Politikus PDIP Arteria Dahlan meminta Kejaksaan Agung menyelidiki dugaan korupsi dalam investasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) untuk periode 2008-2016. Saat ini kejaksaan mengusut dugaan korupsi Jiwasraya pada rentang 2016 hingga 2018 dengan kerugian negara mencapai Rp 16,8 triliun.

"Saya tahu betul wewenangnya Jaksa Agung mengusut 2016, bagaimana yang di tahun 2008 - 2016 kenapa tidak diaudit? Kejaksaan bisa minta audit kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)," kata Arteria Dahlan di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (29/6).

Pernyataan Arteria ini berbekal keterangan yang diajukan terdakwa kasus korupsi Jiwasraya Komisaris PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro. Di dalam persidangan Benny Tjokro menyebut dugaan keterlibatan Bakrie Group dalam kasus yang merugikan negara Rp 16,8 triliun.

Anggota Komisi III itu menilai keterangan Benny Tjokro di persidangan seharusnya dianggap serius karena terdapat sanksi bila memberikan keterangan palsu di persidangan.

"Saya rasa keterangannya perlu ditindaklanjuti karena kesaksian palsu pidana sembilan tahun tidak mungkin dia main-main," kata Arteria.

Di persidangan Benny Tjokro menyatakan dirinya menjadi kambing hitam. Pada 2006, dia menyebut Grup Bakrie yang mengelola dana investasi Jiwasraya. 

"Yang bolong tahun 2006 menurut anda siapa? Bakrie jelas-jelas,' kata Bentjok.

Sementara itu, Jaksa Agung RI ST Burhanuddin menjelaskan, kejaksaan sedang dalam proses penyidikan yang mendalam mengenai keterlibatan 13 perusahaan manajamen investasi dalam kasus korupsi Jiwasraya.

Burhanuddin hanya menyebutkan praktik dugaan korupsi perusahaan asuransi berperlat merah itu tidak akan terjadi jika Otoritasa Jasa Keuangan (OJK) selaku pengawas dapat menjalankan fungsinya dengan baik sesuai ketentuan yang berlaku.

"Kemudian untuk soal kasus PT Asuransi Jiwasraya mungkin nanti akan ada pendalaman dan soal perusahaan manajemen investasi ini juga akan diperdalam," kata dia.