan pemerintah di wilayah Anda bermukim sebelum hasrat untuk kembali 'hidup normal' sudah tak dapat lagi dapat ditahan. Tak ada yang namanya tamasya tanpa risiko saat ini. Ketika pemerintah di negara Anda mulai mengizinkan kegiatan ekonomi dan area publik mulai dibuka kembali, keputusan tentang apa yang aman dilakukan tergantung pada diri Anda sendiri.

"Kita dapat memikirkan risiko penularan dengan frasa sederhana seperti waktu, ruang, orang, dan tempat," ujar Dr. William Miller, seorang ahli epidemiologi dari Ohio State University.

The Texas Medical Association, Sabtu (04/07/2020) lalu melalui dfw.cbslocal.com merilis infografis tentang lokasi dan tingkat risiko masyarakat tertular atau menularkan COVID-19 bila mereka mulai melakukan kegiatan favorit. Dalam infografis tersebut ditunjukkan tingkat risiko yang dipecah dalam tingkat rendah, sedang-rendah, sedang, sedang-tinggi, dan tinggi.

Infografis yang Dirilis The Texas Medical Association - Foto dfw.cbslocal.com

Beberapa aktivitas berisiko tinggi tertular atau menularkan COVID-19 yang terdaftar dalam infografis tersebut adalah kegiatan berolahraga di gym, menghadiri konser besar, dan beranjangsana di tempat hiburan malam seperti cafe, bar, atau diskotik. Sementara aktivitas berisiko rendah dan sedang-rendah termasuk di dalamnya bermain tenis, berbelanja bahan makanan, dan makan di area luar ruang restoran.

Menanggapi lonjakan kasus COVID-19 yang akhir-akhir ini sangat tinggi, Pemerintah Amerika Serikat (AS), khususnya Gubernur Texas, Greg Abbott mengambil langkah-langkah tegas dengan memerintahkan masyarakat tetap menggunakan masker wajah di seluruh negara bagian.

Pekan lalu, Gubernur Greg Abbott juga memerintahkan bar ditutup untuk kedua kalinya selama pandemi COVID-19 serta meminta restoran menurunkan kapasitas pengunjung 50% dari sebelumnya 75%.

Tempat, Waktu, dan Tingkat Risiko Terinfeksi

Semakin banyak waktu yang Anda habiskan dan semakin dekat Anda dengan orang yang terinfeksi, semakin tinggi risiko Anda akan tertular. Berinteraksi di dalam ruangan lebih berisiko daripada di luar rumah.

Ahli Epidemiologi dan Spesialis Penyakit Menular dari University of Chicago Medicine, Dr. Emily Landon menuliskan pemikirannya terkait COVID-19 dengan judul, "Always choose outdoors over indoor, always choose masking over not masking and always choose more space for fewer people over a smaller space."

Selain Dr. Emily Landon dengan judul tulisannya yang kurang lebih berarti, "Selalu memilih di luar ruangan daripada di dalam ruangan, selalu memilih menutupi daripada tidak menutupi dan selalu memilih lebih banyak ruang untuk lebih sedikit orang daripada ruang yang lebih kecil", berikut ini bizlaw memetakan beberapa pendapat para ahli terkait pilihan lokasi, kegiatan, dan tingkat risiko tertular atau menularkan COVID-19. 

1. Pertemuan di Halaman Belakang Rumah - Risiko Rendah-Sedang

Pesta BBQ di Halaman Belakang Rumah - Foto steelcampfire.com

Mengadakan pertemuan di area outdoor yang luas dengan hanya sekelompok kecil tidak terlalu berisiko. Tetapi para ahli mengatakan, keselamatan di sini tergantung pada siapa yang Anda undang dan bagaiman perilaku mereka. 

"Jika Anda mengadakan pertemuan dengan satu rumah tangga lain yang (telah) mengikuti jarak sosial, ini akan menjadi aktivitas berisiko rendah," kata Dr. Judith Guzman-Cottrill, seorang Ahli Penyakit Menular Anak di Oregon Health & Science University.

Ahli Penyakit Menular Anak dari Washington University di St. Louis, Dr. Andrew Janowski mengatakan, agar bisa mengurangi risiko, hindari berbagi makanan, minuman, atau peralatan. Dia juga menyarankan agar tetap menggunakan masker, termasuk anak-anak saat berinteraksi

2. Makan di Dalam Ruangan di Restoran - Risiko Sedang Hingga Tinggi

Makan di Luar Ruangan Restoran Ternyata Lebih Aman - Foto simplybusiness.co.uk

Dr. Emily Landon mengingatkan, makan di dalam ruangan masih termasuk hal berisiko. Mengingat orang-orang cenderung berlama-lama di restoran. Jadi, meskipun pengaturan jaraknya sudah sesuai yang dianjurkan, namun durasi terpapar atau memaparkan akan lebih lama.

Tercatat, wabah di Guangzhou, Cina terjadi di sebuah restoran tanpa jendela dan ventilasi yang buruk, serta pendingin ruangan telah meniupkan tetesan di antara meja.

Sementara tingkat risiko, tergantung pada seberapa baik restoran telah beradaptasi untuk pandemi COVID-19. Selanjutnya, restoran harus mengurangi dan menyediakan tempat duduk, membutuhkan server untuk memakai masker dan menawarkan akses mudah ke ruang cuci tangan. Mereka juga harus menyediakan opsi sekali pakai untuk bumbu di atas meja sehingga Anda tidak harus menyentuh sisa orang lain atau orang lain menyentuh sisa bumbu Anda.

Dr. Emily Landon menyarankan, jika Anda pergi ke restoran, carilah tempat duduk di luar ruangan serta jangan melepas masker di dekat sekelompok orang.

3. Beribadah di Dalam Ruangan - Risiko Tinggi

Prosesi Ibadah di Gereja Ternyata Berisiko Cukup Tinggi - Foto Dustin Shum/South China Morning Post-Getty Images

Beribadah di masjid atau di gereja yang melibatkan banyak orang dan berkumpul di satu ruangan yang sama dalam waktu lama bepotensi menginfeksi dalam waktu singkat. Epidemiologist dari University of North Carolina di Chapel Hill, Kimberly Powers menjelaskan, 35 dari 92 orang yang beribadah di sebuah gereja pedesaan di Arkansas terinfeksi COVID-19.

Menurut dia, bernyanyi baik dari bangku gereja atau paduan suara, berisiko tinggi saling menularkan. Untuk menghindari risiko tertular, meskipun beribadah di gereja, disarankan untuk tetap mengenakan masker menghindari menyanyi.

Risiko turun akan turun gereja telah mempersilahkan jemaat mendaftar terlebih dahulu dalam upaya membatasi kehadiran hingga 25 orang saja dalam satu kali pertemuan. Peserta diharuskan sehat, memakai masker, dan duduk berjarak sedikitnya 1,5 meter.

4. Berwisata di Pantai Atau Kolam Renang Umum - Risiko Rendah Hingga Sedang

Berwisata di Pantai Ternyata Cukup Aman Bila Tetap Mengikuti Protokol Kesehatan - Foto Don Leach/Staff Photographer

Menurut para ahli, selama Anda bisa menjaga jarak secara sosial, kegiatan berwisata di pantai atau menghabiskan waktu di kolam renang umum, bisa menjadi aktivitas yang aman. Masalahnya adalah bahwa banyak pantai tiba-tiba ramai dalam waktu singkat ketika ada upaya melonggarkan karantina wilayah (lockdown). Ketika kasus COVID-19 kembali menanjak, beberapa negara bagian menutup kembali pantai mereka secara berkala. 

Air laut bukanlah risiko, mengingat volume air yang sangat banyak akan melarutkan virus, membuat air menjadi sumber infeksi yang sangat tidak mungkin. Hanya, seberapa dekat Anda dengan orang lain? Lalu, apakah Anda bisa memastikan bahwa Anda bisa menjaga jarak setidaknya 2 meter dari orang lain selain dengan keluarga sendiri. Hal itulah yang diwanti-wanti oleh Direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan Keamanan Kesehatan Global di Georgetown University Medical Center, Rebecca Katz.

Dia menyarankan agar berhati-hati di pintu masuk kamar ganti, herus terus berupaya untuk tetap menjaga jarak baik di darat maupun di dalam air. Dr. Emily Landon mengatakan, kekhawatiran terbesar ketika berada di kolam renang dan pantai adalah anak-anak. 

"Mereka berteman dengan semua orang. Jika Anda ingin dapat melihat nenek untuk makan siang hari Minggu, karena itulah yang sangat penting bagi keluargamu, maka kamu tidak ingin anak-anakmu berlarian dengan anak-anak orang lain."

Dr. Emily Landon juga menyebut, pantai lebih baik daripada kolam dalam ruangan. Ikuti pedoman kesehatan masyarakat di daerah Anda. Jika mereka mengatakan tidak apa-apa pergi ke pantai, pergi pagi atau sore hari, ketika orang tidak terlalu banyak beranjangsana di kedua lokasi itu.

5. Pernikahan Luar Ruangan dengan Lebih dari 10 Tamu - Risiko Sedang Hingga Tinggi

Meski Pesta Pernikahan di Luar Ruangan, Tetap Harus dengan Protokol Kesehatan - Foto Getty Images

Merayakan pernikahan biasanya kerap dilaksanakan pada musim panas. Hanya saja, undamgan datang dengan banyak risiko dalam kondisi pandemi seperti sekarang. 

"Di luar rumah mengurangi risiko, tetapi ketika orang-orang merayakan dan minum, sepertinya mereka mungkin melupakan jarak sosial. Jenis-jenis acara ini akhirnya menjadi kerumunan besar di mana orang-orang memiliki percakapan tatap muka yang panjang," kata Karan seorang dokter dari Harvard University. 

Menurut Karan, semakin banyak jumlah tamu, semakin besar potensi salah satu dari mereka terinfeksi COVID-19. Bahayanya sangat bervariasi tergantung pada ukuran pertemuan dan seberapa dekat orang berkumpul. Jika Anda mempertimbangkan untuk mengadakan perayaan, buatlah itu menjadi kecil dengan sebagian besar tamu lokal.

"Membawa orang dari komunitas lain sangat berisiko tinggi. Jika orang harus bepergian dengan mobil, dengan pesawat terbang, dari tempat lain, Anda benar-benar memintanya datang, maka berhati-hatilah," kata Dr. Emily Landon. 

Sebaiknya berpikir ulang untuk mengundang kerabat yang berusia tua atau mereka yang memiliki kondisi mendasar. "Orang mungkin merasakan tekanan untuk hadir, meskipun itu berbahaya bagi kesehatan mereka - dan bahkan lebih penting lagi jika Anda menekankan bahwa Anda akan berusaha membuatnya aman," kata Dr. Emily Landon. 

6. Menggunakan Toilet Umum - Risiko Rendah Hingga Sedang

Toilet Umum - Foto Jaegin Dong

Masih dalam tulisan ilmiahnya, Dr. Emily Landon berpendapat toilet telah dirancang untuk mencegah penularan penyakit. Menurut dia, ada banyak hal yang dapat Anda tangkap dari kotoran orang lain, dan Anda hampir tidak pernah melakukannya, karena mereka dipasang dengan semua permukaan keras yang dapat dibersihkan.

Janowski dari Washington University, risikonya tergantung pada jumlah kasus COVID-19 lokal dan seberapa bersih kamar mandinya. Menurut dia, belum ada data yang cukup untuk mengetahui apakah ada risiko flush toilet menghilangkan virus. 

Dr. Emily Landon mengatakan, virus lain, seperti norovirus, dapat aerosolisasi dengan pembilasan, tetapi norovirus tidak sering menyebar seperti itu selama kamar mandi dibersihkan. Dia juga menegaskan, tidak jelas apakah virus yang ditemukan dalam feses dapat menyebabkan COVID-19.

Selanjutnya Dr. Emily Landon mengatakan, risiko utama berasal dari toilet yang kecil, sibuk, dan berventilasi buruk - seperti toilet di pompa bensin dekat jalan raya di mana toiletnya berada di luar.

Pilih kamar mandi yang terlihat bersih dan penuh dengan persediaan seperti handuk kertas, sabun, dan kertas toilet. Hindari berbaris dalam antrean untuk menggunakan toilet atau tinggal lama di sana. 

"Jika Anda berada dalam jarak 6 kaki dari orang lain. Cuci tangan Anda setelah Anda pergi, dan gunakan pembersih tangan jika Anda perlu menyentuh permukaan apa pun setelah itu," tegasnya.

7. Membiarkan Teman Menggunakan Kamar Mandi Anda - Risiko Rendah

Kamar Mandi Pribadi - Foto gabordesignbuild

Dr. Emily Landon berpendapat, membiarkan teman menggunakan kamar mandi Anda memiliki risiko rendah terpapar COVID-19, mengingat apa yang terjadi di dalam kamar mandi akan dihisap keluar dari ventilasi kamar mandi dan Anda dapat membersihkan semua permukaan keras dengan sangat mudah.

"Anda dapat menyalakan kipas angin, biarkan pintu terbuka setelah (sehingga udara mengalir) dan bersihkan kamar mandi setelahnya. Dan jika Anda menggunakan kamar mandi setelah mereka melakukannya, cuci saja tangan Anda."

Mungkin teman Anda terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala. "Adalah masuk akal untuk mendekontaminasi kamar mandi setelah seorang teman menggunakannya, termasuk membersihkan permukaan pintu, toilet, dan wastafel yang sudah disentuh."

8. Pergi Berlibur bersama Keluarga Lain - Risiko Rendah

Berlibur Hanya dengan Keluarga Cukup Aman - Foto staysure.co.uk

Para ahli epidemiologi mengatakan, jika kedua keluarga telah mengkarantina diri dan membatasi hubungan dengan orang lain, ini cukup aman. "Jika satu keluarga sangat aktif atau orangtua memiliki pekerjaan paparan yang lebih tinggi, maka risikonya meningkat," kata Epidemiologist Miller.

Sementara Dr. Emily Landon berpikir, pengaturan ini bisa menjadi ide yang baik, terutama jika rumahnya di hutan di mana Anda tidak terlalu seri melakukan kontak dengan orang lain.

Dr. Emily Landon menyarankan untuk berbicara dengan keluarga lain sebelumnya untuk memastikan Anda memiliki harapan yang sama untuk tindakan pencegahan yang akan dilakukan setiap orang dalam dua minggu sebelum kedatangan dan saat Anda berada di sana. Pastikan bahwa tidak ada yang memiliki tanda-tanda penyakit - jika mereka melakukannya, mereka harus tinggal di rumah. Direkomendasikan untuk membersihkan permukaan utama di rumah pada saat kedatangan mereka. 

"Dan semakin banyak orang dapat mengurangi paparan di hari-hari menjelang perjalanan, semakin baik. Juga, periksa tingkat infeksi saat ini di daerah yang Anda tuju - jika tinggi, mungkin lebih baik untuk menunda pergi berlibur," saran Dr. Emily Landon.

9. Menginap di Hotel - Risiko Rendah Hingga Sedang

Menginap di Hotel - Foto istock 

Konsensusnya adalah bahwa menginap di hotel berisiko relatif rendah, terutama sekali Anda berada di kamar Anda. Sebaiknya batasi waktu Anda di area umum seperti lobi, gym, restoran, dan lift, di mana risiko paparan lebih tinggi.

Bawa tisu desinfektan untuk menghapus remote control TV dan permukaan umum lainnya. Anda mungkin juga ingin menghapus seprai karena mungkin tidak dibersihkan setelah digunakan oleh tamu sebelum Anda. Tanyakan tentang kebijakan pembersihan hotel, karena banyak yang memiliki protokol COVID-19 baru. 

"Waspadalah terhadap elevator! Gunakan jari kelingking atau jari manis untuk menekan tombol. Pesanlah layanan kamar dari pada harus makan di restoran, hindari ruang olahraga dan kenakan masker di ruang publik," kata Dr. William Miller.

10. Potong Rambut di Barber Shop - Risiko Sedang Hingga Tinggi

Potong Rambut di Barber Shop Masih Berisiko Tinggi Terpapar COVID-19 - Foto Bill Roth/ADN

Siapa yang menyangka bila pergi ke barber shop atau ke salon untuk potong rambut berisiko sedang hingga tinggi. Melakukan kontak sosial dan bernafas secara bersama-sama dengan petugas pemotong rambut selama beberapa menit, ini adalah mode utama penularan yang kita tahu akan terjadi. Dan masker kain jelas tidak sempurna untuk membendungnya.

Janowski mengatakan ini adalah salah satu skenario dengan risiko tertinggi dalam daftar ini, karena tidak ada cara untuk menjaga jarak dari seseorang yang memotong rambut Anda. "Yang diperlukan hanyalah satu pekerja tanpa gejala tetapi terinfeksi, dan tiba-tiba banyak pelanggan berisiko tinggi terhadap infeksi," katanya.

Sedangkan, Dr. Emily Landon percaya risikonya tidak terlalu tinggi jika Anda dan pemotong rambut Anda memakai masker dan jika COVID-19 tidak terlalu lazim di daerah Anda. Cari salon atau tempat pangkas rambut yang memiliki (dan memberlakukan) kebijakan untuk melindungi karyawannya, seperti mengenakan alat pelindung, dan sanitasi. 

"Dengan melindungi karyawan mereka, mereka juga melindungi Anda. Berhenti mengobrol dari jarak dekat seperti ini adalah sesuatu yang kita semua suka lakukan dengan tukang cukur kami secara normal. Ini bukan waktunya untuk itu."

11. Berbelanja di Mal - Risiko Bervariasi

Bila Masih Mengikuti Protokol Kesehatan, Berbelanja di Mal Bisa Aman - Foto Shutterstock

Seberapa besar risiko terpapar jika Anda berbelanja ke mal? Hal ini tergantung pada jenis mal yang Anda kunjungi, seberapa ramai, dan berapa banyak waktu yang Anda habiskan di sana. 

"Kerumunan dengan kepadatan tinggi menyebabkan peningkatan risiko yang substansial. Faktor mitigasi utama adalah bahwa orang tidak bergaul dalam satu tempat dalam waktu lama," jelas Dr. William Miller.

"Mal luar lebih disukai daripada mal dalam ruangan. Dan mal kosong lebih baik daripada mal yang penuh sesak. Hindari food court dan pergi dengan tujuan, bukan rekreasi," kata Dr. Emily Landon. 

Dr. Emily Landon juga menyarankan, sebanyak mungkin Anda suka terapi ritel, Anda harus menelusuri online sebelum pergi ke mal. "Ketahui apa yang akan Anda ambil atau coba. Kenakan masker Anda. Masuk, lihat itu. Ambil keputusan dan keluarlah," katanya.

Waspada saat Anda di sana untuk menghindari kontak dekat. "Pertahankan tempatmu. Cobalah untuk pergi pada jam sibuk. Bawalah pembersih tangan dan sering menggunakannya, terutama jika Anda menyentuh permukaan bersama seperti pegangan tangan atau tombol lift," kata Dr. William Miller.

12. Pergi ke Klub Malam - Risiko Tinggi

Ahli Epedemiologist Menyarankan untuk tidak Pergi ke Club Malam - Foto djandfriends.de

Ada konsensus di antara para ahli bahwa pergi ke klub malam adalah kegiatan yang sangat berisiko tinggi. Kerumunan, kontak yang sangat dekat, bernyanyi, berkeringat dan melonggarkan alkohol adalah faktor risiko yang kuat. Ketika minum, orang menjadi kurang patuh dengan aturan. 

"Mereka mungkin bernapas lebih berat dari tarian yang berarti lebih banyak virus ditumpahkan. Jika ada orang yang terinfeksi dalam campuran, virus dapat menyebar dengan mudah. Ini adalah situasi yang sangat berisiko untuk wabah, seperti yang kita lihat di Korea Selatan baru-baru ini. Jangan pergi ke bar atau klub sekarang," saran Dr. William Miller.

Tidak ada yang membuat ini ide yang bagus saat ini. Jika Anda ingin menari, mengadakan pesta dansa di rumah bersama orang-orang di lingkaran intim Anda. Jika itu adalah pertemuan luar ruangan kecil, menari di bawah bintang-bintang - menjaga jarak hingga dua meter - akan jauh lebih aman.

13. Pergi Berkemah - Risiko Rendah

Berkemah dengan Keluarga Masih Aman dari Wabah COVID-19 - Foto montclairdispatch.com

Direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan Keamanan Kesehatan Global di Georgetown University Medical Center, Rebecca Katz berpendapat, selama kegiatan musim panas, pergi berkemah merupakan kegiatan yang paling tidak berisiko dari sudut pandang virus. "Anda berada di luar ruangan dan terisolasi," katanya. 

Apa yang dikatakan Rebecca Katz disetujui oleh Miller. Namun dia mengatakan, jika Anda pergi dengan sebuah kelompok, pastikan Anda dapat mempercayai rekan berkemah Anda. "Apakah mereka menjauhkan sosial dan mengikuti pedoman? Jika tidak, mereka bisa menjadi penyebar virus tanpa gejala," kata Dr. William Miller.

Tentu saja, risiko dapat merayap masuk, tergantung pada rinciannya. "Apakah kamu berkemah di lokasi luar yang terisolasi bersama keluargamu?" tanya Rebecca Katz 

Menurut Rebecca Katz, ini adalah skenario berisiko rendah. Akan lebih berbahaya jika Anda berada di perkemahan yang penuh sesak dengan kamar kecil bersama dan area piknik bersama, katanya. "Tidur di tenda bersama-sama dengan orang lain (bukan dari rumah tangga Anda) tentu bisa menjadi pengaturan untuk transmisi," tambahnya.

14. Berolahraga di Luar Ruangan - Risiko Rendah

Tennis Merupakan Olahraga Paling Aman Selama Pandemi COVID-19 - Foto Tennis ball mgn

Kecuali jika Anda berolahraga kelompok, di luar rumah adalah cara yang baik untuk membakar lemak sambil tetap melakukan social distancing. Para ahli sepakat bahwa olahraga seperti golf dan tenis lebih aman daripada olahraga kontak seperti bola basket dan sepak bola. 

"Saya pribadi akan menghindari olahraga kontak sampai kami memiliki risiko penularan yang lebih baik di sini," kata Karan.

Semakin banyak orang yang terlibat dalam aktivitas, semakin tinggi risikonya. Adalah mungkin untuk menyebarkan virus ketika Anda berada dekat dengan orang lain - bahkan jika Anda tidak menunjukkan gejala - jadi lebih baik memakai masker jika Anda tidak bisa menjaga jarak secara sosial.

"Risikonya tergantung pada olahraganya. Permainan seperti bola basket itu rumit. Anda menyentuh bola dan Anda akan bernafas di wajah satu sama lain. Bermainlah hanya dengan orang-orang di rumahmu. Tenis membawa risiko yang jauh lebih rendah. Anda berjauhan di kedua sisi. Itu jarak sosial yang pasti," kata Dr. Emily Landon.