Isu reshuffle semakin kencang bertiup. Nama-nama kocong ulang menteri di kabinet neredar berantai via Whatsapp. Salah satu nama yang mendapat perhatian adalah nama Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhotono (AHY).

AHY jadi sorotan lantaran disebut bakal mengisi jabatan Menteri Koperasi dan UKM. Bagaimana respons DPP Partai Demokrat?

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekejend) DPP Partai Demokrat, Jansen Sitindaon mengaku tak tahu menahu terkait nama AHY masuk ke kebanet Indonesia Maju menjadi Menteri Koperasi dan UKM.

"Tidak tahu itu, soal beredarnya daftar-daftar nama itu ya. Tidak perlulah kita menanggapi hal-hal yang sumbernya tidak jelas ya," kata Jansen, Kamis (2/7/2020).

Jansen menegaskan, bagi Partai Demokrat soal reshuffle menjadi hak prerogatif Jokowi. Demokrat saat ini menurutnya lebih penting fokus kepada penanganan Covid-19.

"Reshuffle sepenuhnya kembali ke Presiden sajalah. Mau ada reshuffle atau tidak, penting bagi kami Demokrat penanganan soal Covid diseriusi oleh Pemerintah," tuturnya.

Untuk diketahui, pesan berantai WhatsApp berisi nama-nama menteri yang tetap bertahan serta yang digantikan dalam Kabinet Indonesia Maju, dengan mengandaikan ancaman Presiden Jokowi untuk melakukan reshuffle, beredar di kalangan wartawan, Kamis (2/7/2020).

Respons AHY

Nama AHY selalu muncul dalam isu kabinet Jokowi. Dalam sebuah perbincangan bertajuk "Menguak Sosok AHY (Agus Yudhoyono Exclusive)" di akun YouTube Deddy Corbuzier yang diunggah, Selasa (19/11/2019), AHY mengakui ada rasa kecewa di balik kegagalan itu.

"Jujur. Kan kita gak boleh bohong ini kan? Manusia boleh gak kecewa? Haruslah kecewa. Maksudnya terhadap sesuatu yang tidak diharapkan, terjadi tidak sesuai dengan yang Ia harapkan. Kecewa itu manusiawi. Sedih manusiawi. Marah manusiawi. Tapi yang paling penting bagaimana setelah itu kita bisa menghadapi itu dengan baik, begitu," ujarnya.

"Jadi kalau ada kekecewaan, iya, sedikit dan itu bukan dari saya pribadi. Dari misalnya dari Demokrat, dari masyarakat lainnya yang berharap AHY masuk dalam kabinet. Tapi saya anggap itu sesuatu yang wajar. Dan saya tidak menganggap itu sesuatu yang buruk," lanjut AHY.

Ia mengaku menghormati penuh hak prerogatif presiden. Jokowi, menurut AHY, telah menentukan pilihan terhadap sosok-sosok pembantu yang sudah dipilih Jokowi.

"Kita doakan sukses. Kita dukung kalau memang itu untuk rakyat. Kita kritisi kalau ada yang tidak berpihak pada rakyat. Kalau ada yang tidak baik untuk masa depan bangsa kita. Tapi kalau untuk masalah menteri, di luar pemerintahan, bagi saya sesuatu yang biasa. Kalau saya ingin jabatan saya tidak keluar dari TNI. Kalau pangkat mau saya kejar gitu. Saya tidak keluar dari TNI," ujar AHY.

"Memang ada harapan kalau kita masuk dalam pemerintahan itu kan kita bisa lebih mengaktualisasikan ini kitalah, gagasan kita dan sebagainya. Tetapi tidak ada sesuatu yang membuat saya menjadi kecewa berlebihan," lanjutnya.

Lebih lanjut, AHY juga mengajak kepada semua orang untuk tawakal apabila belum mendapatkan apa yang diinginkan. Sebab, setiap orang memiliki peran penting di masyarakat.

"Makanya saya tetap keliling ke berbagai daerah bro. Saya tetap datang ke kampus-kampus, saya tetap menyapa masyarakat, berkegiatan sosial, karena bagi saya it's matter of time. Kita itu kalau saatnya mendapatkan tugas itu ya kita harus siap, diri kita harus siap. Kita hanya bisa menyiapkan diri," lanjutnya