Keputusan Presiden Joko Widodo kembali menaikan iuran BPJS Kesehatan tidak dipungkiri memberatkan rakyat. Terbukti, jutaan peserta memilih untuk turun kelas.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengakui adanya penurunan kelas terjadi pada Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri. Jumlah peserta yang turun kelas ini tercatat selama periode Desember 2019 hingga Mei 2020.

Meski begitu, jumlah penurunan peserta tersebut menurutnya tidak sebesar yang kerap diberitakan. Walaupun, jumlah persentase penurunan kelas PBPU lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun lalu.

"Merujuk dari data yang kami dapatkan bahwa tren peserta turun kelas sekitar 7,54%. Tidak seperti yang diberitakan bisa sampai 50%,” ujar Fachmi saat rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI dilansir Jumat (12/6/2020).

Dijelaskan, tren penurunan kelas peserta tersebut diakibatkan oleh kenaikan tarif iuran pada 1 Juli mendatang, sesuai dengan aturan yang terdapat dalam Perpres Nomor 64 tahun 2020. Adapun dalam paparannya Fachmi menjelaskan, jumlah peserta PBPU per Mei 2020 terdapat 30,68 juta peserta. Dengan tren penurunan sebesar 7,54% maka hingga akhir tahun terdapat 2,3 juta peserta yang berpotensi turun kelas baik dari kelas I menjadi kelas II, ataupun dari kelas II menjadi kelas III.

Proyeksi penurunan tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan realisasi peserta mandiri yang turun kelas hingga akhir 2019 yang sebesar 3,41% atau 1,03 juta orang dari total jumlah peserta mandiri yang mencapai 30,34 juta orang. Adapun realisasi hingga akhir Mei 2020, sebanyak sebanyak 40.350 peserta mandiri sudah turun kelas.